August 18, 2014

Ritual 17 Agustus: Peringatan Hari Kemerdekaan

Barisan Karnaval (Surabaya, 17 Agustus 2014)
Surabaya, CocoNotes - Setiap peringatan hari besar, pasti tiada ritualitas-ritualitas yang dilakukan. Peringatan hari besar apa pun. Baik yang bersifat personal maupun kelembagaan. Sebut saja peringatan hari lahir, peringatan hari jadi, peringatan hari besar keagamaan, peringatan hari besar nasional, dan peringatan selebrasi lainnya, selalu ada ritualnya masing-masing.

Ritualitas tersebut merupakan esensi bahwa adanya hari ini adalah karena ada hari esok. Ritualisasi itu memberi makna kepada masyarakat bahwa setiap sesi kehidupan memiliki warnanya masing-masing. Dan, ketika sesi-sesi kehidupan itu menyatu, maka jadilah kehidupan menjadi warna-warni seperti pelangi.

Kembali kepada ritual-ritual di hari peringatan, maka ritual-ritual yang dilakukan dapat berfungsi sebagai pengingat (reminder) bagi masyarakat pelaku dan peserta selama peringatan. Ritual juga akan mengembalikan rasa kebersamaan, rasa memiliki (self belonging), rasa keberartian keberadaan (eksistensi) masing-masing individu di dalam masyarakat, dan kerelaan.

Bisa dibayangkan ketika tidak pernah ada yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa ketika dalam sehari-hari, masyarakat harus dilibatkan dalam ritualitasnya dan rutinitasnya masing-masing, maka kesunyian yang akan menghinggapi, karena monotonisme dan homogenitas aktivitas. Kebosanan pun akan melanda, karena tidak ada cerita lain yang menyengat rutinitas individualnya.

Karena itu, bersyukurlah, ketika ada ritual 17 Agustus sebagai hari peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia. Saat di mana bendera Merah Putih yang selama satu tahun terlibat bersih di dalam lemari harus kembali dikibarkan ke angkasa. Di halaman seluruh rumah-rumah warga. memberi warna jalanan.

Barisan Marching Band (Surabaya, 17 Agustus 2014)
Para Siswa-Siswi dalam Barisan Putih-putih (Surabaya, 17 Agustus 2014)
Anak-anak Taman-Kanak-kanak dalam Aneka Baju Adat (Surabaya, 17 Agustus 2014)
Warna-warni Pakaian Adat Nusantara (Surabaya, 17 Agustus 2014)
Demikian pula dengan aneka karnaval warga dan anak-anak sekolah. Yang memberi pelajaran kepada mereka, bahwa negara Indonesia adalah negara yang penuh warna, dihuni oleh ragam suku yang berbeda tetapi menghirup udara yang sama, dan memiliki presiden yang sama pula. Senyum rekah anak-anak peserta karnaval yang berarak di jalanan, meskipun harus terpapar polusi dan menyebabkan kemacetan. Gemuruh marching band membahana menguak seisi perkampungan dan memenuhi ruas jalan. Dan pengguna jalan pun harus mengalah, menginjak kopling gas untuk menunggu arak-arakan lewat. Semua menjadi penuh makna, ketika peristiwa yang berbeda dalam keseharian tersebut dilalui oleh seluruh masyarakat secara bersama-sama.
Malam Tsyakuran Hari Kemerdekaan (Surabaya, 16 Agustus 2014)
Ritual 17 Agustus juga mengajarkan sportivitas kepada warga dan anak-anak sekolah. Pribadi-pribadi sportif yang diharapkan muncul seiring dengan lomba-loma yang diadakan di hari 17 Agustus. Menang dan kalah akan dihadapi oleh peserta lomba dan pengikutnya. Dan, semua harus bisa menerima hasil akhirnya. 

Sungguh dalam makna peringatan 17 Agustus bagi seluruh masyarakat Indonesia. Dalam maknanya, karena bukan semata hura-hura dan ragam riuh arak-arakan musik dan barisan anak-anak dan warga yang berdandan aneka warna. Itulah hari kemerdekaan Republik Indonesia. Hari di mana naskah proklamasi yang dilantunkan 69 tahun yang lalu, kembali dilantunkan dan bergema memenuhi setiap lapangan saat upacara.

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates