Beli Roti atau Beli Apartemen Bos? Rame Banget

Surabaya, CocoNotes - Padatnya pengunjung event pemilihan unit Westown View yang diselenggarakan di Grand City Ballroom Level 4 dan Diamond...

Rental Surabaya
Showing posts with label Hari Kemerdekaan. Show all posts
Showing posts with label Hari Kemerdekaan. Show all posts

August 28, 2015

Saat Rupiah Bertekuk Lutut di Hadapan Matt Dollar

Surabaya, CocoNotes – Berhadapan dengan US Dollar yang semakin menguat di seantero dunia, bulan Agustus 2015 menjadi sejarah bagi Rupiah. Belum habis kemeriahan peringatan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 70, Rupiah sudah bertekuk lutut di hadapan keperkasaan Matt Arkarna, eh US Dollar. Dan tembus di angka Rp14.000. 


Suara masyarakat kecil yang tercekik semakin menjerit, sementara suara pengusaha besar pun mengaum keras, siap-siap untuk menerkam para buruh dengan lay off dan PHK Massal, demi menyelamatkan biaya produksi agar tidak membengkak dan menggelembung seperti bisul.

Rayuan maut Matt Dollar di seantero dunia memang tidak dapat dibendung lagi. Rupiah harus menyerah dan melepaskan pertahanannya untuk tetap bertahan di bawah angka 10.000.
Jika pada masa Presiden ketiga Prof. B J. Habibie, mampu menghadapi kekuatan Dollar dengan menegakkan kepala Rupiah sampai di angka 6.500 dari angka 13.000 sekian saat terjadinya pelengseran Rezim Orde Baru (presiden kedua). Maka pada masa presiden ketujuh, Rupiah merunduk dan bersujud di hadapan Matt Dollar yang berdiri tegak dan gagah di hadapannya sampai di angka 14.000, setelah sebelumnya mampu ditekan sampai di angka 9.000 sekian pada masa presiden keenam (Susilo Bambang Yudhoyono).

Meme pelemahan nilai Rupiah terhadap US Dollar ini pun bertebaran di dunia maya. Seperti yang disampaikan oleh netizen di PociMedia.




August 18, 2014

Ritual 17 Agustus: Peringatan Hari Kemerdekaan

Barisan Karnaval (Surabaya, 17 Agustus 2014)
Surabaya, CocoNotes - Setiap peringatan hari besar, pasti tiada ritualitas-ritualitas yang dilakukan. Peringatan hari besar apa pun. Baik yang bersifat personal maupun kelembagaan. Sebut saja peringatan hari lahir, peringatan hari jadi, peringatan hari besar keagamaan, peringatan hari besar nasional, dan peringatan selebrasi lainnya, selalu ada ritualnya masing-masing.

Ritualitas tersebut merupakan esensi bahwa adanya hari ini adalah karena ada hari esok. Ritualisasi itu memberi makna kepada masyarakat bahwa setiap sesi kehidupan memiliki warnanya masing-masing. Dan, ketika sesi-sesi kehidupan itu menyatu, maka jadilah kehidupan menjadi warna-warni seperti pelangi.

Kembali kepada ritual-ritual di hari peringatan, maka ritual-ritual yang dilakukan dapat berfungsi sebagai pengingat (reminder) bagi masyarakat pelaku dan peserta selama peringatan. Ritual juga akan mengembalikan rasa kebersamaan, rasa memiliki (self belonging), rasa keberartian keberadaan (eksistensi) masing-masing individu di dalam masyarakat, dan kerelaan.

Bisa dibayangkan ketika tidak pernah ada yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa ketika dalam sehari-hari, masyarakat harus dilibatkan dalam ritualitasnya dan rutinitasnya masing-masing, maka kesunyian yang akan menghinggapi, karena monotonisme dan homogenitas aktivitas. Kebosanan pun akan melanda, karena tidak ada cerita lain yang menyengat rutinitas individualnya.

Karena itu, bersyukurlah, ketika ada ritual 17 Agustus sebagai hari peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia. Saat di mana bendera Merah Putih yang selama satu tahun terlibat bersih di dalam lemari harus kembali dikibarkan ke angkasa. Di halaman seluruh rumah-rumah warga. memberi warna jalanan.

Barisan Marching Band (Surabaya, 17 Agustus 2014)
Para Siswa-Siswi dalam Barisan Putih-putih (Surabaya, 17 Agustus 2014)
Anak-anak Taman-Kanak-kanak dalam Aneka Baju Adat (Surabaya, 17 Agustus 2014)
Warna-warni Pakaian Adat Nusantara (Surabaya, 17 Agustus 2014)
Demikian pula dengan aneka karnaval warga dan anak-anak sekolah. Yang memberi pelajaran kepada mereka, bahwa negara Indonesia adalah negara yang penuh warna, dihuni oleh ragam suku yang berbeda tetapi menghirup udara yang sama, dan memiliki presiden yang sama pula. Senyum rekah anak-anak peserta karnaval yang berarak di jalanan, meskipun harus terpapar polusi dan menyebabkan kemacetan. Gemuruh marching band membahana menguak seisi perkampungan dan memenuhi ruas jalan. Dan pengguna jalan pun harus mengalah, menginjak kopling gas untuk menunggu arak-arakan lewat. Semua menjadi penuh makna, ketika peristiwa yang berbeda dalam keseharian tersebut dilalui oleh seluruh masyarakat secara bersama-sama.
Malam Tsyakuran Hari Kemerdekaan (Surabaya, 16 Agustus 2014)
Ritual 17 Agustus juga mengajarkan sportivitas kepada warga dan anak-anak sekolah. Pribadi-pribadi sportif yang diharapkan muncul seiring dengan lomba-loma yang diadakan di hari 17 Agustus. Menang dan kalah akan dihadapi oleh peserta lomba dan pengikutnya. Dan, semua harus bisa menerima hasil akhirnya. 

Sungguh dalam makna peringatan 17 Agustus bagi seluruh masyarakat Indonesia. Dalam maknanya, karena bukan semata hura-hura dan ragam riuh arak-arakan musik dan barisan anak-anak dan warga yang berdandan aneka warna. Itulah hari kemerdekaan Republik Indonesia. Hari di mana naskah proklamasi yang dilantunkan 69 tahun yang lalu, kembali dilantunkan dan bergema memenuhi setiap lapangan saat upacara.

August 14, 2014

Kemerdekaan yang Diperingati

Pic. by Admin
Surabaya, CocoNotes - Euforia 17 Agustus sudah mulai terasa. Bendera mulai banyak dipancangkan di depan rumah, di depan bangunan kantor, dan di sepanjang jalan warna merah putih mendominasi, tidak hanya di kota, tetapi sampai di pelosok pedesaan. Merah putih berkibar menantang angkasa. Membuat haru setiap jiwa yang memandang kibarannya di alam luas.

Seluruh masyarakat pun mulai sibuk dengan aktivitas tujuh belasan. Mulai tingkat RT sampai kelurahan, sampai kecamatan, hingga sampai di tingkat negara. Para ketua RT menggerakkan warganya untuk mengecat gapura gang-gang di wilayah masing-masing dengan warna Merah Putih. Umbul-umbul warna merah putih pun mulai membentang di jalan raya. Aroma merah putih memenuhi nuansa di masing-masing wilayah RT.

Semua dikerjakan oleh masyarakat melalui kerja bakti, kerja sama dalam guyub, penuh gairah pembebasan. Bebas dari persaingan antarwarga, bebas dari pertengkaran, bebas dari syak wasangka, bebas dari iri hati, karena semua bergerak dalam satu semangat. Yaitu, semangat menyambut peringatan hari kemerdekaan.

Beragam lomba permainan khas tujuh belasan pun mulai digelar. Mulai dari lomba makan kerupuk, lomba gigit koin, lomba balap karung, lomba panjat pohon pinang (yang pastinya, bukan pohon pinang asli, tetapi pohon hadiah yang pohonnya dari batang bambu yang diolesi pelumas dan diujungnya ada banyak ragam hadiah yang bisa diambil oleh pemanjat), dan aneka ragam perlombaan lainnya.

Sementara itu, di lingkungan sekolah pun tidak ketinggalan. Latihan upacara kemerdekaan, paduan suara, latihan Paskibraka, karnaval dengan memakai baju adat, serta aneka lomba pun mulai dilaksanakan.

Sungguh, peringatan kemerdekaan 17 Agustus selalu disambut dengan warna-warni rasa anak bangsa. Semua dilakukan dengan bebas, dengan senang hati, dan sukarela. Dan, euforia tujuh belasan yang sedemikian bebasnya itu, adalah dambaan dalam perjalanan bangsa ini. Untuk bebas melangkah mencapai tujuan bangsa. Bebas untuk sekolah, bebas untuk makan, bebas untuk bekerja, bebas dan merdeka .... Sepanjang dalam koridor yang ditetapkan oleh penyelenggara negara, karena kebebasan mereka itu adalah kemerdekaan yang diperingati. Nah lo ....

CocoGress