November 16, 2012

Ketika Indonesia 'Merasa' Kekurangan Doktor

penyandang gelar doktor Indonesia
Sumber gambar: tribeclaritylivin.com
Secara kuantitas, jika dibandingkan dengan negara berpenduduk besar lainnya, jumlah penyandang gelar Doktor di Indonesia masih sedikit.  Pada tahun 2011, penyandang gelar Doktor di Indonesia masih sebanyak 23.000 orang dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta jiwa. Jumlah tersebut jauh di bawah negara-negara yang berpenduduk besar lainnya seperti India, China, dan Amerika Serikat, di mana jumlah doktor di Amerika Serikat mencapai 3,1 juta orang dan India sebanyak 1,69 juta orang (Solopos). Pada tahun 2012, jumlah penyandang gelar doktor di Indonesia mencapai 25.000 orang dan tengah ditargetkan untuk mencapai 100.000 doktor pada tahun 2015 (Kompas). Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mencapai target tersebut adalah melalui pemberian beasiswa pendidikan pada mahasiswa setingkat S2 dan S3. 
Yupps, meskipun gelar doktor atau Ph.D merupakan gelar yang disandang oleh individu yang telah menyelesaikan program S3, namun upaya peningkatan gelar Doktor tersebut harus didukung dengan peningkatan penyandang gelar Magister dulu bukan? Maka dari itu, program beasiswa pun disampaikan juga kepada mahasiswa S2, untuk mempercepat peningkatan jumlah penyandang gelar doktor di Indonesia. Nah, seberapa penting sih peningkatan jumlah penyandang gelar doktor di Indonesia? Penyandang gelar ini merupakan individu yang mampu mendukung riset yang menghasilkan banyak jurnal ilmiah dan paten, sehingga akan menghasilkan inovasi yang bisa mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan dunia industri dan berbagai bidang lain. Selain itu, menurut Musliar Kasim, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Republik Indonesia, bertambahnya jumlah doktor di perguruan tinggi menjadi salah satu parameter kredibilitas lembaga pendidikan tinggi (Serambinews). Dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka proses pembangunan bisa dilakukan dengan baik yang akan mendorong Indonesia untuk berkembang dan maju di tingkat internasional.
Memang sih, di tingkat internasional, nilai Indeks Pengembangan Sumberdaya Manusia (Human Developmen Indices – HDI) negara Indonesia masih tergolong rendah. Pada tahun 2011, nilai HDI Indonesia masih berada pada kategori medium, yaitu sebesar 0,617, yang mendapatkan posisi pada peringkat 124 dari 187 negara. Peringkat ini mengalami kenaikan satu peringkat jika dibandingkan tahun 2010 yang memperoleh peringkat 125 dari 187 negara (United Nation Development Programe, 2011. Indonesia: HDI Values and Rank Changes in the 2011 Human Development Report). Pastinya, posisi ini jauh di bawah negara-negara lain termasuk China dan Thailand.
Nah, sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya tersebut, maka Indonesia pun menggenjot peningkatan jumlah doktor di Indonesia. Dengan asumsi bahwa makin banyak penyandang gelar doktor, maka makin banyak pula individu yang memiliki kompetensi keilmuannya untuk menghasilkan inovasi dan kreatvitas yang membangun, sehingga pemberdayaan sumberdaya alam lebih eksploratif aktif dan konstruktif. Dengan tanpa mengabaikan pemberian beasiswa kepada para mahasiswa S2 dan S3, yang notabene adalah para pemegang jabatan tertentu di instansi pemerintahan maupun para staf di lembaga tertentu, adakah beasiswa ini menjadi efektif dan benar-benar mampu menghasilkan penyandang gelar doktor yang mumpuni, kreatif, dan inoatif, serta konstruktif aktif? Karena dengan beban pekerjaan yang harus ditangani di kantor, calon penyandang gelar magister dan doktor ini juga dituntut untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah dengan materi yang tidak ringan, mulai dari pemahamn teori, konsep, dan menyusun interdependensi antar teori dan konsep, serta aplikasinya di lingkungan nyata.
Saya jadi teringat dengan beberapa calon Magister dan Calon Doktor yang tugas-tugas kuliahnya dikerjakan oleh Joki Tugas, semenjak awal pendaftaran kuliah sampai penyusunan tesis dan disertasinya. Mulai penemuan ide terkait tesis dan disertasinya, penggalian konsep, penggalian tinjauan literatur, penentuan metode, pengembangan teori, hingga penyusunan laporan tesis dan disertasi telah diserahkan kepada Joki Tugas dengan imbal jasa sampai puluhan juta rupiah.
Apa alasan mereka? kesibukan kerja, pertambahan usia, kesulitan penemuan ide, menderita penyakit tertentu karena sudah tua sehingga tidak mampu berpikir lebih keras dan bekerja di bawah tekanan.......
Nah, lantas apatah sudah ada evaluasi dari pemerintah mengenai kemungkinan kurang efektifnya pemberian beasiswa pendidikan tersebut dan kurang bermaknanya penambahan jumlah doktor di Indonesia untuk menghasilkan pribadi-pribadi yang inovatif, kreatif dengan kemampuan eksploratif aktif yang konstruktif....

1 komentar:

Anonymous said...

Saya membacakan buku, jurnal, artikel untuk seorang calon doktor di Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya. Sejak awal masuk saya juga yang membuatkan makalan pengajuan kekandidatdoktorannya, hingga tugas-tugas kuliahnya, karena dia harus bekerja dan seringkali harus melakukan perjalanan Jakarta, Bali, Surabaya. Memang sih, tesisnya dulu dikerjakan oleh joki tugas. Saya sendiri miris dna tidak setuju, tetapi itu kan peluang bagi saya untuk mendapatkan sesuap nasi.

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates