August 23, 2014

Kalau Masih Harus Impor, Mengapa Yang Sudah Ada Justru Diekspor?

Pic. By Niko Setiawan, 17 Agustus 20104, Kediri
Surabaya, CocoNotes - Judul di atas bisa jadi hanya menjadi pertanyaan 'masyarakat awam' yang berpikirnya sangat sederhana dan mikro. Bukan dari perspektif ekspert yang makro dan holistik.

Tapi pertanyaan tersebut bisa jadi sebenarnya bisa menjadi media instropeksi bagi kita semua. "Ketika konsumsi dalam negeri saja masih harus dipenuhi dari luar negeri, mengapa hasil bumi yang bisa dikonsumsi sendiri kok dijual ke luar negeri?".

Ada sekelumit cerita sekitar tahun 2011an.
"Tiba-tiba si A yang sudah sekian belas tahun tinggal di Surabaya dan jarang pulang ke kampung merasa kangen sekali dengan masakan tradisional desanya. Sayur asem daun lembayung dan kecipir, sambal terasi tanpa tomat, ikan pindang layang, serta rajungan. Dia pun memesan ke ayahnya untuk membawakan rajungan ke Surabaya. Di Surabaya, kebanyakan yang dijual adalah kepiting, yang meskipun hampir sama bentuknya dengan rajungan, tetapi rasa dan tekstur dagingnya berbeda. Ya, si A hanya ingin mengenang rajungan yang dulu sering menggoyang lidahnya.

Hingga akhirnya, ayahnya pun memenuhi pesanannya tersebut. Saat beliau berkunjung ke Surabaya, beliau membawa dua kotak rajungan yang sudah dimasak. Dibelinya rajungan tersebut di rumah makan yang banyak tersebar di pesisir pantai utara. Namun, rajungan yang dibawa tersebut kurus-kurus. Tidak sesuai dengan bayangan A. Rajungan besar yang dulu sering dimakannya di waktu kecil. Yang dagingnya manis dan gurih terselip di sela-sela cangkangnya. Serta sensasi daging yang masih lekat di lidah itu tidak lagi bisa ditemukan dalam rajungan-rajungan yang kurus-kurus itu.

Mengapa rajungannya kurus-kurus begitu. Padahal rajungan itu dibeli oleh ayahnya di rumah makan. Yang seharusnya memiliki kualitas pilihan bahan baku yang bagus. Segar dan berisi. Saat itu, ayahnya menjelaskan bahwa saat ini, rajungan-rajungan, udang-udangan, dan ikan dari laut disortir di TPI. Ikan-ikan yang bagus disisihkan untuk diambil oleh pengekspor untuk dilayarkan ke luar negeri. Sementara, yang kecil-kecil dan kurus-kurus disortir lagi berdasarkan kualitasnya untuk dijual kepada penduduk.

Hingga akhirnya, ketika dia menemukan temannya semasa SMA yang masih bekerja sebagai nelayan di wilayah pesisir Pantura. Dia pun kembali menyampaikan kekangenannya akan rajungan. Dia menceritakan pengalamannya kemarin waktu memesan rajungan kepada ayahnya. Dan, penjelasannya pun sama. Rajungan-rajungan, udang-udangan, dan ikan yang berkualifikasi ekspor memang telah diolah untuk permintaan ekspor. Baik diolah dalam bentuk frozen mentah maupun setengah jadi. "
Hmmm ... sekelumit kisah itu menjadi salah satu pendukung fakta, bahwa tidak mengherankan jika masih banyak penduduk kurang gizi di negeri ini. Meskipun negeri ini negeri yang kaya dengan sumber alam yang melimpah ruah.

Yups, Negara Indonesia adalah negara agraris dan juga negara maritim. Tidak seharusnya negara ini tidak bisa mencukupi kebutuhan sumber pangan semacam kedelai, jagung, daging, dan bahkan beras. Tidak seharusnya juga banyak anak kurang gizi di negeri ini karena kekayaan laut dan buminya yang melimpah. Tanah yang subur makmur dan kaya. Yang kata Koes Plus bahwa tongkat, kayu pun bisa menjadi tanaman. Bukankah singkong pun bisa tumbuh hanya dengan menancapkan potongan-potongan kayunya. Dan, tunas pun bertumbuh dan umbi pun mulai menancap ke bumi, mecari celah untuk mengisi energi agar kandungan karbohidrat dalam umbi siap untuk dikonsumsi oleh penduduk.

Namun, ternyata, negeri yang kaya ini masih harus "membeli" dari luar negeri, makanan yang harus dikonsumsinya. Yang pastinya, makanan impor itu hanya bisa dibeli sebagian penduduk kalangan atas. Sementara untuk kalangan bawah, harus rela mengonsumsi makanan yang tidak berkualifikasi sebagai makanan layak jual (layak ekspor). Mengapakah, tidak ada strategi untuk memenuhi kebutuhan domestik dahulu, dan baru mengeskpor komoditi jenis tertentu setelah kebutuhan domestiknya terpenuhi. Hal ini terutama pada komoditi pangan.

Mungkin bagi para ekspert dan pakar, pemikiran seperti itu sangat dangkal dan mikro. Memproduksi pangan dalam negeri untuk dikonsumsi sendiri, dan jika ada lebih baru diekspor. Sehingga penduduk di dalam negeri akan mendapatkan asupan gizi yang memadai. Pun distribusi pendapatan antara produsen pangan level pertama (petani) dengan produsen level kedua dan seterusnya (dietributio pangan dan hasil olahan) dapat bersinergi dengan produsin sektor industri lain di dalam negeri. Dan, yang diekspor adalah bahan olahan yang berkualitas, bukan lagi bahan mentah yang masih diolah. Pastinya juga dampaknya adalah penggunaan tenaga kerja. Yang dampak lainnya juga, mengurangi pengangguran dan mengurangi ekspor tenaga kerja Indonesia. 

Sekali lagi, uraian ini hanya didasarkan pada 'hayalan' orang awam yang jauh dari keilmuekonomian modern.

Lanjut dengan kisah: Jangan Jual Beras Kita.

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates