Beli Roti atau Beli Apartemen Bos? Rame Banget

Surabaya, CocoNotes - Padatnya pengunjung event pemilihan unit Westown View yang diselenggarakan di Grand City Ballroom Level 4 dan Diamond...

Rental Surabaya
Showing posts with label Presiden. Show all posts
Showing posts with label Presiden. Show all posts

March 23, 2015

Ada Wanita Di Balik Wibawa

Surabaya, CocoNotes - Seperti sebuah fiksi, tetapi ini bukan fiksi. Ada wanita di balik wibawa. Ada wanita di balik setiap kejadian. Ada wanita di balik kebesaran seorang pria. Wanita memang ada di baliknya, bukan di depan. Karena jika wanita berada di depan, yang kelihatan menonjol bukan dada dan kewibawaannya, tetapi buah feminitas dan daya pesona sensasi yang menggoda. 

Tidak heran, jika dalam beberapa skenario pelemahan sebuah lembaga pun, kerap menggunakan wanita di baliknya. 

Namun demikian, jangan pernah meremehkan wanita. Meskipun, dia hanya ada di balik batu dan di balik dada perkasa pria, tetapi daya geraknya sungguh luar biasa. Dada-dada perkasa dan wajah-wajah pria penuh wibawa bisa disokong oleh daya aura pesona wanita. Bahkan pula bisa dihancurkannya. 

Lihat saja para pemimpin negara kita, peran ibu bangsa sangat lekat dengan daya gerak, daya juang, dan daya wibawanya. Ibu Fatmawati tidak akan lepas dari sosok presiden Soekarno. Ibu Tien Soeharto yang beraura kuat dan keibuan, selalu lekat dalam setiap gerak presiden Soeharto. Ibu Ainun Habibie dengan cinta kasihnya menyokong presiden BJ Habiebi dan lekat dengan nama beliau. Ibu Shinta Nuriyah yang memiliki daya gerak dan daya dorong bagi Presiden Abdurrahman Wahid. 
Ataupun bahkan Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono yang beraura kuat menopang keperkasaan dan kewibawaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyonno. 

Demikian pula dengan Ibu-ibu bangsa dari negara lainnya. Ya, sebut saja Michelle Obama, atau bahkan Kate Middleton dan Putri Diana (Lady Di) yang sedemikian kuat auranya dalam memberi warna dalam kehidupan para lelaki mereka. 

Sangat terlihat bukan, betapa wanita adalah penggerak dan penguat aura para lelaki berwibawa, para lelaki penguasa .... 
Dan, yang pasti, para lelaki itu juga dilahirkan dari rahim seorang wanita .... 
Jadi, jika ada pemimpin yang 'mendelep' bisa jadi memang peran dan aura ibu bangsanya yang sedang surem.

Karena itu, mari tegak kokohkan wanita, bukan melemahkannya, tetapi memuliakannya. Agar menjadi ibu-ibu bangsa yang memperkuat ghiroh kebaikan dan kewibawaan ....






Gambar: All dari google image

February 9, 2015

Nama Panggilan Yang Terhormat Bapak Presiden

Surabaya, CocoNotes - (Selingan) ... Beberapa hari yang lalu, terpatnya hari Minggu, 1 Februari, kedua orangtuaku berkunjung ke rumah kami. Seperti biasa, beliau-beliau akan banyak bercerita tentang hal apa saja, mulai tetangga di desa, ladang, dan pastinya juga tentang cucu-cucu yang sudah selusinan itu. 
Nah, saya yang kebetulan belum tahu nama putri kecil si bungsu, nyeletuk bertanya, "siapa namanya?". 
Beliau pun menyebutkan dengan lengkap nama sang cucu. Dan, ditambahkan pula bagaimana memanggil sang cucu. Ternyata, si bungsu bilang, "Tapi jangan memanggil si kecil dengan potongan namanya ya, memanggilnya harus lengkap, satu kata nama depan atau nama belakang," 
Kata beliau-beliau, "ada-ada saja ulah si bungsu itu,". 

Tetapi, seperti biasa, beliau-beliau adalah orangtua yang bijak dalam bersikap. Saya pun mencoba membuat sebuah penjelasan, bahwa memang kalau sebuah kata di panggil dengan potongan suku katanya, maka akan mempengaruhi arti dari nama yang merupakan doa dan harapan dari orangtua. 
Nah, ternyata ... Jreng jreng jreng ... Setelah percakapan itu, media mengabarkan berita mengenai panggilan nama pak presiden. Uhuy ... Melalui surat resmi kenegaraan, diumumkanlah bagaimana harus menyebut nama Bapak Presiden yang terhormat. Dan, jadilah lagi sebuah kisah telenovela di jajaran telenovela kementerian dan perkabinetan negeri ini. Yang ditayangkan secara striping sejak sebelum pelantikan, saat pelantikan, hingga pasca pelantikan ... Di mana, kini ... setting telenovela itu merambah ke lokasi regional di seluruh nusantara ....

October 28, 2014

Merokok dan Menteri Bertato: Sebuah Revolusi Mental di Indonesia

Revolusi Mental (Pic. by @mom_of_five, 26 Oktober 2014, Pasuruan)
Surabaya, CocoNotes - Begitu kabinet presiden Republik Indonesia ke tujuh diumumkan. Hebohlah kembali media dengan ragam pemberitaan pro dan kontra atas perilaku para menteri. Ada menteri yang hanya berijazah SMP karena harus drop out sekolah saat kelas dua SMA. Ada pula menteri wanita bertato dan perokok. Ada pula menteri yang merokok sembarangan. 

Overall, semua okeh-okeh saja. Karena yang penting kan kinerjanya. 
Hanya saja, sebagai warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi budaya ketimuran, yang meskipun bagi sebagian orang dianggap tidak moderen, puritan, dan terbelakang, seyogyanya sajalah menjaga etika dan kearifan lokal untuk menaati anjuran pemerintah agar tidak merokok sembarangan. 

Ah, anjuran pemerintah? 
Pemerintah yang mana ya? 
Yupps ... Mungkin memang di sini lah revolusi mental tengah dimulai. Pada masa pemerintahan sebelum-sebelumnya, penggalakan budaya untuk tidak merokok sembarangan memang tengah digencarkan, karena merokok dianggap mengganggu kesehatan diri sebagai perokok aktif dan bagi orang di sekitarnya sebagai perokok pasif. 
Bahkan pada bungkus rokok sampai harus diberi gambar orang yang terkena kanker paru, tenggorokan, untuk mengingatkan pembeli rokok betapa berbahayanya merokok. Bahkan lagi, iklan layanan masyarakat terkait anjuran untuk tidak merokok pun masih gencar beredar di media-media dengan tagline 'merokok membunuhmu'. 

Nah,sebagai iklan layanan masyarakat, pastinya juga ada persetujuan dalam program kementerian kesehatan pada pemerintahan yang lalu. Yang, sekarang disebut sebagai sebuah 'antitesa' karena merokok tidak berhubungan dengan kinerja menteri. Bukankah mereka menggunakan uang mereka sendiri untuk membeli rokok, yang terkena bahaya rokok juga tubuh mereka sendiri. (Kalau yang ini penulis jadi teringat dengan kisah pelanggan Indonesia yang makan di restaurant Jerman, yang harus terbelalak ketika ada perbedaan prinsip tentang penggunaan sumberdaya, Linknya di Sini ya). 

Terlebih, merokok bagi perempuan juga sudah dari dulu ada di Indonesia. Ingat legenda sang putri Roro Mendut? Yups, putri cantik penjual rokok itu pun merokok bukan? Dan, karena merokoknya itu pula, dagangannya laris manis. Demikian pula dengan penggunaan tato, karena toh, banyak pejabat dan artis serta kelompok masyarakat yang bergaya hidup hedonis yang bertato. Mulai dari bibirnya, alisnya, sampai hidungnya. Bleh .... 
So, merokok dan bertato memang bukan masalah bagi seorang menteri. Karena mungkin di situlah program Revolusi Mental yang digagas presiden Republik Indonesia ke tujuh tengan mulai dijalankan. 
Hanya saja, sekali lagi hanya saja, mungkin harus tahu tempat dan etika saja. Karena beliau-beliau masih tinggal di Indonesia. Dan, ada keragaman adat, tradisi, budaya lokal yang masih perlu dihargai dan dihormati. Meskipun, mungkin bagi beliau-beliau adat, tradisi, dan budaya lokal tersebut masih puritan dan terbelakang, tetapi ada banyak pelajaran yang berhubungan dengan bagaimana hidup dengan tetap menghargai alam dan lingkungan sekitar. 

Merokok sembarangan dan apalagi membuang puntung rokok sembarangan menjadi tidak etis dan bahkan menimbulkan bahaya dalam kelalaian. Asap rokoknya juga akan berdampak buruk bagi orang di sekitarnya yang tidak tahan asap rokok bukan? 

So, mungkin memang harus tetap belajar dan belajar menghargai orang lain dan alam lingkungan, meski sudah menjadi menteri. Belajar dan terus belajar untuk tetap beradab dan berbudaya Indonesia. Budaya yang kaya raya dengan hikmah dan fatwa. Sampai-sampai para westeners pun terpikat dan jatuh cinta dengan bangsa Indonesia ..

October 25, 2014

Ini Hobiku, Apa Hobimu

Surabaya, CocoNotes - Setiap orang pasti memiliki aktivitas tertentu yang disukai. Ada yang suka merajut, ada yang suka memasak, ada yang suka jalan-jalan, suka blogging, dan sebagainya. Sesuatu aktivitas yang disukai untuk dilakukan dan itu bisa menyenangkan hati itulah yang disebut sebagai hobi. 
Dan, memelihara binatang pun merupakan salah satu hobi juga. Ada banyak orang yang sangat menikmati aktivitas memelihara binatang. Meskipun, memelihara binatang berarti harus berisiko. Mulai dari baunya, kotorannya, dan rumitnya perawatan memberi makan dan membersihkan tempatnya. 
Ragam binatang yang dipelihara juga bermacam-macam. Mulai memelihara ikan hias, memelihara kuda, kucing, anjing, burung, dan bahkan kupu-kupu atau juga ular. 
Hiii.... Kalau kupu-kupu terbayang juga itu kalau masih menjadi ulat-ulat. Terlebih ular yang melata dan menjalar-jalar ... Tetapi kalau sudah menjadi hobi, pastinya semua itu menjadi hal yang menyenangkan bagi penghobinya. 

Selentingan, presiden Republik Indonesia yang ketujuh juga punya hobi lo. Hobinya selain blusukan, juga memelihara binatang.
Apa itu binatangnya?
Ternyata, pak presiden Republik Indonesia yang senang blusukan dan merakyat itu suka memelihara kodok. 
Nah, apa yang terbayang dingan binatang kodok? 
Kodok itu binatang ampibi yang bisa hidup di dua alam. Sukanya makan serangga dengan lidahnya yang kesit menjulur-julur. Dia juga suka melompat-lompat ke sana ke mari. Dan, di malam hari, dia paling senang membuat kegaduhan. Atau juga, waktu musim hujan. 
Tung ... Tung ... Tung .... 

Nah, itu hobinya Bapak Presiden. Kalau hobimu apa?

Gambar pinjam dari kidzworld.com (Prince Frog) dan hdwp.net (Prince Tiana)

October 21, 2014

Colekan Sang Mantan Presiden

Surabaya, CocoNotes - Pada saat upacara pisah sambut Mantan Presiden Republik Indonesia ke enam Susilo Bambang Yudhoyono, terlihat jiwa pembimbing dan pengasuh dalam diri sang Mantan. Setelah sebelumnya sempat mengajak Jokowi jalan-jalan keliling istana untuk memperkenalkan Jokowi pada anggota istana berikut lingkungan Istana Negara, Mantan Presiden RI tersebut menyambut kedatangan Jokowi untuk selanjutnya meninggalkan Istana Merdeka. Romantisme senior dan junior sangat terlihat dalam pendampingan SBY terhadap Jokowi selama upacara pisah sambut di Istana Merdeka tersebut. 

Colekan punggung yang dilakukan SBY sebanyak dua kali kepada Jokowi menjadi pertunjukan yang sedikit menggelikan dalam upacara yang super resmi tersebut. Colekan SBY tersebut adalah wujud kepedulian senior ketika mengetahui ada kesalahan yang diperbuat oleh sang junior. Jarang-jarang juga seorang mantan yang mau mengingatkan dengan sedemikian rupa kepada penggantinya. Tetapi SBY dengan penuh pengertian, mencolek punggung Jokowi yang berjalan 'ndludur' saat inspeksi pasukan. 

Ya, seharusnya Jokowi memberi sambutan hormat pada barisan pasukan, tetapi Jokowi yang berjalan 'ndludur' di depan SBY tidak memberikan hormat kepada pasukan. Saat melihat adegan dalam siaran langsung di televisi tersebut, pastinya pemirsa akan menyadari kepedulian SBY kepada sang junior. Sementara ketika melihat Jokowi yang berjalan 'ndludur' saja bisa jadi pemirsa akan memberi arti yang berbeda-beda. Maklum, baru pertama kali menjadi presiden. Maklum, bukan orang militer. Dan ragam makna atas penanda dan petanda yang terlihat dari peristiwa tersebut. 

 Silakan juga dianalisa dengan menggunakan Semiotikanya Roland Barthes .....

May 28, 2014

Kerah-kerahan Massa Tim Sukses Calon Presiden aka Bolo-Bolo

pic. by Admin (Surabaya, 2014, Balai Pemuda, dalam Workshop SMK N 12 Surabaya)
Surabaya, CocoNotes - Media tengah ramai memberitakan pola perilaku tim sukses calon presiden (capres) sebagai upaya untuk memenangkan capres yang diusung para partai. Dalam upaya pemenangan capres tersebut, ada satu upaya yang sama yang dilakukan oleh masing-masing tim yaitu mengerahkan massanya masing-masing.

Itulah mengapa, beberapa media seringkali memuat judul 'Tim A siap kerahkan massa untuk Capres A'; 'Artis B kerahkan massa untuk menangkan Capres B', dan sebagainya. Sehingga saat membaca judul berita di twitter atau facebook media-media tersebut, kesannya menjadi lucu, karena masing-masing kelompok pendukung kerah-kerahan massa, banyak-banyakan massa. Istilah jawanya banyak-banyakan 'bolo'.

So, capres yang bakal menang dalam Pemilihan Presiden aka pilpres 2014 ini pastinya adalah capres yang merupakan produk dari pembentukan realitas media. Istilah primbonnya, capres yang mendapat pulung media. Karena, pembentukan realitas media lah yang mampu mengarahkan citra positif sang Capres dan Cawapresnya.

Andai ada calon presiden yang tidak memedulikan pencitraannya di media, dan calon presiden itu menang. Mungkin itulah pilihan obyektif rakyat, yang tidak dibumbui oleh embel-embel pencitraan. Istilahnya, sang presiden terpilih merupakan presiden yang dipilih karena mendapat pulung dari yang kuasa, dan bukan semata karena pulung media ....

April 15, 2014

Safari Politik Gubernur yang Calon Presiden: Pandangan Satu Sisi Masyarakat Awam

Gambar: frugal-cafe.com
Surabaya, CocoNotes - Negara dan media memang seperti mata rantai yang saling berkaitan. Ketika sebuah negara memiliki 'gawe' a k a event kenegaraan, maka mata media tidak akan luput untuk mengintipnya. Demikian pula, dengan negara, dia akan mencari media untuk memperkuat realitas yang dibentuk oleh media. Sehingga citra yang terbentuk dapat disejalankan dengan ekspektasi negara.

Di sini, rakyat yang awam politik, awam keidupan bernegara, awam pengetahuan, menjadi penontonnya, dan akan mempersepsi realitas yang dikonsepsikan oleh media tersebut.

Muatan media terkait safari gubernur yang calon presiden pastinya akan mendapatkan persepsi yang berbeda-beda dari masyarakat. Sang Gubernur yang juga calon presiden dalam pemilihan presiden (pilpres) 2014 pada bulan Juli mendatang tengah mengemban amanah partai yang mendukungnya untuk melakukan safari politik. Membentuk koalisi dan kerjasama dengan partai lain, karena hasil quick count pemilu legislatif yang dilangsungkan 9 April 2014 tidak menghasilkan perolehan suara signifikan bagi para partai politik peserta pemilu.

Safari politik tersebut pastinya menyita waktu sang gubernur idaman warga yang padanya diletakkan harapan besar akan perbaikan wilayahnya yang penuh dengan permasalahan kota metopolitan. Macet, banjir, tata ruang, transportasi, kepegawaian, dan lain-lain .... Kompleksitas permasalahan yang belum terurai pun akhirnya akan kembali menjadi bahan pertanyaan bagi gubernur selanjutnya.

Barangkali, di sini ada pertanyaan yang perlu ditegaskan oleh pemerintah, bahwa seorang terpilih dalam lembaga eksekutif harus mengemban amanah yang diembankan dan telah disepakati dalam sumpah jabatannya di bawah nama Tuhan, sebelum memutuskan untuk mencalonkan kembali dalam pemilihan pimpinan eksekutif agar kegiatan kampanye dan kegiatan politiknya dapat dilakukan secara maksimal tanpa mengganggu status kenegarawanannya. Dengan demikian, tampuk kepemimpinan eksekutif yang diemban tidak berarah seperti seorang wirausaha yang melakukan ekspansi dari area perusahaan keluarga, menuju perusahaan skala nasional, dan skala internasional. Terlebih, jika harus diiringi dengan pakaian partai pengusung kepemimpinan yang akan diembannya.

December 2, 2012

Filosofi Kepemimpinan Ibu Jari

Di antara kelima jari, ibu jari adalah jari yang terkuat. Buktinya, kalau kita memasang paku pines, amat jarang kita memencet atau menekannya dengan kelingking (kecuali kita mempunyai sinkang/tenaga dalam yang hebat). Pasti kita menekannya dengan jempol/ibu jari. Namun demikian, ibu jari pula yang paling rendah hati. Coba kalau ibu jari selalu berdiri tegak dengan kaku dan pongahnya, jari lainnya tentu tidak akan mampu menyentuh ibu jari. Tetapi baru kalau ibu jari melemaskan dirinya, merunduk dan mau turun ke bawah maka jari-jari lainnya dapat menyentuhnya. Artinya, ibu jari tidak perlu merasa kehilangan citranya sebagai pemimpin yang paling kuat dari jari-jari lainnya hanya karena bersikap rendah hati. Demikian pula seorang pemimpin, ia tidak akan berkurang wibawanya manakala ia memperlakukan anak buahnya bagaikan anak kandung. 
Memperlakukan anak buah bagaikan anak kandung berarti juga tetap dapat menghukumnya. Oleh karena itu, tetap ada Surat Peringatan (SP) 1, 2, dan 3, sampai pemecatan kalau anak buahnya melakukan kesalahan yang fatal dan berulang-ulang. Sama halnya dengan cara kita memperlakukan anak kandung. Misalnya, ketika anak kandung mempergunakan uang SPP nya untuk membeli obat-obatan terlarang, kita wajib menghukumnya dengan tegas walaupun kita sangat mencintainya. Kesalahan anak kandung tersebut termasuk kesalahan berat, sehingga perlu diberi hukuman tegas. Meski demikian, kita menyadari bahwa hukuman itu diberikan tetap dalam kerangka mendidik, dan bukan untuk menghancurkannya. 

Sumber gambar: uofmhealth.org
Sebetulnya, kalau seorang pemimpin perusahaan menerapkan teori kepemimpinan gaya filsafat ibu jari, kemungkinan terjadinya gejolak dari yang paling ringan sampai unjuk rasa atau demo akan menjadi sangat kecil karena pemimpin tadi mau bersikap rendah hati walaupun ia kuat, mempunyai pengaruh dan wewenang yang lebih dibanding anak buahnya. Ia memimpin bukan hanya dengan otoritas yang ada, tetapi juga memimpin dengan hati atau memimpin dengan kearifan. Ia mau turun ke bawah untuk mendengarkan keluhan anak buah, atau menangkap aspirasi anak buah sebelum keluhan atau aspirasi itu menumpuk sampai beberapa lama. Ia mau berbicara dari hati ke hati dengan anak buahnya. 
Akan sangat berbeda jika seorang pemimpin bersifat arogan, berdiri tegak, dan sombong dalam memimpin anak buahnya. Jika hanya memakai otoritas secara kaku, tidak mau berbicara dengan anak buahnya dari hati ke hati, bahkan sulit untuk ditemui anak buah, serta tidak mau turun ke bawah untuk mendengar aspirasi anak buah, gejolak akan lebih mudah terjadi, dari yang paling sederhana sampai demo buruh yang bersifat anarkis. Rasanya, sebagai seoang pemimpin pabrik, hal yang paling ditakutkan sebetulnya adalah demonstrasi di pabrik. Dengan menerapkan konsep kepemimpinan ibu jari, maka hal-hal menakutkan seperti itu dapat jauh dikurangi kemungkinannya atau bahkan hilang sama sekali.

Tentu saja hal ini juga bisa dikaitkan dengan kepemimpinan wilayah pemerintahan, seperti presiden, gubernur, dan pemimpin-pemimpin lainnya, termasuk pemimpin diri sendiri ya....

Disadur dari: Menggugah Mentalitas Profesional dan Pengusaha Indonesia. By F. X. Oerip S. Poerwopoespito dan T.A. Tatag Utomo. 2011. Gramedia Widyasarana Indonesia, Jakarta. Pp. 136-138.

CocoGress