February 11, 2014

Politisasi Religiusitas: Dari Hati Luruh ke Syurga, dan Sekarang Demi Inova

Pic. Deviantart
Surabaya, CocoNotes - Berita online dalam Tribunnews menyebutkan program Walikota Bandung yang meniru Walikota Bengkulu untuk memberikan hadiah bagi warga yang rajin sholat. Program materialisme yang dicanangkan dengan nyata oleh sosok pemimpin negeri ini rasanya layak untuk dipikir dan ditelaah dengan kedalaman nurani. Apakah pendidikan religiusitas spiritualitas yang diiringi dengan materialisme kapitalisme akan menghasilkan outcome yang ikhlas tulus dalam pengabdian profesinya.

Bukankah ajaran yang berorientasi materi akan mendorong orang untuk money oriented, sehingga tidak akan melakukan profesi dan pekerjaannya untuk ibadah lagi. Tetapi untuk sesuatu yang bersifat materi, bersifat kebendaan.

Lantas, di mana ayat Allah yang telah difirmankan dalam Al Quran untuk Ummat Islam,
"Dan tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Ad Dzariyyat: 56).

Dan di mana pula ayat Allah tentang betapa beruntungnya orang mukmin, yaitu orang yang sholat dengan khusyu', bukan sholat demi sejumput hadiah.

"Qod aflaha al-mukminun, Alladzinahum fi as-sholatihim khosyi'un, walladzinahum 'anillaghwi mu'ridhun, walladzinahun fi az-zakatihim fa'ilun, walladzinahum lifurujihim hafidhun..." (QS. Al Mukminuun: 1-5).

Berdalih sebagai bentuk pembelajaran dan pendidikan kesadaran religiusitas masyarakat, program pendidikan spiritualitas dan mentalitas bangsa oleh walikota ini cenderung mengerikan. Mengalihkan niat sholat untuk mendapatkan syurga saja sudah mengurangi keikhlasan akan penghambaan kepadaNYA. Lantas, ketika penguasa mengalihkan niat sholat untuk mendapatkan Inova, bukankah akan menjadi awal pembelajaran yang kurang mendidik.
Karena akhirnya semua akan dilakukan demi materi. Ketika sholat dilakukan demi inova, ketika sedekah demi hitungan-hitungan a la sang kiai, ketika membaca Al Quran dengan iming-iming kekayaan kebendaan, ketika dzikir dan wirid pun dihitung dengan imbalan materi yang setara .... Maka mentalitas kapitalis materialistis akan lebih banyak menyeruak ke dalam jiwa bangsa. Dan, sedikit-sedikit uang, sedikit-sedikit uang, dan dampak latennya adalah suburnya gratifikasi, korupsi, suap ....

Dan, doanya pun kemudian berganti Inna Sholaatii lil Inovaati Wal Hadiahi Minal Walikotai ....

1 komentar:

Jalan Setapak said...

Ikhlas dan tulus telah menjadi barang langka di sebagian masyarakat kita, terutama pemimpin. Semua diukur berdasarkan materi.
Oya, congrats atas kemenangannya sbg runner up telkomsel. Teruslah berkarya dg hati...

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates