Beli Roti atau Beli Apartemen Bos? Rame Banget

Surabaya, CocoNotes - Padatnya pengunjung event pemilihan unit Westown View yang diselenggarakan di Grand City Ballroom Level 4 dan Diamond...

Rental Surabaya
Showing posts with label Sanitasi. Show all posts
Showing posts with label Sanitasi. Show all posts

August 29, 2015

Seiring Selangkah Pemerintah dan Masyarakat untuk Penyediaan Air Bersih dan Kelestarian Lingkungan

Surabaya, CocoNotes - Air bersih dan sanitasi merupakan satu paket kebutuhan bagi masyarakat, baik di desa maupun di kota. Ketika air bersih tersedia secara memadai, maka aktivitas sanitasi juga akan membaik. Demikian juga sebaliknya, ketika fasilitas sanitasi memadai, maka pengelolaan dan penggunaan air bersih juga dapat dikendalikan secara optimal.
Jika di kota, keterjangkauan akan air bersih dipenuhi oleh hadirnya aliran air PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), maka di desa terpencil yang belum terjangkau aliran air dari PDAM, keterjangkauan air bersih dipenuhi dari mata air, air sungai, dan juga air sumur. 

Sungai sebagai Pusat Kegiatan Penduduk

Sungai merupakan aliran air yang berasal dari hulu yang akan mengantarnya ke muara. Sepanjang perjalanannya tersebut, air akan banyak memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat yang dilaluinya. Baik manfaat untuk bertumbuh dan hidup bagi makhluk hidup lainnya seperti tumbuhan dan hewan, maupun manfaat bagi manusia. untuk memenuhi kebutuhan air.

Salah satu desa yang masih menggunakan air sungai sebagai sumber pemenuhan kebutuhan air hingga akhir tahun 1990-an, adalah desa Mojorejo, Kecamatan Wates, Blitar, Jawa Timur. 

Bahkan, sampai periode akhir tahun 1999-an, sungai (lebih tepatnya disebut kali kecil) merupakan sumber kehidupan penduduk desa. Di sungai kecil yang berada di ‘pusat’ desa ini, hampir semua aktivitas kehidupan masyarakat desa dilakukan. Mulai dari mencari ikan untuk lauk, seperti ikan cethul, wader, udang kali, sampai aktivitas mandi, cuci, kakus (MCK) semua dilakukan di balik semak-semak yang ada di pinggir kali. Tidak heran, jika kali di tengah desa tersebut menjadi pusat kegiatan masyarakat yang ramai mulai dini hari sampai malam menjelang.

Sungai di Musim Kemarau
Ketersediaan air sungai ini terpengaruh oleh musim. Di musim hujan, aliran sungai berjalan lancar dan air pun terlihat jernih, sehingga aktivitas di sungai tidak terlalu terganggu dengan hadirnya sampah manusia dan sampah dari alam. Namun, saat kemarau tiba, di saat debit air berkurang, maka aliran sungai pun terpengaruh. Sampah alam dan sampah manusia tidak bisa mengalir lancar, sehingga air sungai cenderung kotor. Hal ini tentunya mengganggu aktivitas MCK. 

Belum lagi perbuatan masyarakat yang memanfaatkan sungai untuk mencari ikan kali, yang suka menggunakan tuba (upas, semacam racun dari tumbuhan untuk meracun ikan) dan listrik (dengan menggunakan strum accu). Perbuatan seperti ini mematikan ikan-ikan kecil di sungai, sehingga merusak ekosistem di sungai. Yang pada akhirnya juga mempengaruhi kejernihan air sungai yang selama ini telah banyak digunakan untuk aktivitas MCK penduduk. 

Mata Air di Ujung Desa

Di ujung desa, ada perbukitan yang di sana ada mata air yang mengalirkan air yang bersih dan jernih. Untuk keperluan memasak di dapur, penduduk tidak menggunakan air sungai, tetapi mereka langsung mengalirkan air dari mata air yang tersembunyi di bukit kecil di pinggir desa tersebut. Sayangnya, aliran air dari mata air ini tidak selamanya lancar, karena mengandalkan pipa yang sebagian besar terbuat dari bambu, untuk selanjutnya baru disambung dengan selang-selang kecil untuk diarahkan ke ember-ember kecil di dapur masing-masing rumah tangga. Bahkan sebagian penduduk, benar-benar hanya mengandalkan batang-batang bambu untuk mengalirkan air ini ke rumah mereka.

Kadang-kadang aliran air akan berhenti dengan tiba-tiba, karena batang bambu kecil yang mengalirkan ternyata bocor di tengah jalan. Atau, aliran air tersebut digunakan oleh penduduk yang berada di lokasi yang lebih tinggi dibanding penduduk yang berada di area dataran lebih rendah. Maklum saja, wilayah pedesaan ini memang tidak rata, tetapi naik turun, karena letaknya memang di wilayah perbukitan.

Itulah mengapa, aliran air ini tidak serta merta dapat menjangkau dapur penduduk secara bersamaan. Dengan terbatasnya pipa bambu yang digunakan dari mata air, penduduk yang rumahnya jauh dari jangkauan mata air harus menunggu penduduk lain yang juga mengalirkan air ke dapur mereka. Karena itu, semakin pagi penduduk mengalirkan air, maka semakin cepat dia akan mendapatkan air. Terlambat sedikit saja, pasti akan keduluan penduduk lainnya.

Program WSLIC-2, Seiring Sejalan Pemerintah dan Masyarakat untuk Air Bersih dan Sanitasi

Pada tahun 2003, Desa Mojorejo, Wates, Blitar, terjangkau Program WSLIC-2 (Water and Sanitation for Low Income Communities/Program Air Bersih dan Sanitasi untuk Masyarakat Miskin). 

Pembangunan Fasilitas WSLIC-2, Dua Belas Tahun Lalu
Program WSLIC-2 merupakan program pemerintah yang ditujukan sebagai salah satu bentuk perhatian Pemerintah untuk membantu masyarakat miskin terutama pedesaan dalam bidang air bersih dan sanitasi dengan pendekatan pemberdayaan dimana masyarakat merencanakan dan melaksanakan sendiri kegiatannya, pemanfaatan, serta pemeliharaannya. 

Di sini, masyarakat diarahkan oleh pemerintah untuk bergerak bersama, saling tolong menolong mengalirkan kebaikan agar air dari mata air mengalir dengan lancar ke seluruh rumah penduduk. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dapur, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus. 

Masyarakat juga dituntut untuk memelihara fasilitas yang sudah dibangun, serta perlengkapan yang telah disediakan untuk mengalirkan air ke rumah masing-masing. Penanaman kepedulian dan sense of belonging atas keberadaan fasilitas ditanamkan melalui penyuluhan dan pendekatan pemerintah kepada masyarakat.

Peduli pada Fasilitas yang telah Disediakan
Masyarakat harus Memiliki Rasa Peduli dan Rasa Memiliki Fasilitas yang Disediakan


Melalui program WSLIC-2, penduduk mulai membangun kamar mandi dan membuat kakus di rumah masing-masing. Pembangunan kakus yang awalnya merupakan kakus ‘cemplung’ yang terbuat dari beton, berangsur-angsur berganti dengan kakus jongkok. 

Saat ini, hampir semua rumah penduduk telah memiliki kamar mandi yang layak dengan bak mandi yang melimpah airnya. Kebutuhan air untuk memasak dan mencuci piring pun telah disalurkan melalui selang-selang plastik dan pipa-pipa air ke seluruh rumah penduduk. 

Kondisi dapur pun tidak lagi harus becek akibat tumpahan air yang ditenteng dengan menggunakan ember-ember kecil dari pipa bambu yang hanya menjangkau sampai di belakang rumah seperti di masa lalu. Beberapa penduduk yang secara ekonomi mampu pun, telah menggunakan wastavel untuk mencuci piring, serta membangun kamar mandi berbahan keramik. 

Memberi Manfaat untuk Kelestarian Lingkungan 

Meskipun program WSLIC-2 ditujukan untuk penyediaan air bersih dan sanitasi untuk masyarakat, tetapi program ini juga berdampak pada pemenuhan kebutuhan air bagi tumbuhan di saat musim kemarau. Melalui selang-selang yang panjang, air dialirkan menuju tempat-tempat yang membutuhkan pengairan. Termasuk ke pepohonan di pinggir jalan. 

Minuman untuk Pohon
Dengan demikian, kelestarian lingkungan pun dapat dijaga. Tumbuhan tetap menghijau di kala kemarau, baik tumbuhan liar di pinggir jalan, maupun tanaman yang sengaja ditanam untuk diambil manfaatnya. Aliran sungai pun mengalir tanpa harus dicemari sabun cuci, sabun mandi, dan kotoran manusia. Ikan-ikan pun lebih tenang berenang di dalamnya.

Akhirnya, program dan kebijakan penyediaan air bersih dan sanitasi yang diluncurkan oleh pemerintah, memang harus disosialisasikan dan diimplementasikan, serta dilakukan pendampingan yang terus menerus, agar pemerintah dan masyarakat dapat bergerak secara seiring dan searah. Hal ini, karena program dan kebijakan tersebut secara holistik mampu mempengaruhi sehatnya kehidupan masyarakat dan lestarinya lingkungan masyarakat.


Gambar: diambil di Mojorejo, Wates, Blitar, 20 Juli 2015

October 27, 2014

Sebuah Sentuhan untuk Percepatan Perbaikan Kualitas Kesehatan Desa Tertinggal

Surabaya, CocoNotes - Begitu masuk gapura menuju desa, jalanan yang dilalui semakin menghentak. Di musim kemarau, jalanan tersebut mungkin masih lumayan untuk dilalui, karena batu dan tanahnya kering. Tetapi di musim penghujan, batu dan tanah yang beradu menjadikan roda kendaraan harus bisa memilih sela-sela batu, agar tidak tergelincir. Terlebih, tidak ada angkutan desa yang masuk ke desa ini.
Karena itu, jika memasuki desa ini, penumpang harus menyewa ojek sejak di terminal Kesamben, Blitar atau menyewa mobil angkutan yang bersedia dibayar borongan. Pantas saja, jika ada pendatang yang bilang, jika sudah masuk ke desa, maka sedih rasanya jika harus ke luar lagi. Karena jalan yang dilaluinya sungguh memprihatinkan.
Selain berkelok, sempit, naik turun, juga berbatu-batu. Sementara di sisi kiri kanan masih berupa hutan, tegalan, dan kadang-kadang ada satu dua rumah penduduk. Sungguh menyedihkan jika harus melaluinya di waktu malam, karena penerangan juga masih sangat minim.
Suasana Desa Di Malam Hari
Di tengah desa, yang dianggap sebagai pusat desa, ada kali atau sungai yang airnya cukup deras, karena waktu itu kebetulan musim hujan. Saat pertama kali datang ke desa ini pada tahun 1996, kali yang hanya selebar dua sampai tiga meter ini merupakan tempat utama bagi warga desa untuk melakukan aktivitas mandi, cuci, dan kakus.
Masih sangat jarang sekali di sini ditemukan kamar mandi. Bahkan, meskipun ada kamar mandi sekalipun, para warga lebih senang melakukan aktivitas mandi, cuci, dan kakus di kali. Tidak jarang, ketika sedang asyik-asyiknya mandi ataupun mencuci, maka dari arah hulu akan nampak hilang timbul kotoran manusia yang hanyut mengikuti arus air.
Saat Musim Kemarau, Kali Ini juga Turut Menyusut Airnya
Selain untuk tempat mencuci, mandi, dan buang air besar, di kali ini pula penduduk menangkap ikan dan udang-udangan untuk lauk. Maklum, untuk ke pasar, warga harus ke luar desa dan melalui jalan berbatu yang memprihatinkan. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan lauk pauk dan sayur mayur, penduduk memanfaatkan segenap potensi yang ada di desa.
Dan, memang, kreativitas penduduk dalam memanfaatkan bahan pangan dari hasil bumi sangat bagus. Ubi, ketela, bentul, kacang, semua bisa diolah menjadi lauk yang lezat, makanan penutup, dan sayur. Jadi jangan heran, jika di desa ini sayur, lauk, dan makanan penutupnya berbahan dari ubi kayu.
Ayam Kampung yang Berkeliaran, Siap Untuk Dijadikan Lauk Jika Diperlukan
Jika ada tamu dari luar desa, maka ayam kampung yang banyak berkeliaran akan segera ditangkap, dipotong, dan dimasak. Atau mencari ikan dan udang-udangan di kali. Semua sungguh sehat alami. Apalagi, memasaknya pun masih menggunakan tungku dari tanah.

Perbaikan Kualitas Kesehatan dan Faktor Pendukungnya 

Seiring dengan semakin meningkatnya pengetahuan dan pengalaman penduduk, serta hadirnya pendatang ke desa, berangsur-angsur warga desa mulai memiliki kamar mandi dan kakus. Mulai dari kakus satu lubang sampai kakus duduk dan jongkok. Pengetahuan dan pengalaman penduduk tersebut berasal dari adanya penduduk yang merantau ke kota baik untuk sekolah maupun untuk bekerja, dan bahkan menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ke luar negeri. 
Para perantau ini kemudian menikah dengan orang dari luar desa. Pengalaman di perantauan baik untuk sekolah maupun untuk bekerja inilah yang membawa perbaikan perspektif kehidupan di desa. Untuk sanitasi misalnya, kini kondisi di desa sudah tidak lagi seperti belasan tahun silam. Rumah tangga kini sudah dilengkapi dengan kamar mandi yang dilengkapi dengan bak mandi besar, sehingga cadangan air nelimpah. Rata-rata setiap kamar mandi juga sudah dilengkapi dengan WC jongkok. Bahkan sebagian sudah dilengkapi dengan WC duduk. 

Sebagian dapur juga sudah dilengkapi dengan wastafel dan kompor gas, sehingga dapur bersih dan nyaman. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, penduduk secara bergotong royong mengalirkan air dari sumber mata air secara langsung dengan menggunakan selang-selang panjang. Rata-rata penduduk menampung air tersebut di dua Bak Mandi bersusun berukuran sangat lebar dan besar. Untuk selanjutnya dialirkan melalui pipa-pipa menuju tempat penggunaan akhir, seperti ke wastafel atau bak penampungan air untuk memasak, mencuci, dan lain-lain. Air pun berlimpah ruah untuk memenuhi kebutuhan mandi, mencuci, dan memasak, sehingga penduduk tidak lagi harus ke kali untuk mandi dan mencuci. 

Jika dilihat dari kondisi desa pada tahun 1996 yang kondisinya sungguh memprihatinkan dan perubahannya hingga tahun 2014 saat ini, maka dapat dijelaskan bahwa perjalanan untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan sanitasi di desa ini tergolong lama, hampir 20 tahun. Apalagi, sampai saat ini, masih belum semua penduduk mampu memenuhi kebutuhan air bersih dan sanitasi secara layak. Masih ada penduduk yang harus tinggal di rumah berdinding bambu dengan kondisi yang sangat belum layak. Perbedaan antara si kaya dan si miskin pun terlihat sangat mencolok. 
Sebagian Penduduk Masih Memasak dengan Tungku Tanah
Lamanya proses perbaikan kualitas sanitasi dan pemenuhan air bersih yang tergolong lama ini disebabkan oleh dukungan infrastruktur jalan raya yang menuju ke desa sangat tidak memadai. Meskipun sudah dilakukan perbaikan jalan, tetapi jalan tersebut cepat rusak kembali. Bahkan bersamaan dengan gempa yang terjadi pada saat meletusnya Gunung Kelud bulan Februari lalu menyebabkan adanya gerakan tanah yang menyebabkan longsornya bagian jalan menuju ke desa. 
Menyusur Jalan Setapak
Ruman-rumah yang Masih 'Tenggelam' di Antara Pepohonan
Sulitnya akses ke desa ini pula yang menyebabkan hingga saat ini, di desa ini masih belum ada penempatan dokter dan bidan desa. Bahkan, meskipun sudah ada penduduk yang bersekolah di akademi perawatan sekalipun, mereka tidak bertugas di desa mereka sendiri. Tetapi lebih memilih bertugas di kota. 

Jika ada penduduk yang sakit atau melahirkan, maka penduduk tersebut akan di bawa ke bidan desa yang terletak di desa tetangga. Artinya, si pasien harus melalui jalanan yang berkelok, naik turun terlebih dahulu agar bisa memperoleh perawatan dari tenaga kesehatan. Rumah sakit rujukan terdekat pun adanya di Kota Wlingi. 
Orang Sakit dan Balita, serta Anak-anak di Desa
Itulah mengapa, hingga saat ini, masih banyak penduduk yang mempercayai pengobatan alternatif dengan bantuan orang pintar. Sehingga, tidak jarang, pasien yang dibawa ke rumah sakit adalah pasien yang telah parah penyakitnya akibat keterlambatan penanganan medis. 
Demikian pula ketika ada persalinan, maka ibu yang akan melahirkan harus melalui perjalanan yang lumayan jauh untuk mencapai tempat praktik bidan di desa sebelah. Hal seperti ini juga bisa berdampak pada terjadinya keterlambatan rujukan ke rumah sakit jika terjadi kelainan pada ibu dan bayi. Seperti pendarahan pada ibu melahirkan, kelahiran prematur, dan lain-lain. Hal-hal tersebut memang kadang kala ditemukan di desa terpencil. 
"Begini lo Bu. Sebenarnya dari awal sudah ada indikasi pendarahan pada persalinan kakak saya, dan sudah diupayakan untuk dirujuk ke rumah sakit. Tetapi ya, sudah takdir Bu. Belum sampai di rumah sakit, kakak saya harus meninggal. Dan, kini ponakan saya harus tumbuh tanpa ibu lagi. Padahal ini anak pertama," Ungkap seorang warga desa yang juga tinggal di desa terpencil beberapa bulan yang  lalu. 
Melihat dampak keterpencilan desa dan sulitnya akses menuju fasilitas dan tenaga kesehatan di muka maka percepatan kualitas kesehatan di wilayah perdesaan menjadi sebuah keniscayaan bagi pemerintah. Dengan demikian ketercapaian lima pilar perdesaan sehat akan lebih cepat terwujud. Sebagaimana dijelaskan dalam official website perdesaan sehat bahwa lima pilar perdesaan sehat meliputi: 
  1. Percepatan ketersediaan Dokter Puskesmas bagi seluruh puskesmas di daerah tertinggal. 
  2. Percepatan ketersediaan Bidan Desa bagi seluruh desa di daerah tertinggal. 
  3. Percepatan ketersediaan Air Bersih bagi setiap rumah tangga di daerah tertinggal. 
  4. Percepatan ketersediaan Sanitasi bagi setiap rumah tangga di daerah tertinggal. 
  5. Percepatan ketersediaan Gizi Seimbang bagi Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita. 
Potensi Desa yang Tidak Boleh Diabaikan 

Berdasarkan uraian di muka maka dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya sebuah desa, sejauh apapun jaraknya dari pusat pemerintahan ataupun kota, sebenarnya memiliki potensi yang dapat mendukung percepatan dan pemerataan pembangunan, termasuk percepatan kualitas kesehatan di perdesaan. Naturalitas dan kealamian proses perbaikan sanitasi dan pemenuhan air bersih di salah satu desa di Kecamatan Wates, Blitar di atas merupakan contoh bahwa sebuah desa dapat berproses untuk berbenah dengan memanfaatkan potensi sumberdaya alam dan kearifan lokal yang dianut oleh warga. 
Gotong royong dan kebersamaan antarwarga mampu menjadikan penduduk kini tidak lagi harus mandi dan mencuci di kali. Air bersih tersedia secara melimpah dengan memanfaatkan buluh-buluh bambu yang digunakan untuk mengalirkan air dari sumber mata air menuju ke rumah-rumah penduduk. 
Hingga akhirnya, dengan semakin bertambahnya pengetahuan dan pengalaman, serta hadirnya pendatang dari luar desa, maka buluh-buluh bambu itu sekarang diganti dengan selang plastik dan pipa-pipa air. Demikian pula dengan pembangunan sanitasi, terjadi melalui proses yang sangat alami. 
Proses yang terjadi secara perlahan karena adanya pendatang yang menikah dengan penduduk asli yang merantau. Kehadiran pendatang yang tidak biasa melakukan aktivitas mandi, cuci, dan kakus di kali ini mendesak warga untuk menyediakan kamar mandi dan kakus. Di mana, setelah dijalani dan mendapatkan manfaat maka keberadaan kamar mandi dan kakus pun mulai menjadi kebutuhan semua penduduk. 

Keterjangkauan dan Ketersediaan Fasilitas & Tenaga Kesehatan: Upaya Percapatan Perbaikan Kualitas Kesehatan Desa Tertinggal

Akhirnya, untuk percepatan peningkatan kualitas kesehatan di perdesaan sehat, hanya diperlukan sedikit sentuhan dari pemerintah melalui kebijakan pembangunan terhadap faktor pendukung optimalisasi potensi masyarakat di desa. Faktor pendukung tersebut adalah kemudahan akses menuju lokasi, terutama dengan memperbaiki jalan desa. Dengan mudahnya akses menuju desa terpencil maka dokter dan bidan yang ditugaskan di desa tidak merasa enggan untuk mengabdi di sana dan menempati Puskesmas yang ada di desa. 

Selain itu, dengan diperbaikinya jalan maka perjalanan yang diperlukan oleh pasien rujukan juga bisa dilakukan dengan lebih cepat. Terlebih, jika jalanan telah diperbaiki, maka kemungkinan masuknya angkutan desa juga akan lebih besar. Dengan cepatnya jalur transportasi, akan mengurangi keterlambatan penanganan pasien di rumah sakit terdekat. Dengan kata lain, melalui kebijakan pemerintah dalam memenuhi satu faktor pendukung saja sudah akan mampu memenuhi lima pilar perdesaan sehat sebagai langkah untuk mewujudkan tercapainya kualitas kesehatan di desa terpencil dan tertinggal.

Semua gambar: Dokumen Pribadi

May 24, 2014

Tingkatkan Kualitas Air dan Sanitasi, Kementerian PU Gelar Indowater Expo & Forum 2014

Indowater Expo & Forum 2014, Grandcity Surabaya (Foto by Aly Sadikin/Rental Surabaya/21 Mei 2014, Grandcity, Surabaya)
Surabaya, CocoNotes - Setelah menyandang gelar sebagai negara dengan sanitasi terburuk kedua di dunia pada tahun 2013, Indonesia berupaya memperbaiki citra bangsa di sektor kualitas air dan sanitasi. Melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian PU menyelenggarakan Indowater Expo & Forum 2014 yang merupakan bagian dari event Stakeholder Forum (SF) Indonesian International Water Week di Grand City Convex, Surabaya pada 21-23 Mei 2014.

Indonesia International Water Week (Foto by Aly Sadikin/Rental Surabaya/21 Mei 2014, Grandcity, Surabaya)

Kegiatan SF IIWW 2014 yang bertema Creative Solutions on Water and Sanitation Development towards Sustainable Human Settlements  tersebut meliputi workshop sessions, Indowater 2014 Expo & Forum, dan Field Visit. Adapun, empat subtema yang diangkat dalam acara SF IIWW 2014 yang dibuka oleh Menteri Pekerjaan Umum adalah (1) Water Scarcity or Water Security Threat (Kelangkaan Air atau Ancaman Terhadap Keamanan Air); (2) Water Availability (Ketersediaan Air); (3) “Out Of the Box” Management'; dan (4) Sustainable Financing (Pembiayaan yang berkesinambungan). Indowater 2014 Expo & Forum merupakan event yang diselenggarakan sebagai bentuk persiapan menyambut Indonesia International Water Week 2015 yang melibatkan partisipant dari beberapa negara Asia, Eropa, USA, dan Australia.
Salah Satu Sudut Ruang dalam Penyelenggaraan SF Expo & Forum 2014 (Foto by Aly Sadikin/Rental Surabaya/21 Mei 2014, Grandcity, Surabaya)
Kru Rental Surabaya (Kanan) bersama Salah Satu Peserta SF Expo & Forum 2014 (Foto by Aly Sadikin/Rental Surabaya/21 Mei 2014, Grandcity, Surabaya)
Penyelenggaraan Indowater Expo & Forum 2014 di Surabaya tersebut diikuti oleh 180 peserta dari 17 negara. Rental Surabaya sebagai penyedia perlengkapan multimedia seperti Laptop, PC (Personal Computer), dan TV Plasma turut mendukung ketersediaan perlengkapan yang dibutuhkan peserta selama acara Indowater Expo & Forum 2014 berlangsung. Tenaga profesional yang handal dan siap juga disediakan oleh Rental Surabaya untuk membantu instalasi alat-alat yang dibutuhkan oleh peserta selama pameran, sehingga dapat digunakan dengan baik selama acara berlangsung. Dengan pengalaman yang telah dimiliki selama ini dalam memberikan layanan rental laptop dan multimedia baik korporat maupun komunitas untuk penyelenggaraan workshop, pameran, pelatihan, ujian online, dan ragam jenis event dan exhibition baik di dalam kota maupun di luar kota, dan bahkan di luar pulau, divisi dari PT Karunia Mandiri Consultant yang berkedudukan di Jalan Kedung Asem 47 Surabaya tersebut membuktikan keandalan pelayanannya selama berlangsungnya acara Stakeholder's Forum of Indonesian International Water Week 2014.

Link Terkait:

CocoGress