December 7, 2012

Korupsi dan Nikah Siri: Wacana di Indonesia Terkini

Sumber gambar: examiner.com
Media kini tengah panas dengan berita tentang korupsi dan nikah siri kilat (nikah bawah tangan). Sejak mencuatnya gugatan Fanny Oktora terhadap Bupati Garut, Aceng Fikri, maka beberapa perempuan mulai memunculkan diri dan mengaku pernah dinikahi secara siri oleh pejabat. Sebut saja berita Wita KDI yang mengaku pernah menikah siri dengan Muhammad Nazaruddin, mantan anggota DPR yang juga mantan bendahara umum Partai Demokrat, yang saat ini tengah terlilit kasus korupsi Hambalang. Berita tentang pernikahan siri 13 jam antara HM Yunus Bin Jafar, Kepala Distrik Navigasi Kelas I Makassar, yang beralamat di Jalan Sabutung, Ujung Tanah, Makassar, dengan Wiwi Sudiarti binti Soewardi (47) juga mulai mencuat. Belum lagi berita gugatan massa dari masyarakat Sidoarjo yang juga menggugat pejabat yang nikah siri. Jadi teringat dengan pejabat di era Orde Baru yang juga pernah terendus pernikahan sirinya dengan para penyanyi dangdut, atau pernikahan siri si Raja Dangdut Rhoma Irama, yang saat ini sedang digadang-gadang menjadi Calon Presiden Republik Indonesia. Lantas, jika sampai ada berita tentang anak SMA yang berperilaku tidak senonoh dan tidak wajar? Apa sebenarnya yang terjadi dengan Indonesia?.

Yupppss... memiriskan hati memang, saat membaca, mendengar, atau melihat berita para pejabat di Negara Indonesia yang Tercinta ini, tetapi kabarnya hanya seputar kasus-kasus korupsi dan nikah siri. Sampai tertanyakan dalam diri, kalau berita pejabat seperti ini, di manakah gerangan akan tumbuh kebanggaan pada anak cucu kita terhadap bangsa ini. 
Berita korupsi dan nikah siri yang seringkali diiringi dengan sejumlah upeti dan mahar (maskawin) dengan nominal tinggi menjadi sangat ironis ketika setelah atau sebelumya diberitakan penderitaan TKI (tenaga kerja Indonesia), demo buruh yang menuntut kesejahteraan, runtuhnya gedung sekolah yang membuat para siswa harus belajar di bawah pohon, perjuangan anak di perbatasan negeri untuk mencintai bangsa ini, atau perjuangan anak negeri untuk menuntut ilmu melalui arus deras sungai. Saatnya untuk refleksi, agar wacana negeri tercinta ini membuat kita tersenyum bangga dan bahagia. Dan bagi kaum perempuan, menjelang datangnya hari Ibu, 22 Desember, adalah saat yang tepat untuk melakukan refleksi atas kemuliaan wanita, karena wanita diciptakan dengan segala kemuliaan, keagungan, ketangguhan, kelembutan, dan ... kecantikan. Yang, semua itu harus dijaga dan dipelihara, agar tidak memudar oleh rayuan noda dan aroma dunia yang kadang hanya merupakan fatamorgana.

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates