November 13, 2014

Bukan Lagi Hutan yang Ditemukan di Kalimantan

Surabaya, CocoNotes - Seorang transmigran dari Jawa yang sudah menetap di Kalimantan Timur menyatakan bahwa hutan di Kalimantan sudah bukan seperti waktu pertama kali beliau tiba di sana. Hutan di Kalimantan kini sudah berubah menjadi lautan tambang batu bara yang setiap saat mengepulkan asap. 
Bukan hutan hijau rimbun dengan aroma nuansa hutan dengan bunyi-bunyian khas hutan. (Ih, ingat saat naik kereta gantung di Genting Highland, saat melintasi kabut dan hutan perawan, nuansa dan aroma khas hutan dengan suara-suaranya yang hmmm ...).
Pic. by. Nur Maulida, Pasuruan, 26/10/2014
Dan, kehidupan transmigran ini pun masih jauh dari kelayakan jika dibandingkan dengan kehidupan saudara-saudaranya yang tetap tinggal di Jawa. Bukan bermaksud Sara, tetapi begitulah kenyataannya. Niat mulia 30 tahun yang lalu memboyong isteri untuk turut program transmigrasi ke Kalimantan, tidak mudah untuk mewujudkannya. Bahkan rumah yang saat ini ditempati pun masih jauh dari layak.
"Ah, yang makmur tetap orang dari Jakarta," begitu selalu ungkapan beliau yang tiba di Surabaya bulan November 2014. 
"Hutan Soeharto pun kini tinggal jarang-jarang pepohonannya. Jauh dari waktu itu ...," padangannya pun menerawang. 
"Memang jauh. Sekarang lahan di Kalimantan telah banyak dijadikan ladang. Ladang batubara. Dan, semua itu untuk orang Jakarta yang menikmatinya. Orang asli Kalimantan hanya menjadi penonton saja," ungkapnya lagi. 
Dari tadi dia terus mengatakan bahwa orang Jakarta yang menikmati kekayaan alam di Kalimantan. Hmmm ... Kalimantan memang kaya dan luas. Emas, intan, serta beragam logam dan mineral di dalamnya menggoda pihak asing untuk menikmatinya. 
Dengan investasi yang tidak terlalu besar, --jika dibandingkan dengan nilai sumberdaya alam tersebut--, mereka bisa masuk dan menerobos hingga ke inti bumi Kalimantan. Dan, asap pun bertebaran, bersamaan dengan dikeruknya bongkahan-bongkahan 'tanah' yang diekspor ke negara asal untuk diolah dan disarikan kandungan logam mulia dan kandungan mineral lainnya. 
Terlebih, teknologi penyaring atau pemisah logam yang dimiliki oleh anak negeri belum secanggih milik pihak asing. Sementara alih teknologi belum sampai tercapai, lembar-lembar rupiah sudah mampu menutup nurani, naluri dan nalar. 

Ya, lahan di Kalimantan memang mulai banyak yang berlubang dan berasap. Bahkan, seorang teman dari Pangkalanbun pun mengeluhkan asap yang mengganggu Kalimantan akhir-akhir ini. La iyalah, secara gitu lo. Dia kan baru setahunan juga balik kampuang, setelah sekolah dan menikah di Surabaya. 

Dan, sekarang pintu-pintu masuk ke lahan dan pulau-pulau cantik menawan di negeri ini sedang dibuka. Untuk mengalirkan keran investasi, untuk membuat wajah ibu pertiwi semakin bopeng dan merintih perih oleh asap-asap teknologi .... Investasi berjangka pendek, yang tidak sebanding dengan nilai setiap jengkal luka ibu pertiwi.

2 komentar:

Pengobatan Herbal Demam Tifoid said...

itulah serakahnya manusia, dia hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tanpa memikirkan alam sekitarnya,,mirirs

Cara Mengobati Migren Secara Herbal said...

seharusnya manusia jangan terlalu serahkan dalam memanpaatkan alamnya

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates