October 28, 2014

Merokok dan Menteri Bertato: Sebuah Revolusi Mental di Indonesia

Revolusi Mental (Pic. by @mom_of_five, 26 Oktober 2014, Pasuruan)
Surabaya, CocoNotes - Begitu kabinet presiden Republik Indonesia ke tujuh diumumkan. Hebohlah kembali media dengan ragam pemberitaan pro dan kontra atas perilaku para menteri. Ada menteri yang hanya berijazah SMP karena harus drop out sekolah saat kelas dua SMA. Ada pula menteri wanita bertato dan perokok. Ada pula menteri yang merokok sembarangan. 

Overall, semua okeh-okeh saja. Karena yang penting kan kinerjanya. 
Hanya saja, sebagai warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi budaya ketimuran, yang meskipun bagi sebagian orang dianggap tidak moderen, puritan, dan terbelakang, seyogyanya sajalah menjaga etika dan kearifan lokal untuk menaati anjuran pemerintah agar tidak merokok sembarangan. 

Ah, anjuran pemerintah? 
Pemerintah yang mana ya? 
Yupps ... Mungkin memang di sini lah revolusi mental tengah dimulai. Pada masa pemerintahan sebelum-sebelumnya, penggalakan budaya untuk tidak merokok sembarangan memang tengah digencarkan, karena merokok dianggap mengganggu kesehatan diri sebagai perokok aktif dan bagi orang di sekitarnya sebagai perokok pasif. 
Bahkan pada bungkus rokok sampai harus diberi gambar orang yang terkena kanker paru, tenggorokan, untuk mengingatkan pembeli rokok betapa berbahayanya merokok. Bahkan lagi, iklan layanan masyarakat terkait anjuran untuk tidak merokok pun masih gencar beredar di media-media dengan tagline 'merokok membunuhmu'. 

Nah,sebagai iklan layanan masyarakat, pastinya juga ada persetujuan dalam program kementerian kesehatan pada pemerintahan yang lalu. Yang, sekarang disebut sebagai sebuah 'antitesa' karena merokok tidak berhubungan dengan kinerja menteri. Bukankah mereka menggunakan uang mereka sendiri untuk membeli rokok, yang terkena bahaya rokok juga tubuh mereka sendiri. (Kalau yang ini penulis jadi teringat dengan kisah pelanggan Indonesia yang makan di restaurant Jerman, yang harus terbelalak ketika ada perbedaan prinsip tentang penggunaan sumberdaya, Linknya di Sini ya). 

Terlebih, merokok bagi perempuan juga sudah dari dulu ada di Indonesia. Ingat legenda sang putri Roro Mendut? Yups, putri cantik penjual rokok itu pun merokok bukan? Dan, karena merokoknya itu pula, dagangannya laris manis. Demikian pula dengan penggunaan tato, karena toh, banyak pejabat dan artis serta kelompok masyarakat yang bergaya hidup hedonis yang bertato. Mulai dari bibirnya, alisnya, sampai hidungnya. Bleh .... 
So, merokok dan bertato memang bukan masalah bagi seorang menteri. Karena mungkin di situlah program Revolusi Mental yang digagas presiden Republik Indonesia ke tujuh tengan mulai dijalankan. 
Hanya saja, sekali lagi hanya saja, mungkin harus tahu tempat dan etika saja. Karena beliau-beliau masih tinggal di Indonesia. Dan, ada keragaman adat, tradisi, budaya lokal yang masih perlu dihargai dan dihormati. Meskipun, mungkin bagi beliau-beliau adat, tradisi, dan budaya lokal tersebut masih puritan dan terbelakang, tetapi ada banyak pelajaran yang berhubungan dengan bagaimana hidup dengan tetap menghargai alam dan lingkungan sekitar. 

Merokok sembarangan dan apalagi membuang puntung rokok sembarangan menjadi tidak etis dan bahkan menimbulkan bahaya dalam kelalaian. Asap rokoknya juga akan berdampak buruk bagi orang di sekitarnya yang tidak tahan asap rokok bukan? 

So, mungkin memang harus tetap belajar dan belajar menghargai orang lain dan alam lingkungan, meski sudah menjadi menteri. Belajar dan terus belajar untuk tetap beradab dan berbudaya Indonesia. Budaya yang kaya raya dengan hikmah dan fatwa. Sampai-sampai para westeners pun terpikat dan jatuh cinta dengan bangsa Indonesia ..

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates