January 31, 2014

Januari 2014, Awal Tahun di Sebuah Negeri

Pic. by CocoNotes/Lamongan, 2013
Surabaya, CocoNotes - Tahun 2014, tahun politik. Di awal tahun, bulan Januari 2014, setelah kemeriahan perayaan tahun baru dengan new year's eve yang berhias suka cita warna-warni kembang api dan gemuruh petasan, suhu negeri berasa panas. Sampai-sampai erupsi Sinabung yang tidak juga berhenti, erang pengungsi di tenda-tenda pengungsian, ditambah desis Vita Hutagalung dengan surat cintanya kepada Ibu Negara.

Belum lagi Sinabung selesai mendengkur dengan air liurnya yang hangat meleleh ke muka bumi, Jakarta, sang Ibu Kota pun dideru banjir bandang, diikuti oleh Manado, Kendal, Pekalongan, Pati. Lalu disusul gempa bumi di Kebumen dan sekitarnya, serta  tanah longsor di Jombang.

Di sela-sela peristiwa yang membuat hati menjerit dan lungkrah itu, para politisi mempersiapkan diri untuk menghadapi Pileg (Pilihan Legislatif) dengan ragam jenis Caleg (Calon Legislatif) untuk duduk di Kurleg (Kursi Legislatif). Yang entah apa sebenarnya visi, misi, dan motivasinya. Karena, rakyat tak lagi mampu membaca dengan baik dan benar, akibat sesaknya asap Sinabung, lembabnya kebanjiran, pengapnya tanah longsor, dan goyangan gempa.

Para Caleg itu sendiri dengan gagahnya memajang foto yang paling kharismatis dan paling genic, di lembaran-lembaran brosur yang beterbangan ditiup angin, dipaku di pohon-pohon berjejal dengan iklan kontrak rumah, iklan sedot WC, iklan les privat, iklan cuci sofa, iklan badut, yang akhirnya beberapa harus dirazia, karena dianggap tidak ramah lingkungan. Ya, iyalah. Masa iya, pohon hidup dipaku dan dipalu, pecinta lingkungan ya tidak terima dengan perlakuan Caleg yang seperti itu. Bagaimana dia bisa menyuarakan suara rakyat yang cinta lingkungan, kalau untuk ikut Pileg saja dia sudah merusak lingkungan. Padahal, bencana yang menghiasi awal tahun ini penyebabnya juga adalah tangan-tangan jahil manusia yang tidak mau bersahabat dengan alam sebagai karunia ilahi.  

Tentunya, para Caleg itu tidak hanya memajang foto genic mereka di pepohonan, tetapi juga sebagai iklan yang bergerak di mobil angkutan umum. Sejajar dengan iklan produk-produk minuman suplemen, iklan sampo, iklan bumbu masak, dan sebagainya. Dan, pastinya, juga di baliho-baliho besar, sejajar dengan reklame iklan Rokok, neon box iklan perusahaan pengembang, dan sebagainya.

Tidak lupa, para Caleg tersebut juga memajang akting mereka di televisi, radio, dan media elektronik lainnya, semacam internet, serta media cetak. Dan, berita, poster para Caleg tersebut akan menjadi konsumsi media beriringan dengan wacana keluh dan erang para pengungsi ...

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates