August 25, 2014

Jangan Jual Beras Kita

Nasi Putih Pangan Pokok Masyarakat Indonesia (pic. Surabaya, 2013)
Surabaya, CocoNotes - Ini adalah sekelumit kisah dari sebuah keluarga muda. Sang Kepala Keluarga, Ayah, bekerja di salah satu perusahaan besar skala nasional yang sudah go public. Secara penghasilan, si Ayah sudah mencukupi kebutuhan keluarga. Apalagi si Ayah memiliki manajemen keuangan tradisional yang mengklasifikasi gajinya sesuai kebutuhan.

Sementara sang isteri, yang di masa lajangnya bekerja kantoran, dimintanya untuk berhenti bekerja. Sang isteri diminta menjadi ibu rumah tangga. Jikalaupun ingin bekerja, carilah pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Sehingga ketika anak-anak pulang sekolah, akan ada ibu yang menyambut kelelahan putra-putrinya usai belajar dan menempuh perjalanan dari sekolah ke rumah -pastinya juga dengan kesah dan curhatan anak-anak. Selain itu juga ada makanan tersedia di meja makan dan minuman penghapus dahaga setelah menempuh perjalanan.

Melalui deretan catatan kebutuhan rumah tangga yang telah didiskusikan bersama isteri, Ayah menyisihkan gajinya bukan untuk uang belanja rumah tangga. Beliau membagi-bagi gajinya secara tradisional sekali. Mulai kebutuhan rumah tangga, kebutuhan isteri, kebutuhan anak-anak, dan kebutuhan Ayah sendiri. Klasifikasi pembagian pendapatan tersebut memudahkan Ayah dan anggota keluarga ketika mereka masing-masing memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi yang bersifat personal.

Melalui manajemen keuangan keluarga tersebut, keluarga ini anak-anak dapat menabung, isteri juga leluasa mengelola uang pribadinya tanpa terganggu dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangga, dan si Ayah dapat membeli mobil dan melakukan renovasi rumah, serta membeli tanah kosong di sebelah rumah. Dan, pemenuhan kebutuhan rumah tangga pun tetap berjalan seperti biasa.

Satu hal yang cukup menarik dari prinsip si Ayah adalah Ayah melarang menjual beras. Sebagai karyawan di perusahaan besar, si Ayah mendapatkan jatah beras, isteri juga, anak pertama dan kedua juga memperoleh jatah beras untuk satu bulan. Sementara anak ketiga dan keempat mendapatkan jatah separuh dari jatah beras keempatnya.

Besaran jatah beras tersebut bisa dikatakan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Setiap bulan, selalu saja ada sisa beras tersisa di tempat beras. Sang isteri memiliki ide untuk menjual sisa beras itu ke tetangga atau ke toko kelontong di seberang jalan. Tetapi, si Ayah melarang sang isteri melakukan hal itu. "Jangan jual beras kita. Itu pangan kita. Jikalaupun ada lebih, berikan kepada orang yang kekurangan."

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates