September 20, 2012

Ilmu Kedokteran yang Humanis: Beradab dan Berbudaya

Ilmu kedokteran itu mahal, karena biaya kuliah kedokteran juga mahal (hasil wawancara saya dnegan dua mahasiswa kedokteran bilang kalau biaya masuknya sampai Rp. 150 juta, dan yang satunya bilang kalau sampai Rp. 180 juta.... la biaya lainnya??? kan mereka rata-rata perantauan dan penampilan mereka sekeren itu.... wiihh bikin saya geleng kepala). 
Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan dua anak dari Kalimantan yang kuliah di salah satu fakultas kedokteran, pada hari berikutnya saya bertemu lagi dengan dua mahasiswa kedokteran dari Kalimantan dan dari Madura. Pada pertemuan ketiga, saya bertemu lagi dengan mahasiswa kedokteran dari Madura dan Surabaya. Masalah mereka sama. Mereka kesulitan membuat laporan tugas akhir yang menjadi salah satu syarat kelulusan mereka, sehingga harus membayar Joki atau Ghost writer agar bisa segera  diwisuda dan menyandang gelar dokter. Masalah klise yang banyak dijumpai pada mahasiswa semester akhir.
Masalahnya adalah ketika mereka tidak lagi bisa atau bersedia 'menjinakkan' rasa tidak percaya diri untuk bisa mengatasi kesulitan yang menghadang, di mana sebagaimana mahasiswa lainnya juga, yang menyatakan kesulitan untuk mengatur waktu yang terlalu padat dengan penyusunan tugas, pencarian literatur, dan bahan riset serta bahan praktik lainnya, atau sikap dosen yang 'sekedar coret sana-coret sini, sehingga membuat mereka bingung hendak bertindak yang seperti apa lagi. 
Maaf, ironinya, kenyataannya masih sempat juga mereka ke salon atau ke mall heeehehehh.... ..#hal serupa juga terjadi pada mahasiswa dari fakultas lain yang saat mengeluh betapa susahnya menyelesaikan tugas akhirnya, tapi masih sempatnya berlibur ke Singapura atau jalan-jalan ke luar kota.
Di sini saya tertarik dengan mahasiswa kedokteran, karena selama ini dalam perspektif saya, yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah, mahasiswa itu adalah manusia 'pilih an', gimana tidak? Mereka bisa diterima di perguruan tinggi, tentunya melalui proses penyaringan yang ketat, so at least, mereka adalah orang yang telah lulus dari ragam uji coba kompetensi fisik, sosial, dan emosionalnya. Bukankah memenangkan suatu persaingan ketat membutuhkan kekuatan fisik dan mental yang saling mendukung?
Dengan demikian, saat mereka harus mengorbankan integritas dan kejujurannya begitu mengalami kesulitan untuk memenuhi 'salah satu' persyaratan kelulusan, maka hal itu membuat saya harus semakin geleng-geleng kepala semakin keras hingga berderak dada ini. 
Selanjutnya, saat saya mendengar berita penculikan bayi di rumah sakit, atau terjadinya malpraktik di rumah sakit, atau masih rendahnya kinerja rumah sakit di Indonesia, saya terbayang keenam mahasiswa kedokteran tersebut. Karena sebelumnya saya juga bertemu dengan tiga mahasiswa kedokteran dari perguruan tinggi negeri ternama dan tersohor dengan masalah serupa # meski kasusnya tidak seberat yang enam ini#, dan dua orang mahasiswa kedokteran gigi..........
Meskipun sekali lagi, tentunya semua kasus itu tidak terlepas dari kepiawaian pihak manajemen rumah sakit, yang tentunya tidak harus seorang dokter kan.... tetapi  jika melihat kasus-kasus malpraktik di rumah sakit yang melibatkan seorang dokter, #dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya pada profesi dokter, dan #bukan dengan maksud 'gebyah uyah', setidaknya, pertemuan saya dengan para mahasiswa kedokteran tersebut membuat saya semakin terenyuh juga dengan dunia pendidikan di Indonesia.

Ilmu kedokteran yang dienyam di saat masih menempuh pendidikan, mungkin makin perlu ditambahsisipkan kurikulum dengan menu yang bergizi (yang tidak hanya banyak, enak, dan mengenyangkan, atau bahkan hanya membuat mereka terengah-engah karena kekenyangan atau capek mengunyah dan mencerna), sehingga para mahasiswa yang belajar akan menyerap humanisme kedokteran sebagaimana yang pernah diteladankan oleh Florence Nightingale. Sosok mahasiswa kedokteran adalah sosok yang humanis, pantang menyerah, dan menjunjung tinggi kejujuran dan integritas, sehingga kelak, saat benar-benar telah menjadi dokter, maka akan muncul sebagai dokter yang profesional, memiliki sensitivitas etika mulia, beradab, dan berbudaya.
Dan, sebagai orang awam, saya menunggu inovasi dalam dunia pendidikan ini, karena dari sanalah proses peradaban manusia dialirkan menuju muara yang luas di berbagai sektor kehidupan. Karena telah makin banyak orangtua yang mempercayakan anak-anaknya kepada lembaga pendidikan.

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates