August 24, 2014

Universitas Terbuka, Inovasi Pendidikan Tinggi Jarak Jauh untuk Indonesia Berprestasi

Surabaya, CocoNotes - Pendidikan merupakan salah satu indikasi tingkat kualitas sumberdaya manusia dalam sebuah bangsa. Berdasarkan data dari UNDP (United Nations Development Program), indeks kualitas sumberdaya manusia Indonesia pada tahun 2013 berada di bawah negara lain di dunia dan bahkan di Asia Tenggara, seperti Sri Lanka, Thailand, Malaysia, dan Singapura.
Indeks Pengembangan SDM (Sumber: UNDP, 2014)
Meraih pendidikan setinggi-tingginya itu sendiri merupakan hak setiap warga negara. Namun, pada kenyataannya, tidak semua warga dapat meraihnya dengan mudah. Keterbatasan biaya, waktu, dan tenaga menjadikan masih banyak warga negara yang tidak dapat meraih pendidikan yang lebih tinggi.
Hingga tahun 2013, angka partisipasi murni masyarakat dalam pendidikan tinggi jauh lebih rendah dibandingkan dengan pendidikan dasar dan menengah.
Angka Partisipasi Murni (Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014)
Hal ini berdampak pada rendahnya tingkat pendidikan angkatan kerja, yang pada akhirnya berdampak pada rendahnya produktivitas kerja. Sehingga prestasi bangsa Indonesia untuk bersaing global dan regional pun rendah.
Dominasi Pendidikan Angkatan Kerja di Indonesia dan Posisi Daya Saing Indonesia di Asia Tenggara (Sumber: Hakim, 2013)
Rendahnya komposisi penduduk yang berpendidikan tinggi di Indonesia tersebut bukan disebabkan oleh tidak adanya kemauan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan, namun karena adanya faktor lain yang mempengaruhinya. Beberapa faktor tersebut di antaranya adalah keterbatasan biaya, tenaga, dan waktu yang memberikan pengaruh baik secara parsial maupun simultan.
Sebagai contoh, seorang lulusan SMA/SMK (Sekolah Menengah Atas/Kejuruan) yang telah lulus, namun berasal dari keluarga dengan status ekonomi rendah, sehingga harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Kondisi anak muda ini dipengaruhi oleh keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya secara bersamaan. Hal berbeda dapat terjadi pada seorang eksekutif atau karyawan yang telah mapan secara finansial, tetapi secara waktu dan tenaga tidak mencukupi. Padahal ada keinginan untuk melanjutkan pendidikan hingga S1 atau S2, maka keterbatasan waktu dan tenaga menjadi faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan.

Universitas Terbuka: Inovasi Pendidikan Jarak Jauh, Jangkau Seluruh Lapisan Masyarakat Indonesia Untuk Meraih Prestasi

Universitas Terbuka didirikan pada tahun 1984 sebagai Perguruan Tinggi Negeri ke-45 di Indonesia dengan tujuan awal untuk penyetaraan pendidikan guru melalui program pendidikan dasar (pendas). Pada masa itu, kebanyakan guru, terutama guru Sekolah Dasar, adalah lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) dan PGA (Pendidikan Guru Agama) yang setara dengan lulusan SMA/SMK.
Dengan adanya Universitas Terbuka, para guru tersebut dapat tetap melanjutkan studinya ke tingkat pendidikan tinggi tanpa mengganggu aktivitas mengajar mereka.
Melihat fenomena di atas Universitas Terbuka (UT) yang pada awalnya hanya menjangkau penyetaraan guru-guru melalui program pendidikan dasar (Pendas) mulai melebarkan jangkauan program pendidikan nonpendidikan dasar (nonpendas). Ragam inovasi pun dilakukan oleh Universitas Terbuka dalam penyelenggaraan program pendidikan tinggi bagi masyarakat luas. Mulai dari kemudahan sistem pendaftaran, kemurahan dan kemudahan pembayaran, sampai kemudahan proses belajar mengajar.
Dengan demikian, setiap orang yang memiliki kemauan belajar yang tinggi dapat mengikuti kuliah di Universitas Terbuka dengan lebih mudah, murah, fleksibel, dan berkualitas.

Mudah 

Sumber: Official Website UT
Melalui sistem pendaftaran yang dibuka di UPBJJ (Unit Program Belajar Jarak Jauh) terdekat, serta dengan sistem kuliah yang bersifat mandiri, tanpa harus selalu hadir di ruang kuliah secara reguler, para guru tersebut mendapatkan kemudahan untuk meningkatkan kualitas keilmuannya, sehingga dapat menyampaikan ilmu kepada para siswanya dengan metode dan media pembelajaran yang lebih berkualitas pula. Di mana pada akhirnya akan mampu mencetak generasi unggul berprestasi.

Kemudahan sistem pembelajaran di UT tersebut selanjutnya diperluas bagi seluruh masyarakat, yaitu dengan dibukanya program nonpendidikan dasar (nonpendas) untuk umum (non guru). Jenjang pendidikan yang dibuka pun bukan hanya sebatas Strata 1, tetapi juga D3, D4, dan S2. Mulai dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), meliputi Sastra, Komunikasi, Ilmu Administrasi, Hukumn, dll; Fakultas Ekonomi, meliputi manajemen, akuntansi; dan FMIPA.

Kemudahan-kemudahan banyak diberikan oleh UT bagi masyarakat, mulai dari syarat usia, kelulusan, sampai jenis ijazah. Usia berapapun boleh daftar di UT, demikian juga dengan tahun kelulusan, serta jenis ijazah SMA/SMK yang dimiliki. Bahkan peserta program Paket C pun boleh mendaftar di UT. Tidak heran, jika peminat UT mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Murah 

Murahnya pendidikan di Universitas Terbuka ditunjukkan dari ringannya biaya yang harus dikeluarkan oleh mahasiswa. Betapa tidak, biaya yang dikeluarkan hanya biaya pendaftaran dan biaya per SKS. Tidak ada uang gedung dan biaya sarana dan prasarana lainnya. Hal ini, karena meskipun UT memiliki Gedung dan Wisma Universitas Terbuka di Jalan Pondok Cabe, Tangerang, Banten; serta UPBJJ di seluruh provinsi dan bahkan di luar negeri, namun aktivitas reguler perkuliahan dapat diselenggarakan di luar gedung-gedung tersebut. Tergantung pilihan mahasiswanya.
Biaya tersebut akan semakin murah, jika mahasiswa dapat mengatur dan memanfaatkan bahan ajar turorial online dan modul kuliah yang disediakan di Toko Online Karunika. Berdasarkan pengalaman salah satu mahasiswa, kisaran biaya kuliah yang dikeluarkan mulai kuliah sampai lulus hanya sekitar 1,5 juta.

Fleksibel 

Penyelenggaraan sistem pendidikan di UT mulai pendaftaran, proses belajar mengajar, ujian, sampai wisuda sangat fleksibel. Pendaftaran misalnya, dapat dilakukan melalui online di www.ut.ac.id atau melalui UPBJJ terdekat. Sementara untuk sistem perkuliahan, ada tiga pilihan, yaitu Tuton (tutorial online) yang dapat diakses melalui student.ut.ac.id, TTM (Tutorial Tatap Muka), dan Mandiri. Setiap mahasiswa diperbolehkan memilih sistem tersebut, baik memilih salah satu maupun mengombinasikannya.

Fleksibilitas lainnya adalah bahwa ujian dapat dilakukan secara tertulis maupun secara online. Meskipun demikian, mahasiswa tidak dapat saling mencontek, karena sistem soal ujian yang diacak sedemikian rupa. Apalagi, peserta ujian juga biasanya tidak saling kenal, sehingga kemungkinan untuk melakukan kecurangan sangat kecil.

Selain itu, untuk kelulusan, mahasiswa tidak harus mengerjakan skripsi. Dengan demikian, mahasiswa terbebas dari penyusunan skripsi dan tesis yang selama ini menjadi momok bagi mahasiswa secara umum. Meskipun demikian, sejak tahin 2013, ada kebijakan bahwa mahasiswa diharuskan menyusun TAP (Tugas Akhir Program) berupa karya ilmiah, yang bisa dipresentasikan atau tidak. Yang penting adalah karya ilmiah tersebut benar-benar ilmiah dan bebas plagiat. Untuk wisuda, maka bagi mahasiswa yang mendapatkan nilai IPK minimal 3,00 mendapatkan kesempatan untuk mengikuti wisuda di Gedung Pusat bersama wisudawan dna wisudawati lainnya.

Berkualitas 

Meskipun mudah dan murah, serta fleksibel, namun Universitas Terbuka tetap memperhatikan kualitas pendidikan, baik dari sisi proses maupun hasil. Bahan ajar UT sudah terstandardisasi sesuai dengan ISO 9001. Selain itu, juga sudah disesuaikan dengan standar internasional ICDE (International Council for Distance Education).
Dengan demikian, lulusan atau ijazahnya tidak hanya diakui di dalam negeri saja, tetapi juga diakui di luar negeri. Terlebih, saat ini, UT juga telah membuka UPBJJ di luar negeri, yaitu di Malaysia, Korea, dan Hongkong. Sehingga, warga negara Indonesia di negara-negara tersebut mendapatkan kemudahan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, di saat mereka tengah merantau sekalipun.

Inovasi Pendidikan Tinggi Untuk Indonesia Berprestasi

Uraian tentang Universitas Terbuka di muka menunjukkan bahwa Universitas Terbuka merupakan Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia yang menerapkan pendidikan tinggi jarak jauh yang mudah, murah, fleksibel, dan berkualitas.
Kemudahan dan fleksibilitas sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan oleh Universitas Terbuka tersebut memperluas jangkauan pendidikan, baik secara geografi, demografi, maupun psikografi penduduk. Dengan demikian, jumlah masyarakat yang mampu mencapai tingkat pendidikan tinggi akan semakin meningkat.  Berdasarkan data dari official website UT, sampai 2 Juni 2014 tercatat ada 433.763 mahasiswa yang terdaftar di UT dan tersebar dalam beberapa Fakultas.
Komposisi Jumlah Mahasiswa UT, per 2 Juni 2014 (Sumber: Official Website UT)

Bagi mahasiswa yang memiliki kemauan belajar keras, UT dapat menjadi wahana untuk memperluas wacana keilmuannya. Sebut saja MN (perempuan, 24 tahun, menikah, penulis novel remaja dan pendidik), selain mengikuti mata kuliah di Fakultas Tarbiyah di salah satu PTS di Surabaya, MN juga menyelesaikan Program Studi Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di UT dan telah di wisuda di Gedung Pusat pada bulan April 2014. MN yang telah bekerja dan menikah tersebut mampu menyelesaikan kuliah mandirinya di UT setelah menempuh pendidikan selama 3,5 tahun. Dengan demikian, dalam waktu yang bersamaan, MN mampu menyelesaikan dua gelar kesarjanaan sekaligus.


Akhirnya, uraian terkait Universitas Terbuka dan Inovasi Pendidikan Tinggi Jarak Jauh di atas dapat disimpulkan bahwa inovasi pendidikan tinggi jarak jauh yang telah dilakukan oleh UT telah banyak memberi kemudahan bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas keilmuan mereka. Melalui terobosan inovatif yang dilakukan oleh Universitas Terbuka, pendidikan tinggi bukan lagi hanya milik mereka-mereka yang berusia muda, berstatus ekonomi mapan, dan memiliki banyak waktu untuk belajar formal. Namun milik semua masyarakat di manapun dan usia berapa pun, berprofesi sebagai apa saja, asalkan memiliki kemauan untuk terus belajar dan belajar dan memperbaiki kualitas diri, pribadi, dan lingkungan sekitarnya.
Dengan demikian, masyarakat Indonesia dapat melangkah untuk meraih reputasi dan daya saing yang lebih tinggi, menyongsong masa depan bangsa Indonesia yang berprestasi.

Referensi:
  • Biro Pusat Statistik. (2014). Indikator Pendidikan, 1994-2013. http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=28&notab=1 
  • Hakim, Lukman Nul. (2013). Meningkatkan Kualitas Perguruan Tinggi Lokal Melalui Internasionalisasi Pendidikan Tinggi. Info Singkat. Vol.V, No. 20/II/P3DI/Oktober/2013. Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI), Sekretariat Jenderal DPR RI. 
  • Official Website Universitas Terbuka, www.ut.ac.id 
  • UNDP – United Nations Development Programme. (2014). 2014 Human Development Statistical Tables. http://hdr.undp.org/en/data 

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates