November 2, 2014

Suara Rakyat, Bukan Suara Aristokrat Birokrat

Surabaya, CocoNotes - Rakyat Indonesia memang sangat banyak dan besar. 250 juta penduduk. Sangat banyak bukan? Jika dalam sebuah keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, dan seorang anak saja bisa terjadi perbedaan, apalagi dalam sebuah negara yang sedemikian besar dan terdiri atas pulau-pulau. 

Tidak salah jika para pendiri negara ini membuat semboyan Bhineka Tunggal Ika. Kemudian juga menyusun Dasar Negara Pancasila, demi tercapainya keserasian dalam hidup berbangsa dan bernegara yang damai dan tetap merdeka. Merdeka secara sosial dan merdeka secara fisik. 
Sungguh, the founding fathers bangsa ini telah sedemikian cerdas dan smart dalam membawa bangsa ini. Dan mewanti-wanti untuk jangan lupa sejarah. Karena sejarah memberi hikmah dan fatwa. Untuk kebaikan bersama, bukan kebaikan beliau-beliau semata. 

Fakta hebat saat ini adalah kembalinya suara rakyat, suara yang pernah terbungkam karena tradisi kini mulai bersuara. Ya, sejak digulirkannya era reformasi bersamaan dengan tumbangnya era orde baru, rakyat mulai kembali bisa bersuara tanpa takut ditangkap, istilahnya wkatu itu disebut dengan 'Petrus'. 
So, jika rakyat tidak puas dengan kinerja aparat pemerintah maupun siapa saja, maka dengan mudah menyuarakannya. Terutama dengan semakin berkembangnya teknologi informasi, penggunaan internet yang 'merajalela' maka rakyat pun semakin mudah untuk menyampaikan uneg-unegnya. Seperti juga yang dulu disampaikan oleh Vita Hutagalung yang mengkritisi kegiatan dan hobby Ibu Ani Susilo Bambang Yudoyono melalui 'surat cinta'nya waktu itu (sebagai pengingat, nih ada juga Link yang terkait). 

Nah, bagaimana pula negara mengaturnya. Dengan Hukum. Itulah maka dikeluarkan UU ITE agar tertib bersosmed ria. Dengan demikian, tidak perlu lagi merasa takut jika rakyat bersuara. Lagipula, bangsa Indonesia yang kental dengan budaya timur yang santun dan toleran, tidak akan bersuara melebihi batas. Masih ada tata krama dan kalimat-kalimat halus yang sarkastik paradoks yang digunakan untuk menghina dan mengkritisi. Nah, jika yang dikritisi dan disindir tidak merasa, maka berdemolah akhirnya. Maka budaya 'carok' pun siap untuk maju. Uuuu .. hui.... Ahemmm ... 
Reog Ponorogo (Pic. by Nur Muhammad, 28 September 2014, Mojokerto)
Sekali lagi, tidak perlu membungkam suara rakyat. Suara rakyat diperlukan untuk banyak hal. Keluhan, kritikan, dan hujatan adalah informasi yang disampaikan oleh rakyat. Itu adalah suara mereka. Suara itu pastinya juga diperlukan untuk mengantar mereka-mereka menuju kursi-kursi empuk di singgasana nan megah. Dan, jika ada satu dua suara rakyat yang kurang dan tidak berkenan di hati pejabat, maka memang seperti itulah suara rakyat. Karena mereka adalah rakyat, bukan aristokrat birokrat ....

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates