December 1, 2012

Filosofi Kepemimpinan Ibu Jari

Di antara kelima jari, ibu jari adalah jari yang terkuat. Buktinya, kalau kita memasang paku pines, amat jarang kita memencet atau menekannya dengan kelingking (kecuali kita mempunyai sinkang/tenaga dalam yang hebat). Pasti kita menekannya dengan jempol/ibu jari. Namun demikian, ibu jari pula yang paling rendah hati. Coba kalau ibu jari selalu berdiri tegak dengan kaku dan pongahnya, jari lainnya tentu tidak akan mampu menyentuh ibu jari. Tetapi baru kalau ibu jari melemaskan dirinya, merunduk dan mau turun ke bawah maka jari-jari lainnya dapat menyentuhnya. Artinya, ibu jari tidak perlu merasa kehilangan citranya sebagai pemimpin yang paling kuat dari jari-jari lainnya hanya karena bersikap rendah hati. Demikian pula seorang pemimpin, ia tidak akan berkurang wibawanya manakala ia memperlakukan anak buahnya bagaikan anak kandung. 
Memperlakukan anak buah bagaikan anak kandung berarti juga tetap dapat menghukumnya. Oleh karena itu, tetap ada Surat Peringatan (SP) 1, 2, dan 3, sampai pemecatan kalau anak buahnya melakukan kesalahan yang fatal dan berulang-ulang. Sama halnya dengan cara kita memperlakukan anak kandung. Misalnya, ketika anak kandung mempergunakan uang SPP nya untuk membeli obat-obatan terlarang, kita wajib menghukumnya dengan tegas walaupun kita sangat mencintainya. Kesalahan anak kandung tersebut termasuk kesalahan berat, sehingga perlu diberi hukuman tegas. Meski demikian, kita menyadari bahwa hukuman itu diberikan tetap dalam kerangka mendidik, dan bukan untuk menghancurkannya. 

Sumber gambar: uofmhealth.org
Sebetulnya, kalau seorang pemimpin perusahaan menerapkan teori kepemimpinan gaya filsafat ibu jari, kemungkinan terjadinya gejolak dari yang paling ringan sampai unjuk rasa atau demo akan menjadi sangat kecil karena pemimpin tadi mau bersikap rendah hati walaupun ia kuat, mempunyai pengaruh dan wewenang yang lebih dibanding anak buahnya. Ia memimpin bukan hanya dengan otoritas yang ada, tetapi juga memimpin dengan hati atau memimpin dengan kearifan. Ia mau turun ke bawah untuk mendengarkan keluhan anak buah, atau menangkap aspirasi anak buah sebelum keluhan atau aspirasi itu menumpuk sampai beberapa lama. Ia mau berbicara dari hati ke hati dengan anak buahnya. 
Akan sangat berbeda jika seorang pemimpin bersifat arogan, berdiri tegak, dan sombong dalam memimpin anak buahnya. Jika hanya memakai otoritas secara kaku, tidak mau berbicara dengan anak buahnya dari hati ke hati, bahkan sulit untuk ditemui anak buah, serta tidak mau turun ke bawah untuk mendengar aspirasi anak buah, gejolak akan lebih mudah terjadi, dari yang paling sederhana sampai demo buruh yang bersifat anarkis. Rasanya, sebagai seoang pemimpin pabrik, hal yang paling ditakutkan sebetulnya adalah demonstrasi di pabrik. Dengan menerapkan konsep kepemimpinan ibu jari, maka hal-hal menakutkan seperti itu dapat jauh dikurangi kemungkinannya atau bahkan hilang sama sekali.

Tentu saja hal ini juga bisa dikaitkan dengan kepemimpinan wilayah pemerintahan, seperti presiden, gubernur, dan pemimpin-pemimpin lainnya, termasuk pemimpin diri sendiri ya....

Disadur dari: Menggugah Mentalitas Profesional dan Pengusaha Indonesia. By F. X. Oerip S. Poerwopoespito dan T.A. Tatag Utomo. 2011. Gramedia Widyasarana Indonesia, Jakarta. Pp. 136-138.

8 komentar:

MT said...

filosofis! terima kasih

momoffive said...

sama-sama, eenang bisa berbagi

berbol said...

good artikel gan,,,

momoffive said...

terimakasih, senang bisa berbagi
semoga bermanfaat

rbyooo said...

di copy boleh?? hehee

momoffive said...

boleh... semoga bermanfaat

kopasid said...

mantabbb gan filosofinya

momoffive said...

hehehhh... dari baca buku juga. Semoga bisa diimplementasikan

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates