December 6, 2012

Standar Kerja yang Menyenangkan Hati Karyawan

Sumber: boldsky.com
Tidak sengaja saya menemukan gumaman karyawan mengenai adanya perubahan kebijakan kerja dan/atau prosedur kerja. Yupps... setiap peubahan yang tidak disosialisasikan pasti akan menimbulkan keresahan. Bukan hanya di tempat kerja, tetapi di area mana pun. Bahkan perubahan kebijakan di lingkungan keluarga pun akan meghadirkan tanda tanya pada anggota keluarga, ketika kepala keluarga mengeluarkan kebijakan baru yang harus berlaku dalam keluarga tersebut (#jadi teringat anak-anak saya yang bertanya-tanya untuk apa mereka harus membuat laporan aktivitas mingguan dan mempresentasikan laporannya kepada saya---dengan tujuan pembelajaran berbicara di depan umum dan belajar bertanggung jawab).
Nah ini dia kutipan gumamannya::
Suasana kantor tiba-tiba menjadi rusuh. Banyak kritikan dan perubahan sistem kerja. Kritikan karena bos merasa deadline kantor tidak terpenuhi. Kritikan karena kualitas pekerjaan yang di bawah ekspektasi beliau. Akhirnya kritikan tersebut mengarah pada perubahan sistem kerja di kantor. Hal yang membuat saya bingung adalah mengapa deadline pekerjaan termasuk dalam alasan si bos melontarkan kritikannya. Padahal, saya sudah sangat yakin bahwa deadline pekerjaan saya tak pernah melebihi tenggat waktu yang si bos tetapkan. Lalu kualitas…. bagaimana bisa si bos menilai kualitas sementara beliau tak pernah secara langsung menganalisis hasil kerja anak buahnya? Kualitas dari sisi mana pun tak diungkapkan dengan jelas, sehingga saya dan teman-teman seprofesi menjadi bingung bagian mana yang salah dari kami. ....................Entah demi apa… yang jelas… seseorang nampaknya berusaha menjatuhkan area kerja saya.
Sumber: bmichellepippin.com
Dari keluhan di atas terlihat bahwa perubahan kebijakan perusahaan, perubahan prosedur kerja, dan standar kualitas kerja yang tidak jelas bisa membuat karyawan menjadi resah dan memiliki dugaan-dugaan yang tidak seharusnya terjadi. Oleh karena itu, sebuah perusahaan sekecil apapun, seyogyanya melakukan antisipasi ketika hendak melakukan perubahan manajemen, dan segala sesuatu harus tetap dilakukan secara sistematis dan prosedural dengan tetap memperhatikan nilai, etika, norma, toleransi, dan perasaan karyawan. Bukankah perusahaan juga merupakan lingkungan sosial yang di dalamnya terdiri atas karyawan dengan diversitasnya? Bukan hanya diversitas secara jenis kelamin, status sosial, status ekonomi, tetapi juga terdiversitas dalam kepribadian dan budaya.
Nah, sebagai perusahaan yang telah menanam pohon untuk bernaung setiap orang yang lewat di bawahnya (yang tentu saja tidak hanya bernaung, tetapi jika ada buahnya juga turut memetik, dan jika ada bau harum bunganya juga turut merasakan aromanya), maka penanam pohon tentunya harus berbaik hati untuk membuat aturan yang jelas baik untuk penanam maupun orang-orang yang bernaung. Dengan demikian, lahir simbiosis mutualisme di antara pemilik pohon dengan orang yang bernaung di bawahnya, maupun diantara orang-orang yang bernaung tersebut.
Nah, aturan yang seperti apa sih yang akan menyenangkan hati karyawan?
Meskipun saya tidak pernah menjadi karyawan, akan tetapi dengan melihat kutipan di atas maka hal yang menyenangkan karyawan adalah:
  • Stabilitas: Menjadi karyawan adalah harapan setiap orang, karena dengan menjadi karyawan, mereka memperoleh pekerjaan. Dengan adanya pekerjaan, setidaknya ada kegiatan rutin yang jelas yang bisa dilakukan sebagai lahan ibadah, menyalurkan kreativitas, menyalurkan kompetensi dan keilmuan, serta ketrampilan. Dan pastinya, memperoleh stabilitas ekonomi, karena karyawan akan selalu menerima kompensasi yang rutin setiap periode waktu tertenu (pendapatan bulanan) --- yang asal tidak kayak para pemain bola Indonesia ya, yang gajinya harus ditabung dulu, sehingga pemainnya tidak bisa mengambil gaji bulanannya. Nah, ternyata stabilitas ini tidak hanya harus terkait dengan stabilitas pemberian kompensasi, tetapi juga stabilitas terkait kebijakan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harusnya menetapkan kebijakan perusahaan yang pakem, yang bisa dijadikan sebagai pedoman dan pegangan bagi karyawan, agar karyawan tidak bertanya-tanya ada apa dengan perusahaanku? Memang sih, tidak bisa dipungkiri, bahwa perubahan lingkungan dan tuntutan pelangganmenjadikan perusahaan harus melakukan perubahan, jadi ya sah-sah saja jika pihak manajemen melakukan perubahan kebijakan, TETAPI, ternyata perubahan kebijakan itu tidak boleh dilakukan dengan grusa-grusu, dan sak deg sak nyet (spontan), tetapi harus mempertimbangkan lingkungan internal, termasuk perasaan karyawan. Nah di sini pentingnya SOSIALISASI.
  • Sosialisasi. Sebagai salah satu komunitas sosial, maka perusahaan harus melakukan sosialisasi kepada karyawan, apabila ada perubahan yang akan dilakukan di kalangan internal; dan melakukan sosialisasi kepada pelanggan jika perubahan yang dilakukan berkaitan dengan pelanggan. Nah, standar kualitas kerja juga harus disosialisasikan kepada karyawan agar karyawan memahami standar kualitas kerja yang harus dipenuhi. Karena kinerja karyawan tidak hanya diukur dari sisi kuantitas saja, tetapi juga kualitas. Apalah artinya bisa menghasilkan keranjang rotan sebanyak 100 buah per jam, jika keranjangnya mudah rusak, desainnya berantakan, dan tidak sesuai dengan pesanan pelanggan. Nah, di sini pentingnya dilakukan briefing terhadap karyawan terkait standar kualitas kerja, karena dengan adanya standar kualitas kerja yang disosialisasikan maka diharapkan karyawan akan memahami seperti apa sih harapan manajemen terhadap hasil kerjanya.
  • Transparansi. Transparansi atau keterbukaan bukan berarti manajemen harus berpakaian transparan atau buka-bukaan. Transparansi manajemen, ini terkait dengan sifat openness manajemen untuk membuka diri kepada karyawan, sehingga karyawan juga akan bisa terbuka dan menyampaikan harapan-harapannya kepada perusahaan. Karena jika dua sejoli sudah saling memahami ekspektasi masing-masing, maka masing-masing pihak akan berusaha untuk memenuhi harapan pasangannya. Tentu saja, kedua pihak juga haus saling memahami kapabilitas, potensi, dan kompetensinya. Demikian juga terkait dengan kebijakan manajemen, di sini dalam menyusun kebijakan, standar kualitas kerja, dan prosedur maka pihak manajemen harus menjelaskan secara gamblang mengenai latar belakang, visi, misi, dan tujuan perusahaan yang harus diwujudkan melalui penetapan kebijakan, standar kualitas, dan prosedur kerja. Nah, jika telah demikian, maka karyawan akan mengetahui bagaimana harus bekerja dengan baik. Nah disini perli adanya KEJELASAN (CLEARANCE).
  • Keadilan: setiap karyawan tentunya ingin diperlakukan dengan adil. Dalam hal ini bisa dijelaskan bahwa ketika karyawan telah melakukan kerja sesuai dengan standar yang ditetapkan, manajemen harus memberi penghargaan yang setimpal, yang sesuai dengan upaya yang dilakukan oleh karyawan untuk selalu berbenah, sehingga bisa mencapai kualitas kerja sebagaimana yang ditetapkan dalam standar kualitas kerja di perusahaan. Jika karyawan tersebut belum mampu? Manajemen harus memberi kesempatan untuk belajar bagi karyawan tersebut, bukankah dalam manajemen sumber daya manusia ada program training and development
Nah, masih adakah hal lain yang menyenangkan hati karyawan? Bila hati karyawan senang, maka kesejahteraan pun akan tercapai...karena menyenangkan hati karyawan adalah modal dalam peningkatan kesejahteraan bangsa.

2 komentar:

Lowongan kerja finance terbaru said...

Diperlukan keseimbangan antara penyamanan para pekerja atau karyawan dengan ekspektasi yang ditargetkan oleh perusahaan.

momoffive said...

yupps... manajemen yang berperikemanusiaan ya. Karyawan juga harus faham di mana kemampuan dia berdasarkan persepsi dia dan hasil penilaian manajemen...

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates