August 12, 2012

Triangle Fraud Skripsi, Tesis, dan Disertasi

Miris dengan situasi pendidikan tingkat Perguruan Tinggi di Indonesia yang diwarnai dengan kehadiran ghost writer, joki, dan manipulator data penelitian. "budaya membaca  yang rendah dan budaya menulis yang lemah, serta budaya riset yang tidak terdukung"
Sejatinya, skripsi, tesis, dan disertasi adalah 'hanya' salah satu syarat kelulusan mahasiswa untuk mendapatkan gelar kesarjanaannya. Tapi, skripsi, tesis, dan disertasi tersebut justru menjadi momok yang menakutkan dan memberatkan bagi sebagian mahasiswa. Bagi mahasiswa strata 1, pembuatan skripsi seringkali menjadi momok yang menakutkan dan membuat mereka berkeringat dingin, akibat ditolak atau banyaknya revisi dari dosen yang kadang tidak dipahami oleh mahasiswa. Bahkan, maaf, kadang ada macam arogansi dari dosen, sehingga dosen seakan sedemikian rumitnya untuk ditemui. Seperti yang terjadi di salah satu PTS ternama di Surabaya, yang mahasiswanya harus nyanggong dosen hingga jam sembilan malam, atau mahasiswa yang harus menunggu dari pagi hinga siang, dan giliran pintu dosen terbuka, ternyata dosen keluar untuk makan siang. Ya, memang di sini mahasiswa bukan hanya diuji secara akademis, tapi juga secara mental. Tapi, apakah mahasiswa saat ini sekuat itu?
Dimulai dari proses pengajuan judul dan proposal yang relatif sulit, karena banyak mahasiswa yang lemah di dalam pemahaman jenis penelitian, metode penelitian, pendekatan penelitian, operasionalisasi variabel, penyusunan kalimat ilmiah, perumusan masalah, penetapan fenomena dan fakta, dan sebagainya, menjadikan penyusunan proposal dan model penelitian menyita waktu yang lama dan berat.
Apabila proposal penelitian telah disetujui, maka tantangan berikutnya adalah menyebar kuesioner bagi yang menggunakan metode survei dengan pendekatan kuantitatif, atau mengambil data ke lokasi penelitian  untuk melakukan observasi dan wawancara (bagi yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode case study), atau melakukan eksperimen jika tipe penelitiannya adalah eksperimental, baik quasi eksperimen maupun murni eksperimen. 
Proses pengumpulan data ini tidak selamanya berjalan mulus. 
Bagi yang menyebar kuesioner, selain tidak selamanya mendapatkan responden yang sesuai dengan kriteria sampel yang ditetapkan, juga tidak semua target sampel bersedia menjawab, atau dengan ogah-ogahan menisi dengan sekenanya. Hasilnya? banyak mahasiswa yang hanya mampu mengumpulkan data 10 orang responden, atau bagi yang mampu bertahan, mereka akan membutuhkan waktu sampai setegah bulan sampai satu bulan untuk memenuhi jumlah dan kriteria yang diharapkan. 
Bagi yang melakukan eksperimen juga demikian. Perlengkapan dan pemilihan metode, serta penetapan obyek eksperiman dan lokasi, dan juga proses eksperimen bukan merupakan hal mudah yang bisa dilalui. Bagi yang obyeknya manusia, maka pemilihan manusia yang sesuai dengan tujuan eksperiman membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Bagi yang obyeknya binatang atau bahan-bahan, maka memerlukan waktu perlakuan yang harus diamati dari periode ke periode dengan dukungan perlengkapan dan alat ukur yang memadai.
Sementara itu, bagi yang melakukan observasi dan wawancara maka tidak semua informan bersedia memberikan informasi mendalam terkait topik penelitian.
Selanjutnya, adalah bagian pengolahan hasil penelitian. 
Di sini tantangannya juga tidak mudah. Kebanyakan mahasiswa mengalami kesulitan dalam pengolahan statistik, pembahasan yang hanya di permukaan, sehingga hasilnya kurang mewakili tujuan penelitian. Parahnya, hasil penelitian survei tidak selamanya sebagaimana yang dihipotesiskan. Jika menghadapi masalah seperti ini, mahasiswa pun panik dan berkeringat dingin.Terutama jika dosen tidak memberikan dukungan yang 'membelai' tetapi malah 'menonjok' maka hal itu semakin membuat mahasiswa akan gemetar. #Weee lah apalagi mahasiswa strata 1, la wong yang strata 3 saja gemetaran, saat proposalnya harus menambah atau mengurangi variabel yang diajukan :(
Tantangan dan proses-proses di atas sebenarnya jika dilalui dengan baik bisa merupakan wahana pematangan mahasiswa, karena tidak selamanya kehidupan di lapangan semulus seperti yang diharapkan. Sayangnya, apakah mahasiswa di Indonesia sekuat itu? Pada akhirnya, tantangan tersebut melahirkan Triangle Fraud yang melingkar-lingkar. Mahasiswa lari ke joki, ghost writer, dan bahkan manipulator data penelitian. Para joki, ghost writer, dan manipulator data menjadikan hal itu sebagai peluang bisnis, dan mahasiswa menjadikannya sebagai peluang untuk menggunakan jasa 'konsultan' tersebut, sedangkan sistem pendidikan tidak juga menyadari bagaimana membina jiwa dan mental mahasiswa agar menjadi kuat dan mampu menghadapi tantangan.
Seorang mahasiswi yang melakukan penelitian dengan mengambil obyek penelitian fiktif, karena dia diharuskan meneliti di lokasi usaha yang memang didirikan sebagai salah satu wujud mata kuliah entrepreneurship, padahal lokasi usahanya tersebut bangkrut dalam jangka sebulan. Si mahasiswa dan temannya tidak mungkin mengulang mendirikan bisnis tersebut, karena pendirian bisnis tersebut telah menghabiskan sekitar 16 juta untuk modal awal. Akhirnya, dengan bisnis yang telah bangkrut tersebut, si mahasiswa menjadikannya sebagai obyek penelitian, dengan metode survei pelanggan. Akhirnya pelanggannya juga fiktif, dan data yang digunakan juga data fiktif (membayar manipulator data).

Seorang mahasiswa yang menggunakan metode kualitatif mengalami kesulitan untuk mewawancarai informan penelitian, akhirnya harus menyerahkan kepada ghost writer untuk mengarang indah penelitiannya.

Seorang mahasiswa yang melakukan eksperimen dan ternyata hasil eksperimennya tidak sesuai dengan harapan, mengubah data hasil penelitian dan merusak hasil eksperimennya sendiri. Jika upaya ini tidakmampu dilakukannya maka pada akhirnya akan lari ke manipulator data.
Hal itu bukan semata dipraktikkan oleh mahasiswa strata 1. Bagi yang strata 2 dan strata 3, umumnya menggunakan alasan klise yang menyebabkan mereka memilih penggunaan jasa ghost writer, joki, dan manipulator data. Tidak ada waktu, sibuk dengan pekerjaan, dan tuntutan kerja yang mengharuskan mereka memiliki title atau gelar. 
So, apa sebenarnya solusinya? karena kehadiran joki, ghost writer, dan manipulator data tersebut makin marak. Hampir di seluruh bagian belahan di Indonesia memiliki mahasiswa yang memiliki perilaku seperti demikian adanya. Masih relevankah jika skripsi, tesis, dan disertasi dipaksakan untuk menjadi satu syarat kelulusan kesarjanaan jika prosesnya seperti itu? Karena intergitas dan kejujuran telah dipertaruhkan demi sebuah gelar yang akan mewarnai bagaimana perilaku mereka di tempat kerjanya kelak. Bagaimana jika mereka menjadi birokrat? bagaimana jika mereka menjadi pengusaha? maka akankah jalur-jalur cepat trabas pun akan menjadi pilihan demi segeranya terjapainya tujuan secara instan.

5 komentar:

renaldazwari said...

buat apa susah-susah bikin skripsi sendiri... sebab izajah bagai lampu kristal yang mewah... tinggal membeli tenang sajalah...
-Teman kawanku punya Teman - Iwan Fals-

makanya, kalo ngajuin judul yang tepat sasaran, bermanfaat, tapi mudah dilaksanakan... sering konsultasi, gak bakalan deh manipulasi-manipulasi...

coco nut said...

Iya, bagi mahasiswa pasti akan bilang 'ngapain reepot-repot, kan ada joki yang bisa mempermudah jalan mendapat gelar. Lebih cepat lulusnya, biaya, waktu, dan tenaga lebih bisa dihemat. Gengsi pun segera didapat. Ibaratnya, klo ada jalan tol, ngapain harus lewat jalur umum, maceet dan panas.

bagi penyedia jasa joki juga akan bilang, ngapain susah-susah buka bisnis yg ribet, jadi joki sj sudah jadi. order datang sendirii, modal sedikit otak encer dan laptop. tidak perlu ruang kantor khusus u mengerjakannya. hasilnya pun besar, satu paket desertasi bisa sampai 20 jt, untuk tesis bisa 5-10 jt, u paket skripsi 2,5 - 5 juta. Menggiurkan bukan?

Sementara, hukum terkait 'kecurangan' ini juga maasih belum pernah menjamahnya... krn hak cipta bisa dipindahtangankan ke pembeli hak cipta.
Sehingga semua masih melingkaar2 dalam segitiga fraud.

Anonymous said...

Menurut saya skripsi tetap penting sebagai salah satu syarat kelulusan. Alasan saya bisa dibaca di sini: http://nadyawijanarko.wordpress.com/2012/03/04/skripsipembodohan-3/ Bagi saya, tidak ada yang salah dengan skripsi, tesis, disertasi. Kalau kemudian ada efek samping, itu jangan kemudian skripsinya yang disalahkan, tetapi balik lagi ke sistem di lembaga pendidikannya. Dan pada akhirnya balik ke orangnya juga. Klise memang, tetapi di mana-mana benteng terakhir adalah moral. Pada akhirnya, kualitas seseorang tidak bisa dibohongi, karena kualitas yang baik lahir dari proses yang baik dan benar.

coco nut said...

@ Anonymous: tentu saja yang disalahkan bukan skripsi, tesis dan disertasinya, karena mereka-mereka hanya obyek yang dijalankan oleh subyek. Di sini, mahasiswa juga tidak bisa disalahkan, karena mereka hanya salah satu pelaku saja yang merupakan output dari sistem pendidikan baik pendidikan di rumah, sekolah, dan lingkungan. So, masalahnya ada di sistem pendidikannya yang mungkin harus mampu mengakomodir perkembangan karakter dan kemampuan mahasiswa, sistem yang mengajarkan integitas, kejujuran, ketangguhan. Karena sebenarnya output perguruan tinggi yang diharapkan adalah pribadi tangguh dengan kemampuan berpikir kritis dan peka terhadap peluang dan hambatan dari lingkungan sekitar, serta mampu menganalisis kekuatan dan kelemahannya, serta kepribadiannya, sehingga bisa mengatasi kelemahan dan menghadapi hambatan yang ada........di sini ada tulisan saya yang bisa dijadikan masukan juga : http://bloggoo.blogdetik.com/2012/09/14/belajar-berpikir-kreatif-solusi-tepat-menyelesaikan-masalah/

Anonymous said...

ngapain pakai joki padahal easy banget, ngerjain aja se ngaco mungkin, ntar juga dimarahin sama pembimbing terus langsung minta saran atau solusi, ikut aja sesuai solusinya, selesai. ga perlu mikir

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates