October 18, 2013

Flexi Time aka Flexible Time: Semua Pasti Suka

Dengan flexi time, terutama coreless flexi time, kerja bisa dilakukan dengan serius tetapi santai (tetapi bukan pekerjaannya sersan ...) dan memiliki kendali atas pekerjaan sendiri, siapa yang tidak mau. 
Surabaya, CocoNotes - Pertanyaannya sekarang adalah, sudah layakkah pilihan flexi time tersebut untuk diterapkan dalam budaya kerja di Indonesia? Mengingat .... fakta yang dihadapi oleh perusahaan adalah bahwa daya saing pekerja di Indonesia masih tergolong rendah. Berdasarkan laporan dari UNDP yang disampaikan dalam explanatory note on 2011 HDR composite indices, terbukti bahwa pada tahun 2011 dan 2010, daya saing Indonesia masih dalam peringkat bawah. Jika pada tahun 2011 Index Human Development (HDI) Indonesia berada di urutan 124 dari 187 negara dengan nilai HDI masih berada pada kategori medium, yaitu sebesar 0,617 dan pada tahun 2010 memperoleh peringkat 125 dari 187 negara (artinya tahun 2011 ada peningkatan satu level). NAMUN, jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Pasifik dan Philipina yang mampu mencapai nilai HDI sampai 0,671 (Negara-negara Asia Pasifik) dan 0,644 (Philipina), maka Indonesia masih lebih rendah (UNDP, 2011), dan bahkan jauh lebih rendah dari Jepang yang memiliki nilai HDI 0,901 dan duduk di peringkat 12 (hdr.undp.org, 2011). 

Budaya Kerja Pekerja 3 AIB

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen salah satu perusahaan nasional di Indonesia (Bapak M. Hashimoto dari PT Karunia Hosana) terangkum budaya kerja pekerja Indonesia dengan istilah 3 AIB, yaitu asal-asalan, akal-akalan, angin-anginan, ikut-ikutan, dan boros. Nah, budaya kerja yang seperti itu apakah cocok bagi perusahaan untuk menerapkan flexi time? Pastinya, kita sendiri yang bisa menjawabnya dari relung hati yang paling dalam, atau jika tetap tidak tahu jawabannya, bisa pinjam istilahnya Ebiet G Ade, tanyakan pada rumput yang bergoyang? Jika ada angin bertiup maka mereka akan menggeleng-geleng kiri kanan dan berputar.... 

Pilih Mana: Flexi Time atau Fixed Time
Lantas, apa itu flexi time aka flexible time? Flexi time atau flexible time adalah tipe pengaturan waktu kerja yang memberlakukan jumlah jam kerja minimal dalam satu hari yang tidak menetapkan jam mulai dan jam selesai kerja, tetapi masih tetap ada core time. Core time adalah periode waktu yang mengharuskan pegawai untuk bekerja. Artinya, tetap harus ngantor atau ngerja pada saat core time
Dengan budaya kerja pekerja di Indonesia yang sedemikian rupanya, yang dirangkum dalam 3 AIB, sebagaimana yang disebutkan di muka, maka mayoritas perusahaan di Indonesia masih belum banyak yang menerapkan tipe flexi time bagi karyawan, dan lebih memiliki tipe pengaturan waktu fixed time, yaitu pengaturan waktu saklek. Dengan fixed time, pengaturan waktu kerja ditetapkan kapan jam mulai kerja, jam selesai kerja dan jumlah jam kerja minimal dalam satu hari. Artinya, karyawan didekte, kapan mulai kerja, kapan istirahat, kapan menyelesaikannya, apa yang harus dilakukan selama jam kerja, bagaimana cara menyelesaikan pekerjaan, bagaimana harus melaporkan hasil kerja, dan seabreg aturan-aturan agar karyawan disiplin. 

Coreless Flexi Time yang Paling Diminati

Dan pastinya, yang paling diminati karyawan adalah tipe yang satu ini, yaitu tipe coreless flex-time, yaitu tipe pengaturan waktu yang memberlakukan jumlah jam kerja minimal dalam satu hari tapi tidak ada core time dan tidak menetapkan jam mulai dan jam selesai kerja. Andai saja, budaya kerja pekerja bangsa ini sudah layak untuk diklasifikasi dalam budaya kerja yang berdaya saing tinggi, yang memperhatikan quality, consistency, inovation, confident, dan efficiency, maka penerapan coreless flexi time adalah pilihan bijak dan tepat bagi perusahaan dalam mendukung produktivitas dan profesionalisme pekerja, yang juga mendukung keberhasilan pembangunan nasional, yaitu mewujudkan kesejahteraan masyarakat (kesejahteraan fisik, psikologis, dan spiritual). 

Image: twitpic @Daihatsu
Bukankah dengan bekerja yang pada waktu yang fleksibel maka karyawan bisa melatih kedisiplinan diri, melatih pengendalian diri dan pengendalian pekerjaan, sehingga kepuasan kerja akan lebih bisa dirasakan, dan kepuasan ini akan menjadi semangat tersendiri untuk lebih bergairah dalam bekerja dan lebih produktif. Selain merasakan kepuasan kerja, karyawan juga akan terhindar dari tekanan kerja, stress kerja, beban kerja (burnout) de el el ....

2 komentar:

HP Yitno said...

jangan ngomong asal-asalan, akal-akalan. Masih banyak pekerja indonesia yang telaten.

coco nut said...

hehehe... itu yang ngerumuskan budaya kerjanya 3 AIB juga pendiri dan pengelola perusahaannya, berdasarkan pengalaman beliau juga hhehhhee...

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates