October 23, 2012

Pernahkan Anda Menerima SMS Seperti Ini?

Transfer ke BRI aja no.Rek: 1229-0100-1111-538 a/n. OKY FULAN JAYA (Pengirim: 082324818201)
Ditransfer saja ke BRI a/n YENI MAYASARI No.Rek: 563-5010-0226-9501, klu sdh sms dino ini. nomor yg 1 tdk aktif.terimakasih (Pengirim: 085353967745). 
Pi, ini nmrku skrg isikan dlu pls AS, 100 di nmr ini 0812330101250 ya pi,skrng pentg! (Pengirim: 082330450297)
Pernahkan Anda menerima SMS seperti kutipan di atas? SMS-SMS tersebut adalah SMS yang masuk ke nomor Hp saya, dan masih ada beberapa, termasuk yang mengabarkan bahwa rumah yang kami tempati sudah laku, sudah ada yang sewa, sudah mau habis masa sewanya, dan sebagainya. Bahkan ada yang pagi-pagi dinihari membuat kami terkejut, karena SMS nya mengabarkan bahwa ada saudara yang akan operasi di rumah sakit esok paginya. 
Pernah waktu itu bersamaan saya menerima dua SMS yang menginformasikan dua nomor rekening yang berbeda. Yang satu berasal dari orang yang saya kenal dan tengah berada di Cilacap, tetapi sudah ganti nomor di mana nomor rekening yang digunakan adalah nomor rekening kakaknya, tentu saya tidak mengenal nama kakaknya. Tidak lema kemudian, saya mendapat SMS lagi dengan nomor yang berbeda dan menyatakan juga untuk mentransfer ke nomor rekening yang berbeda lagi, dengan bank yang sama. Saat itu, saya langsung berpikir bahwa itu adalah SMS dari orang yang sama. Alhamdulillah, saat itu saya mendapat SMS konfirmasi apakah saya sudah transfer atau belum, dan pada saat itu juga saya konfirmasi mengenai nomor rekening yang harus saya tuju.
Yupps..... memang tindak kejahatan dewasa ini makin beragam saja bentuk dan caranya aka modus operandinya. Seiring dengan semakin meningkatnya pengetahuan manusia dan didukung oleh perkembangan teknologi, tindak kriminal juga ikut mengimbangi dengan variasi modus operandi, lokasi, dan waktu yang dipilih oleh pelaku. Dengan semakin meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, pelaku kriminal juga dilakukan dengan cara yang lebih intelek, di mana tindak kejahatan bisa dilakukan oleh pelaku tanpa harus bertemu dengan korban kapan saja dan di mana saja. Sebagai contoh adalah jenis kejahatan berupa penipuan melalui Short Messaging Service (SMS) yang dewasa ini makin marak, penjualan fiktif melalui internet yang mengharuskan korban melakukan transfer pembayaran ke rekening penjual fiktif, dan penyalahgunaan kartu kredit. 
Penipuan lewat SMS dengan modus operandi yang baru dilakukan dengan memerintahkan penerima SMS untuk mentransfer uang ke rekening yang tertera di SMS, baik permintaan transfer maupun penawaran kredit tanpa agunan (KTA). Modus operandi kedua jenis kejahatan tersebut adalah mengelabui masyarakat untuk melakukan transfer uang ke rekening tertentu dengan menggunakan identitas palsu. Penggunaan rekening dengan identitas palsu ini bisa dilakukan oleh pelaku, karena mudahnya penggunaan identitas palsu dalam membuka rekening di bank. Berkaitan dengan penyalahgunaan kartu kredit maka modus operandi yang digunakan adalah melalui pencurian identitas dan pemalsuan kartu. Bank Indonesia (BI) mengatakan fraud (kekacauan) di perbankan khusus kartu kredit mencapai 2.741 kasus dengan nilai kerugian mencapai Rp11,78 miliar dari Januari sampai April 2011. Bank sentral mencatat fraud dari pencurian identitas tercatat sebanyak 1.204 kasus dengan kerugian Rp5,963 miliar. Sedangkan terbanyak kedua adalah fraud kartu kredit terjadi akibat adanya pemalsuan kartu yang mencapai 545 kasus dengan kerugian Rp 2,530 miliar (“Kuartal I, Fraud Kartu Kredit Capai 2.741 Kasus, Okezone.com, 8 Juni 2011). 
Berdasarkan uraian di atas bisa dilihat bahwa pelaku tindak kejahatan perbankan mengalami perkembangan modus operandi seiring dengan semakin meningkatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, lemahnya pengendalian internal dan pengawasan perbankan, dan gaya hidup masyarakat. Pelaku kejahatan memanfaatkan peluang yang ada di sekitarnya untuk melakukan aksi kejahatannya. Sebagaimana yang dilakukan oleh oknum perbankan yang menggunakan wewenangnya untuk melakukan tindak kejahatan. Artinya ada peluang bagi pelaku untuk melakukan tindak kejahatan perbankan. Dengan demikian, meskipun telah ada peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang mengatur tentang pelanggaran dan kejahatan perbankan berikut sanksi yang dikenakan bagi pelaku, tetapi ketika masih ada peluang bagi pelaku tindak kejahatan, maka perilaku kejahatan tersebut masih muncul dalam diri pelaku. Kenyataan terkait dengan perilaku kejahatan tersebut sebagaimana disebutkan oleh Wilcox dan Cullen (2010) bahwa terdapat teori-teori perilaku kejahatan, yang menunjukkan bahwa kejahatan tidak terjadi begitu saja, tetapi ada kondisi-kondisi yang menyebabkan pelaku melakukan suatu tindak kejahatan. Kondisi-kondisi tersebut diperkuat dengan adanya elemen kognisi dan kemampuan manusia untuk melakukan pembelajaran terhadap setiap kondisi tersebut, seperti adanya perilaku kejahatan dari orang lain, pengalaman tindak kejahatan, dan peluang dilakukannya tindak kejahatan. 

Ref: Wilcox, Pamela dan Francis T. Cullen. (2010). Encyclopedia of Criminological Theory, Volume 1. Thousand Oaks, California: SAGE Publications, Inc.

3 komentar:

MBS said...

Wah..kita kompakan gan..sama-sama nulis tentang penipuan HP

CocoNotes said...

Hehehehhh.... karena jenis penipuan ini memang lg marak .... satu hari bisa tiga empat kali SMS 'gadungan; masuk ke inbox ...

alhusna said...

SELAMAT ...!!!
SimCard anda M-dptkan Cek Tunai Rp.20JT dri TELKOMSEL Poin
U/Info Hub:PT.TELKOMSEL
021-4045-8399
021-4045-8164

(Pengirim: 082349306172)

tuh sms yg jg sering masuk ....

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates