August 16, 2014

Berdamai dengan Bencana, Belajar Menuai Makna

Surabaya, CocoNotes – Berita tentang bencana di Indonesia tidak ada habisnya, karena Indonesia memang negara rawan bencana. Bencana dalam bentuk apa saja, baik bencana sosial maupun bencana alam. Secara demografi, Indonesia memang rentan dengan bencana sosial, seperti konflik antarsuku, konflik di daerah perbatasan, dan lain-lain. Secara geografis, negara Indonesia memang merupakan negara yang rawan bencana alam. Masih banyaknya gunung berapi yang aktif, peta kerangka tektonik, posisi perairan di Indonesia, hingga siklus musim dan kapasitas aliran air. Itulah mengapa, ragam rupa dan rasa bencana alam seperti banjir, gunung meletus, gempa, tanah longsor, tsunami, puting beliung, sebagian besar wilayah di Indonesia.

Indonesia Negara Rawan Bencana
Bencana-bencana tersebut tentunya tidak terjadi begitu saja, tetapi memberi dampak bagi penduduk, mulai dampak fisik, psikis, infrastruktur, ekonomi, dan administrasi birokrasi. Harta dan nyawa, serta luka dan cacat fisik seringkali harus menyertai korban dan yang terdampak. Beban psikologis berupa trauma dan kehilangan akan menghantui hari-hari korban.

Sebagai negara yang rawan bencana dan telah seringkali mengalami bencana yang berdampak pada timbulnya korban, maka sebagai makhluk berakal, masyarakat Indonesia tidak bisa hanya diam dan menerima bencana yang menimpa. Karena Tuhan memberikan bencana dan karunia bukan tanpa hikmah. Karena itu, dengan akal, pikiran, dan hati serta nurani yang dibekalkan kepada manusia, bencana yang terjadi harus dibaca, dianalisa, dan dirasionalisasi agar dampak yang ditimbulkan tidak membawa trauma dan beban mental sosial bagi para korban. Setelah mengalami bencana dari tahun ke tahun, maka dapat diklasifikasi sifat keterjadian bencana di Indonesia, yaitu bencana yang bersifat berulang dan bencana yang bersifat tiba-tiba (sporadis).

Bencana yang Cenderung Berulang 

Secara umum, wilayah yang secara geografis rawan bencana, cenderung tertimpa bencana yang bersifat berulang. Banjir bandang yang menimpap negeri ini misalnya, cenderung akan terjadi pada saat musim hujan tiba. Dan, masyarakat di wilayah tersebut rata-rata telah terbiasa menghadapi banjir bandang yang turun temurun tersebut.

Sebut saja banjir bandang yang terjadi di tepian Bengawan Solo atau banjir yang kerap melanda Ibukota Jakarta. Di wilayah-wilayah tersebut, memang sudah menjadi kebiasaan untuk menghadapi banjir bandang. Rumah hanyut, harta benda juga terlarut dalam aliran air yang menggerus setiap yang dilewati tanpa ampun. Selain banjir bandang, gunung meletus juga memiliki sifat yang hampir sama, yaitu bersifat berulang dan terjadi di wilayah yang itu-itu saja. Oleh karena itu, penduduk yang berada di wilayah tersebut, mulai anak-anak sampapi lanjut usia, menjadikan peristiwa masa lalu sebagai pembelajaran, bagaimana harus bertindak ketika ada gejala datangnya bencana itu tiba.

Melihat sifat dan karakter bencana yang cenderung berulang tersebut, sepertinya sudah menyiratkan betapa telah terjadi 'persahabatan' antara bencana dengan masyarakat. Masyarakat akan menghadapi datangnya bencana tersebut dengan rela hati. Mereka hanya akan menangis pada saat bencana itu tiba, dan kembali beraktivitas ketika bencana mulai mereda. Dan, bahkan merasakan hikmah dan berkah dari bencana sempat menyapa.

Bencana Yang Tiba-tiba 

Namun demikian, ada juga bencana alam yang bersifat sporadis, bencana yang hanya terjadi pada kondisi alam tertentu saja, misalnya gempa bumi, tanah longsor, angin puting beliung, dan tsunami. Jenis-jenis bencana tersebut datangnya tidak hanya pada musim-musim tertentu, sehingga masyarakat harus menyiapkan diri pada setiap kemungkinan yang terjadi sewaktu-waktu.

Sebut saja bencana Tsunami yang melanda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004, sepuluh tahun lalu., merupakan bencana yang sangat besar sampai-sampai berdampak hingga ke luar negeri. Bahkan, bencana Tsunami di Aceh tersebut masih menjadi bencana paling terbesar salam satu dekade terakhir. Bencana yang memakan korban ratusan ribu jiwa dan menyisakan kepiluan yang mendalam. Bencana yang jika dibicarakan saat ini sekalipun, seolah-olah masih baru terjadi kemarin.

Karakter Bencana: Pencegahan dan Antisipasinya

Pencegahan dan Antisipasi Bencana 

Dengan mengetahui sifat bencana dan penyebabnya, maka dapat dilakukan klasifikasi bentuk dan penyebab bencana berdasarkan kebiasaan (nature) bencana dan dampaknya. Hal ini selanjutnya dapat dijadikan sebagai pelajaran bagaimana menghadapi sebuah bencana, meliputi:

Analisa pencegahan bencana. Di sini pertanyaannya adalah dapatkah bencana tersebut dicegah. Misalnya bencana banjir. Bencana banjir di wilayah tertentu yang penyebabnya adalah luapan air atau banjir kiriman, maka dapat dilakukan pencegahan banjir malalui pembentukan tanggul, resapan air, pengijauan di sekitar lokasi yang memiliki kebiasaan air meluap, dan lain-lain. Sementara untuk bencana gunung meletus, gempa bumi, angin puting beliung, dan sejenisnya, tentunya manusia tidak dapat mencegahnya. Namun, mengantisipasi keterjadiannya atas jatuhnya korban adalah keniscayaan, agar ketika bencana tersebut datang, masyarakat dapat menyambutnya dengan kesiapsiagaan.

Pencegahan jatuhnya korban. Pencegahan atau antisipasi atas jatuhnya korban dapat dilakukan melalui penyampaian informasi mengenai kemungkinan akan terjadinya bencana kepada masyarakat secara kontinyu dan berkesinambungan. Bahwa bencana dapat saja terjadi dengan tiba-tiba. Tanpa diduga sebelumnya. Hal ini dapat dilakukan melalui penyampaian informasi, komunikasi, penyuluhan serta sosialisasi tanggap bencana.

Dalam aktivitas sosialisasi, informasi, komunikasi, dan penyuluhan tanggap bencana ini, sangat penting mengelaborasi pemerintah (kebijakan, strategi dan program-program kebencanaan) dengan partisipasi masyarakat dan sektor pendidikan. Elaborasi ini akan menyinergikan tujuan tanggap siaga bencana di seluruh lapisan masyarakat, mulai anak-anak yang masih sekolah sampai masyarakat lanjut usis. Dengan demikian, seluruh lapisan masyarakat sadar mengenai keniscayaan akan datangnya sebuah bencana dan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana itu datang. Baik melakukan untuk penyelamatan diri sendiri maupun orang lain.

Perlakuan penanganan korban bencana. Perlakuan (treatment) dalam penanganan korban bencana merupakan upaya-upaya dalam penanganan bencana, mulai evakuasi penduduk, penyiapan barak-barak pengungsian, penanganan korban yang panik, korban terluka, distribusi kebutuhan pokok, sampai penyediaan fasilitas darurat yang bersifat pokok (sandang, pangan, papan, air bersih), sampai fasilitas penerangan dan telekomunikasi, serta fasilitas pendukung lainnya.

Sekali lagi, dalam perlakuan penanganan korban bencana, juga diperlukan adanya elaborasi antara pemerintah, partisipasi masyarakat, dan pendidikan, karena ketiga elemen ini merupakan pusat arah gerak ketanggapsiagaan bencana. Pemerintah dengan kebijakan, strategi, dan program-programnya akan mengarahkan gerak masyarakat dan lembaga pendidikan menjadi sebuah sinergi yang searah dalam mensosialisasikan keniscayaan terjadinya suatu bencana dan dampak bencana bagi masyarakat. Dengan demikian, program simulasi tanggap bencana yang melibatkan ketiga pihak menjadi sebuah pilihan agar masing-masing elemen tidak bergerak secara parsial.

Simulasi tanggap bencana. Simulasi tanggap bencana merupakan bagian dari program sosialisasi, komunikasi, dan informasi kepada masyarakat untuk tanggap bencana. Melalui simulasi, masyarakat akan sadar mengenai apa saja yang dapat dilakukan saat terjadi bencana. Tentunya, pelaksanaan simulasi ini dilakukan dengan perencanaan yang terstruktur sesuai dengan skala prioritas kemungkinan terjadinya bencana dan jenis bencananya. Pengawalan atas pelaksanaan perencanaan program simulasi juga menjadi sebuah keharusan, sehingga dapat diketahui efektivitas simulasi yang dilakukan tanpa harus menunggu jatuhnya korban dalam bencana yang sesungguhnya.

Simulasi atas APA yang terjadi, BAGAIMANA harus bertindak untuk menyelamatkan diri, KE MANA harus melangkah, SIAPA dan APA yang harus diselamatkan, dan kemungkinan-kemungkinan lain harus disampaikan selama simulasi. 

Dan yang lebih penting adalah, jangkauan simulasi. Bahwa, seluruh lapisan masyarakat harus terjangkau dalam proses simulasi. Mulai anak-anak sampai masyarakat lanjut usia, karena semua lapisan masyarakat harus sadar dan tanggap akan keterjadian bencana. Pastinya, juga dengan metode simulasi yang tepat pula.

Penanganan Rehabilitasi, merupakan bentuk penanganan atas dampak bencana. Di sini,diperlukan proses pendataan jenis dampak bencana, baik dampak fisik, psikologis, admiinistrasi, birokrasi, sosial, infrastruktur. Penanganan rehabilitasi yang tepat dengan skala prioritas yang jelas melalui manajemen rehabilitasi (planning, actuating, organizing, leading and staffing, coordinaing, monitoring, evaluating) - dan melalui tahapan plan - do - check - re-check akan menjadi proses dan tahapan yang berimbang ketika ada partisipasi semua pihak, mulai pemerintah, lembaga riset kebencanaan, partisipasi masyarakat, dan selutuh lembaga yang berkaitan dengan jenis dan bentuk dampak.


Bencana adalah Pelajaran, Tinggal Bagaimana Menuai Maknanya 

Bencana Tsunami (Sumber Gambar: TDMRC)
Bencana adalah keniscayaan atas gerak alam yang berdampak pada penderitaan bagi manusia, baik penderitaan karena kehilangan harta, kehilangan anggota badan, dan bahkan kehilangan anggota keluarga dan kerabat, serta kehilangan pikiran, depresi, trauma, dan segala macam jenis penderitaan lainnya. Namun demikian, bencana yang datang tidak dapat dihindari. Semua adalah pelajaran yang harus diambil makna dan hikmahnya. Karena dari bencana itu diringi oleh kembalinya rasa empati dan simpati, tumbuhnya kebersamaan dan persaudaraan, serta berkah kesuburan lahan di sekitar bencana, berkah keluarnya harta kekayaan tanah air yang selama ini terimbun baik berupa pasir, debu vulkanik, maupun bebatuan. Semua adalah berkah dan karunia.

Oleh karena itu, seyogyanya masyarakat siap siaga menyambut datangnya bencana yang tiba-tiba dengan segenap akal budi, bukan keluh kesah tanpa makna. Mengambil pelajaran dari derita dan tangis perih yang pernah menimpa, agar keperihan dan penderitaan yang sama tidak berulang pada bencana serupa dan dengan tingkat derajad yang sama.

TDMRC: Sebuah Langkah untuk Berdamai dengan Bencana

TDMRC (Tsunami and Disaster Mitigation Research Center) atau Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana merupakan sebuah langkah yang diambil untuk meminimalisir korban bencana alam melalui peningkatan masyarakat tahan bencana. 

Sebagai bentuk keibaan atas telah terjadinya bencana Tsunami yang melanda Aceh 10 tahun silam, pusat riset kebencanaan yang didirikan sejak 30 Oktober 2006 ini memiliki tujuan mulia, yaitu meningkatkan sumberdaya riset kebencanaan yang berkualitas, memberikan advokasi pada pemerintah dalam membuat kebijakan, mengumpulkan dan menyediakan data terbaik dengan mempercepat proses pengumpulan data yang tepat berkaitan dengan dampak dari bencana.

TDMRC yang berpusat di Universitas Syiah Kuala, Nanggroe Aceh Darussalam, Banda Aceh, ini melakukan kolaborasi dengan para peneliti dan lembaga riset lain guna memperkaya dan memperdalam riset kebencanaan, sehingga dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan masyarakat tahan bencana. Bencana Tsunami 10 tahun silam merupakan pelajaran yang berharga dan harus dipetik hikmahnya dengan bijak. 
Lomba Blog Kebencanaan

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates