August 3, 2014

Mudik: Mengapa Harus Berlelah-lelah dalam Kemacetan

pic. by Admin, Surabaya, 2014
Surabaya, CocoNotes - Mudik, berasal dari kata udik, artinya menuju udik, kembali ke udik. Mudik telah menjadi bahasa umum yang digunakan oleh hampir seluruh rakyat Indonesia, di manapun dan siapa pun, terutama saat Lebaran Iedul Fitri tiba.

Sejak Ramadhan tiba, mudik menjadi bahasan utama bagi masyarakat. Mereka pun mulai menyiapkan ragam bekal, baik fisik maupun psikologis. Mereka rela berpayah-payah menyisihkan penghasilan untuk bekal mudik. Membeli baju baru, berangkat ke salon, membeli makanan untuk oleh-oleh, menyiapkan lembaran-lembaran uang baru untuk 'angpau' kerabat di kampung, sampai antri membeli tiket kapal, kereta api, atau pesawat. Bahkan menunggu THR (Tunjangan Hari Raya) sampai keringat dingin menetes menjelang lebaran tiba, juga menjadi salah satu ritual mudik.

Dan, rona bahagia, haru, dan semangat mudik pun tetap membuncah, kala harus berdesak-desakan di angkutan umum. Atau terjebak dalam kemacetan panjang yang melelahkan. Atau, rengekan si kecil yang bosan dalam perjalanan.

Lelah dan penatnya perjalanan, serta kerikuhan akibat sulitnya membagi buah tangan di kampung tujuan, tidak mampu menghilangkan rasa bahagia yang ada jauh di relung jiwa. Meskipun, saat harus kembali ke 'dunia nyata' kantong pun turut kembali 'fitri'.

Begitulah. Mudik memang sudah menjadi ritual bagi masyarakat Indonesia dari masa ke masa. Mudik memang melelahkan. Mudik juga harus membuat jalur pantura macet. Dan, kecelakaan lalu lintas bahkan harus meningkat.

Tetapi, mudik tetap menjadi ritual yang dinanti oleh para perantau. Untuk kembali ke udik, kembali ke fitrah asalnya. Mengingat sejarah, melawan lupa, agar tidak lupa akar dan tunasnya. Tumpah darah yang mengantar setiap sosok yang saat ini telah menjadi 'orang'.

Bahwa, sebelum ini, ada cerita yang mengantar perjalanan mereka. Bahwa, 'adanya' mereka bukan tiba-tiba. Tetapi ada ayah, ibu, kakek, nenek, kakak, adik, paman, pak dhe, bu dhe, guru-guru, teman sepermainan, para tetangga, yang kesemuanya memberi warna dalam perjalanan kehidupan mereka.

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates