August 29, 2015

Seiring Selangkah Pemerintah dan Masyarakat untuk Penyediaan Air Bersih dan Kelestarian Lingkungan

Surabaya, CocoNotes - Air bersih dan sanitasi merupakan satu paket kebutuhan bagi masyarakat, baik di desa maupun di kota. Ketika air bersih tersedia secara memadai, maka aktivitas sanitasi juga akan membaik. Demikian juga sebaliknya, ketika fasilitas sanitasi memadai, maka pengelolaan dan penggunaan air bersih juga dapat dikendalikan secara optimal.
Jika di kota, keterjangkauan akan air bersih dipenuhi oleh hadirnya aliran air PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), maka di desa terpencil yang belum terjangkau aliran air dari PDAM, keterjangkauan air bersih dipenuhi dari mata air, air sungai, dan juga air sumur. 

Sungai sebagai Pusat Kegiatan Penduduk

Sungai merupakan aliran air yang berasal dari hulu yang akan mengantarnya ke muara. Sepanjang perjalanannya tersebut, air akan banyak memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat yang dilaluinya. Baik manfaat untuk bertumbuh dan hidup bagi makhluk hidup lainnya seperti tumbuhan dan hewan, maupun manfaat bagi manusia. untuk memenuhi kebutuhan air.

Salah satu desa yang masih menggunakan air sungai sebagai sumber pemenuhan kebutuhan air hingga akhir tahun 1990-an, adalah desa Mojorejo, Kecamatan Wates, Blitar, Jawa Timur. 

Bahkan, sampai periode akhir tahun 1999-an, sungai (lebih tepatnya disebut kali kecil) merupakan sumber kehidupan penduduk desa. Di sungai kecil yang berada di ‘pusat’ desa ini, hampir semua aktivitas kehidupan masyarakat desa dilakukan. Mulai dari mencari ikan untuk lauk, seperti ikan cethul, wader, udang kali, sampai aktivitas mandi, cuci, kakus (MCK) semua dilakukan di balik semak-semak yang ada di pinggir kali. Tidak heran, jika kali di tengah desa tersebut menjadi pusat kegiatan masyarakat yang ramai mulai dini hari sampai malam menjelang.

Sungai di Musim Kemarau
Ketersediaan air sungai ini terpengaruh oleh musim. Di musim hujan, aliran sungai berjalan lancar dan air pun terlihat jernih, sehingga aktivitas di sungai tidak terlalu terganggu dengan hadirnya sampah manusia dan sampah dari alam. Namun, saat kemarau tiba, di saat debit air berkurang, maka aliran sungai pun terpengaruh. Sampah alam dan sampah manusia tidak bisa mengalir lancar, sehingga air sungai cenderung kotor. Hal ini tentunya mengganggu aktivitas MCK. 

Belum lagi perbuatan masyarakat yang memanfaatkan sungai untuk mencari ikan kali, yang suka menggunakan tuba (upas, semacam racun dari tumbuhan untuk meracun ikan) dan listrik (dengan menggunakan strum accu). Perbuatan seperti ini mematikan ikan-ikan kecil di sungai, sehingga merusak ekosistem di sungai. Yang pada akhirnya juga mempengaruhi kejernihan air sungai yang selama ini telah banyak digunakan untuk aktivitas MCK penduduk. 

Mata Air di Ujung Desa

Di ujung desa, ada perbukitan yang di sana ada mata air yang mengalirkan air yang bersih dan jernih. Untuk keperluan memasak di dapur, penduduk tidak menggunakan air sungai, tetapi mereka langsung mengalirkan air dari mata air yang tersembunyi di bukit kecil di pinggir desa tersebut. Sayangnya, aliran air dari mata air ini tidak selamanya lancar, karena mengandalkan pipa yang sebagian besar terbuat dari bambu, untuk selanjutnya baru disambung dengan selang-selang kecil untuk diarahkan ke ember-ember kecil di dapur masing-masing rumah tangga. Bahkan sebagian penduduk, benar-benar hanya mengandalkan batang-batang bambu untuk mengalirkan air ini ke rumah mereka.

Kadang-kadang aliran air akan berhenti dengan tiba-tiba, karena batang bambu kecil yang mengalirkan ternyata bocor di tengah jalan. Atau, aliran air tersebut digunakan oleh penduduk yang berada di lokasi yang lebih tinggi dibanding penduduk yang berada di area dataran lebih rendah. Maklum saja, wilayah pedesaan ini memang tidak rata, tetapi naik turun, karena letaknya memang di wilayah perbukitan.

Itulah mengapa, aliran air ini tidak serta merta dapat menjangkau dapur penduduk secara bersamaan. Dengan terbatasnya pipa bambu yang digunakan dari mata air, penduduk yang rumahnya jauh dari jangkauan mata air harus menunggu penduduk lain yang juga mengalirkan air ke dapur mereka. Karena itu, semakin pagi penduduk mengalirkan air, maka semakin cepat dia akan mendapatkan air. Terlambat sedikit saja, pasti akan keduluan penduduk lainnya.

Program WSLIC-2, Seiring Sejalan Pemerintah dan Masyarakat untuk Air Bersih dan Sanitasi

Pada tahun 2003, Desa Mojorejo, Wates, Blitar, terjangkau Program WSLIC-2 (Water and Sanitation for Low Income Communities/Program Air Bersih dan Sanitasi untuk Masyarakat Miskin). 

Pembangunan Fasilitas WSLIC-2, Dua Belas Tahun Lalu
Program WSLIC-2 merupakan program pemerintah yang ditujukan sebagai salah satu bentuk perhatian Pemerintah untuk membantu masyarakat miskin terutama pedesaan dalam bidang air bersih dan sanitasi dengan pendekatan pemberdayaan dimana masyarakat merencanakan dan melaksanakan sendiri kegiatannya, pemanfaatan, serta pemeliharaannya. 

Di sini, masyarakat diarahkan oleh pemerintah untuk bergerak bersama, saling tolong menolong mengalirkan kebaikan agar air dari mata air mengalir dengan lancar ke seluruh rumah penduduk. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dapur, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus. 

Masyarakat juga dituntut untuk memelihara fasilitas yang sudah dibangun, serta perlengkapan yang telah disediakan untuk mengalirkan air ke rumah masing-masing. Penanaman kepedulian dan sense of belonging atas keberadaan fasilitas ditanamkan melalui penyuluhan dan pendekatan pemerintah kepada masyarakat.

Peduli pada Fasilitas yang telah Disediakan
Masyarakat harus Memiliki Rasa Peduli dan Rasa Memiliki Fasilitas yang Disediakan


Melalui program WSLIC-2, penduduk mulai membangun kamar mandi dan membuat kakus di rumah masing-masing. Pembangunan kakus yang awalnya merupakan kakus ‘cemplung’ yang terbuat dari beton, berangsur-angsur berganti dengan kakus jongkok. 

Saat ini, hampir semua rumah penduduk telah memiliki kamar mandi yang layak dengan bak mandi yang melimpah airnya. Kebutuhan air untuk memasak dan mencuci piring pun telah disalurkan melalui selang-selang plastik dan pipa-pipa air ke seluruh rumah penduduk. 

Kondisi dapur pun tidak lagi harus becek akibat tumpahan air yang ditenteng dengan menggunakan ember-ember kecil dari pipa bambu yang hanya menjangkau sampai di belakang rumah seperti di masa lalu. Beberapa penduduk yang secara ekonomi mampu pun, telah menggunakan wastavel untuk mencuci piring, serta membangun kamar mandi berbahan keramik. 

Memberi Manfaat untuk Kelestarian Lingkungan 

Meskipun program WSLIC-2 ditujukan untuk penyediaan air bersih dan sanitasi untuk masyarakat, tetapi program ini juga berdampak pada pemenuhan kebutuhan air bagi tumbuhan di saat musim kemarau. Melalui selang-selang yang panjang, air dialirkan menuju tempat-tempat yang membutuhkan pengairan. Termasuk ke pepohonan di pinggir jalan. 

Minuman untuk Pohon
Dengan demikian, kelestarian lingkungan pun dapat dijaga. Tumbuhan tetap menghijau di kala kemarau, baik tumbuhan liar di pinggir jalan, maupun tanaman yang sengaja ditanam untuk diambil manfaatnya. Aliran sungai pun mengalir tanpa harus dicemari sabun cuci, sabun mandi, dan kotoran manusia. Ikan-ikan pun lebih tenang berenang di dalamnya.

Akhirnya, program dan kebijakan penyediaan air bersih dan sanitasi yang diluncurkan oleh pemerintah, memang harus disosialisasikan dan diimplementasikan, serta dilakukan pendampingan yang terus menerus, agar pemerintah dan masyarakat dapat bergerak secara seiring dan searah. Hal ini, karena program dan kebijakan tersebut secara holistik mampu mempengaruhi sehatnya kehidupan masyarakat dan lestarinya lingkungan masyarakat.


Gambar: diambil di Mojorejo, Wates, Blitar, 20 Juli 2015

0 komentar:

Post a Comment

Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates