Beli Roti atau Beli Apartemen Bos? Rame Banget

Surabaya, CocoNotes - Padatnya pengunjung event pemilihan unit Westown View yang diselenggarakan di Grand City Ballroom Level 4 dan Diamond...

Rental Surabaya
Showing posts with label Disertasi. Show all posts
Showing posts with label Disertasi. Show all posts

November 19, 2013

Antara Mahasiswa, Anak Mami, dan Anak Papi

Surabaya, CocoNotes – Seorang ibu, yang kebetulan berprofesi sebagai dosen, lulusan program doktoral, bersama putrinya yang sudah mahasiswa, dan sudah mau lulus, karena saat itu tengah proses penyusunan proposal skripsi (tugas akhir berupa tulisan ilmiah yang harus dipenuhi oleh mahasiswa menjelang kelulusannya).
“Sebenarnya saya juga S3, saya barusan menyelesaikan disertasi saya,” cerita sang ibu. Aku hanya turut mendengarkan pembicaraan ibu tersebut (mungkin bisa dibilang 'menguping').
“Tapi, jurusannya dia kan beda, dia ngambil bahasa Indonesia, la saya ini dosen akuntansi. Jadi ya nggak bisa bantu dia lah. Kan ya beda jurusan.” Lanjut sang ibu. 
Dan sepanjang pembicaraan tersebut, kulihat sang putri yang terlihat cantik itu sama sekali tidak m emiliki kesempatan berbicara. Hanya mengangguk dan mengiyakan apa kata mama. Ya Tuhan, apakah seorang gadis memang harus dididik untuk mengangguk dan mengiyakan? Apakah benar, ibu tidak bisa lagi mengarahkan sang putri untuk melanjutkan pekerjaannya? Bukankah sang ibu hanya berperan mendampingi dan memberi semangat kepada sang putri dengan memberi sang putri waktu untuk berpikir dan berkreasi? Tapi apa kata sang ibu? 
“Kalau tidak selesai-selesai, ini nanti aku ditegur sama papanya. Soalnya saya ini kan dosen, saya juga menjalankan bisnis keluarga. Dan yang menjalankan bisnis itu saya. Kalau papanya itu kan cuma bantu-bantu saja di sana.” 
Dieng... gubraghh ... 
Begitulah. 
Dengan tanpa bermaksud memojokkan sebuah profesi, karena semua ini hanya kebetulan. 
Hal sama kulihat seorang mahasiswa yang bingung menentukan pilhan dalam peyelesaian tugas akhirnya. Kalau yang ini papanya adalah PNS dengan posisi yang lumayan, sehingga sanggup mendukung apapun data yang dibutuhkan sang anak; dan ibunya juga bekerja. Si anak terlihat tidak bisa (tidak berani) mengungkapkan apa yang dia mau terkait tugas akhirnya. Sementara papa dan mamanya yang mengoceh ke sana ke mari mengenai apa kemauan mereka terkait penyelesaian kuliah si anak. Padahal si anak adalah anak laki-laki yangs eharusnya didik untuk tegas, berani, kreatif, inovatif, sehingga mampu menjalankan fungsi kekhalifahannya kelak. 
Dan hal serupa sering kujumpai ... .
Hal yang membuat hatiku bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dimaui orangtua terhadap putra-putrinya yang notabene adalah mahasiswa. Yang notabene juga adalah calon penerus kepemimpinan bangsa ini, sehingga kehidupan kebangsaan bisa tetap berlangsung langgeng. Lantas, apa pula sebenarnya yang terjadi terhadap mereka. Salahkah bunda mengandung? Salahkah ayah menanamkan benih? Salahkah proses pengasuhan yang diterapkan oleh ayah dan bunda, sehingga putra dan putri yang terlahir harus mendapatkan posisi mengangguk dan mengiyakan? Apakah semua itu bentuk bakti anak kepada orangtua?
Just for reviewing and instropecting ... 
Tapi, kalau melihat banyak anak-anak kecil di televisi yang berbakat, kenes, dan lincah, terbersit juga harapan bahwa masih banyak bintang terang yang bersinar untuk lingkungannya. Karena bisa jadi yang terlihat olehku adalah hanya segelintir pemuda dan pemudi yang kebetulan memiliki kelebihan khusus, sehingga harus diperlakukan istiewa oleh kedua orangtuanya, sehingga sang mama dan sang papa harus turun gunung untuk 'menitah' sang putra dan putri untuk menapak langkah-langkah mereka menuju masa depan.

November 16, 2012

Ketika Indonesia 'Merasa' Kekurangan Doktor

penyandang gelar doktor Indonesia
Sumber gambar: tribeclaritylivin.com
Secara kuantitas, jika dibandingkan dengan negara berpenduduk besar lainnya, jumlah penyandang gelar Doktor di Indonesia masih sedikit.  Pada tahun 2011, penyandang gelar Doktor di Indonesia masih sebanyak 23.000 orang dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta jiwa. Jumlah tersebut jauh di bawah negara-negara yang berpenduduk besar lainnya seperti India, China, dan Amerika Serikat, di mana jumlah doktor di Amerika Serikat mencapai 3,1 juta orang dan India sebanyak 1,69 juta orang (Solopos). Pada tahun 2012, jumlah penyandang gelar doktor di Indonesia mencapai 25.000 orang dan tengah ditargetkan untuk mencapai 100.000 doktor pada tahun 2015 (Kompas). Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mencapai target tersebut adalah melalui pemberian beasiswa pendidikan pada mahasiswa setingkat S2 dan S3. 
Yupps, meskipun gelar doktor atau Ph.D merupakan gelar yang disandang oleh individu yang telah menyelesaikan program S3, namun upaya peningkatan gelar Doktor tersebut harus didukung dengan peningkatan penyandang gelar Magister dulu bukan? Maka dari itu, program beasiswa pun disampaikan juga kepada mahasiswa S2, untuk mempercepat peningkatan jumlah penyandang gelar doktor di Indonesia. Nah, seberapa penting sih peningkatan jumlah penyandang gelar doktor di Indonesia? Penyandang gelar ini merupakan individu yang mampu mendukung riset yang menghasilkan banyak jurnal ilmiah dan paten, sehingga akan menghasilkan inovasi yang bisa mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan dunia industri dan berbagai bidang lain. Selain itu, menurut Musliar Kasim, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Republik Indonesia, bertambahnya jumlah doktor di perguruan tinggi menjadi salah satu parameter kredibilitas lembaga pendidikan tinggi (Serambinews). Dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka proses pembangunan bisa dilakukan dengan baik yang akan mendorong Indonesia untuk berkembang dan maju di tingkat internasional.
Memang sih, di tingkat internasional, nilai Indeks Pengembangan Sumberdaya Manusia (Human Developmen Indices – HDI) negara Indonesia masih tergolong rendah. Pada tahun 2011, nilai HDI Indonesia masih berada pada kategori medium, yaitu sebesar 0,617, yang mendapatkan posisi pada peringkat 124 dari 187 negara. Peringkat ini mengalami kenaikan satu peringkat jika dibandingkan tahun 2010 yang memperoleh peringkat 125 dari 187 negara (United Nation Development Programe, 2011. Indonesia: HDI Values and Rank Changes in the 2011 Human Development Report). Pastinya, posisi ini jauh di bawah negara-negara lain termasuk China dan Thailand.
Nah, sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya tersebut, maka Indonesia pun menggenjot peningkatan jumlah doktor di Indonesia. Dengan asumsi bahwa makin banyak penyandang gelar doktor, maka makin banyak pula individu yang memiliki kompetensi keilmuannya untuk menghasilkan inovasi dan kreatvitas yang membangun, sehingga pemberdayaan sumberdaya alam lebih eksploratif aktif dan konstruktif. Dengan tanpa mengabaikan pemberian beasiswa kepada para mahasiswa S2 dan S3, yang notabene adalah para pemegang jabatan tertentu di instansi pemerintahan maupun para staf di lembaga tertentu, adakah beasiswa ini menjadi efektif dan benar-benar mampu menghasilkan penyandang gelar doktor yang mumpuni, kreatif, dan inoatif, serta konstruktif aktif? Karena dengan beban pekerjaan yang harus ditangani di kantor, calon penyandang gelar magister dan doktor ini juga dituntut untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah dengan materi yang tidak ringan, mulai dari pemahamn teori, konsep, dan menyusun interdependensi antar teori dan konsep, serta aplikasinya di lingkungan nyata.
Saya jadi teringat dengan beberapa calon Magister dan Calon Doktor yang tugas-tugas kuliahnya dikerjakan oleh Joki Tugas, semenjak awal pendaftaran kuliah sampai penyusunan tesis dan disertasinya. Mulai penemuan ide terkait tesis dan disertasinya, penggalian konsep, penggalian tinjauan literatur, penentuan metode, pengembangan teori, hingga penyusunan laporan tesis dan disertasi telah diserahkan kepada Joki Tugas dengan imbal jasa sampai puluhan juta rupiah.
Apa alasan mereka? kesibukan kerja, pertambahan usia, kesulitan penemuan ide, menderita penyakit tertentu karena sudah tua sehingga tidak mampu berpikir lebih keras dan bekerja di bawah tekanan.......
Nah, lantas apatah sudah ada evaluasi dari pemerintah mengenai kemungkinan kurang efektifnya pemberian beasiswa pendidikan tersebut dan kurang bermaknanya penambahan jumlah doktor di Indonesia untuk menghasilkan pribadi-pribadi yang inovatif, kreatif dengan kemampuan eksploratif aktif yang konstruktif....

September 16, 2012

Plagiat yang Makin Marak di Kalangan Akademis

Modif from Google Image Search
Surabaya, CocoNotes - Gerakan anti plagiat memang tengah banyak digalakkan di kalangan blogger, dengan memasang anti copy paste di blog. Gerakan anti plagiat di kalangan blogger memang perlu dilakukan, karena copy paste via elektronik lebih mudah dilakukan. Plagiat gutenberg, plagiat wiki, plagiat program, plagiat blog, dan ragam plagiat bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja. Sebagaimana dengan makin banyaknya buku dan karya cipta yang dipublikasikan online, maka makin besar pula kemungkinan untuk melakukan aktivitas copy paste dan mengatasnamakan hasil copy paste itu sebagai karya sendiri, baik dilakukan seara sadar (sengaja) maupun tidak sengaja. Ketidaksengajaan itu bisa jadi dilakukan karena ketidaktahuan mengenai bagaimana membuat kutipan tanpa melanggar hak cipta atas sebuah karya.
Namun yang menarik saat ini adalah masih ditemukannya kalangan akademis yang melakukan plagiarisma. Hal yang sungguh tidak masuk di akal bukan? Kalangan akademis yang seharusnya memberi contoh etika menulis dan berkarya yang baik ternyata justru menjadi pioner atas aktivitas plagiarisme. Kasus plagiarisme yang dilakukan oleh Banyu Perwita merupakan kasus yang benar-benar mencoreng dunia pendidikan, karena dunia pendidikan yang selama ini dijadikan sebagai lembaga untuk mendidik individu agar menjadi manusia yang berkualitas, beradab, bermoral, dan berbudaya ternyata diisi oleh pendidik yang memiliki perilaku yang tidak bisa diterima oleh kalangan masyarakat baik nasional maupun internasional. Dalam kasus tersebut, Prof. Dr. Banyu Perwita melakukan plagiat terhadap artikel-artikel asing yang diterbitkan dalam harian The Jakarta Post. Seorang pembaca harian kompas telah mengajukan alat bukti berupa dua laporan side-by-side comparison yang menunjukkan bahwa Prof. Banyu Perwita menjiplak secara persis frase, kalimat, bahkan paragraf, dari ketiga artikel tersebut. Dengan turunnya laporan ini, berarti sudah enam karya orang lain yang ia bajak ke dalam empat artikel di The Jakarta Post.
Bukan hanya itu, di salah satu Universitas Negeri di Jakarta, seorang dosen bahkan ditengarai menjiplak skripsi mahasiswanya. heehheheh.... jika dosennya saja begitu, gimana dengan mahasiswanya?
Nah ini dia, fakta lebih lanjutnya, ternyata mahasiswa di perguruan tinggi yang sangat reliabel secara internasional pun terkena kasus plagiarisme. Sebagaimana disebutkan dalam harian Kontan.co.id (31 Agustus 2012) sebagai berikut:
Salah seorang pejabat di Universitas Harvard mengungkapkan, sekitar 125 mahasiswa di universitas bergengsi ini sedang diinvestigasi atas tuduhan plagiat. Tidak hanya itu, para mahasiswa tersebut juga diperiksa untuk pelanggaran akademik lain yang dilakukan pada ujian akhir awal tahun ini. Ini merupakan skandal kecurangan yang paling buruk dalam sejarah Harvard. Menurut Jay Harris, dekan sarjana pendidikan Harvard, semua siswa yang terlibat akan disidang di hadapan Harvard's Administrative Board. Dia menceritakan, kasus ini terungkap setelah profesor Harvard menguji latihan yang diberikan kepada mahasiswa yang dimulai pada Mei lalu. Mahasiswa yang kedapatan melakukan pelanggaran akan mendapat skors dari universitas selama satu tahun. "Tuduhan-tuduhan tersebut, jika terbukti, akan menjadi perilaku yang tidak dapat diterima karena menodai intelektual yang Harvard junjung tinggi," jelas Harvard President Drew Faust. Sanksi yang akan diberikan sangat rahasia. Dan, Harvard tidak akan mengumumkan siapa saja mahasiswa yang terlibat dari kasus ini.
Nah, lo... tugas latihan pun plagiat. Di Indonesia bagaimana? Kasus plagiat di Indonesia juga sudah tidak perlu diragukan lagi. Banyak mahasiswa di Indonesia yang umumnya mengerjakan tugas-tugasnya dengan menggunakan joki atau ghost writer. Bukan hanya pada tugas akhir, semacam skripsi, tesis, dan disertasi, tetapi juga pada tugas atau latihan dalam UAS maupun UTS.

September 5, 2012

Ghost Writer = Penulis Hantu

sumber: google image
Dewasa ini penggunaan jasa ghost writer atau penulis hantu bukan hanya digunakan para tokoh dan selebriti untuk menuliskan kisah biografi, autobiografi atau semiautobiografi mereka, tetapi kalangan akademisi baik para mahasiswa tingkat S1, S2 maupun S3 juga mulai marak menggunakan jasa para penulis hantu guna menyelesaikan penulisan skripsi, tesis, dan desertasi mereka. Wih...
Apa sih sebenarnya ghost writer?
Secara harfiah, ghost writer bisa diartikan sebagai penulis hantu. Sebagaimana sifat hantu, maka penulis hantu tidak terlihat oleh pembacanya. Pembaca hanya bisa membaca tulisannya tetapi tidak mengetahui siapa sebenarnya penulisnya. Jadi, penulis hantu adalah penulis yang menulis untuk orang lain yang menggunakan jasa kemampuan menulisnya.
Penulis hantu tidak pernah mencantumkan namanya sebagai penulis dari sebuah hasil tulisan, karena sudah ada pihak lain yang 'membeli' tulisannya tersebut dan mengalihkan hakt cipta dari karya tulis tersebut. Jadi, yang terantum sebagai penulis adalah nama orang yang membeli atau yang dibantu atau yang menggunakan jasa penulis hantu tersebut.
Ingat kasus penulisan buku biografi Chairul Tanjung si Anak Singkong? Buku hebat setebal 360 halaman itu juga ditulis oleh seorang ghost writer yang memang telah sering berperan sebagai penulis hantu. Nama penulis yang tercantum dalam buku biografi tersebut adalah Tjahja Gunawan Adiredja, seorang wartawan Kompas, padahal penulis aslinya adalah Inu Febiana (baca: Pengakuan Dramatis “Ghost Writer” Buku Biografi Chairul Tanjung). Buku yang peluncurannya dihadiri Presiden SBY dan jajaran menterinya tersebut akhirnya menjadi perbincangan akibat munculnya pengakuan Inu Febiana yang berperan sebagai ghost writer bagi Tjahja.
Kemunculan penulis hantu di permukaan merupakan peristiwa langka, karena penulis hantu selalu berperan di belakang layar. Namun, isu integritas dan kejujuran mendongkrak penampakan penulis hantu. Bukan hanya itu, isu pelanggaran kontrak atau perjanjian antara penulis hantu dengan klien juga bisa menjadi pemicu penampakan si penulis hantu. Yupps... adanya ketidakpuasan di salah satu pihak juga biasanya akan memicu penampakan.
Jadi, hantu juga akan memperlihatkan kenampakannya jika ia terganggu. 
Btw, berkaitan dengan keberadaan ghost writer di mata hukum di Indonesia maka bisa dikaitkan dengan Pasal 8 ayat (3) UU Hak Cipta No. 19 tahun 2002 bahwa: "jika suatu Ciptaan dibuat dalam hubungan kerja atau berdasarkan pesanan, pihak yang membuat karya cipta itu dianggap sebagai Pencipta dan Pemegang Hak Cipta, kecuali apabila diperjanjikan lain antara kedua pihak."
Di situ dilihat di dalam UU tersebut disebutkan bahwa 'pihak yang membuat karya cipta dianggap sebagai Pencipta dan Pemegang Hak Cipta' KECUALI apabila diperjanjikan lain antara kedua pihak.
Nah lo, ada kecualinya itu, yang bisa dijadikan alasan bagi pengguna jasa ghost writer untuk menjadikan legal karya cipta yang bukan hasil ciptaannya, karena telah ada perjanjian sebelumnya untuk mengalihkan hak cipta tersebut.
Bukan hanya itu, pada Pasal 3 ayat (2) juga disebutkan bahwa 'Hak Cipta dapat beralih atau dialihkan'
Nah itu dari sisi hukum,
Kalau dari sisi integritas dan kejujuran, serta watak dan karakter kemanusiaan? Rasanya, semua masih harus dikaji ulang, karena di era kapitalisme ini karya cipta akhirnya diperjualbelikan. Misalnya ya itu, para mahasiswa saat ini baik S1, S2, S3 yang notabene adalah dosen, pejabat, dan pengambil kebijakan dan keputusan dengan mudah 'membeli' jasa ghost writer untuk menghasilkan karya skripsi, tesis, atau desertasi untuk kepentingan gelar dan kenaikan pangkat jabatannya.....
Andai para penulis hantu mulai menampakkan diri, maka para pemuja kapitalisme akan  merasa merinding dan integritas bangsa akan terjaga.......

August 12, 2012

Triangle Fraud Skripsi, Tesis, dan Disertasi

Miris dengan situasi pendidikan tingkat Perguruan Tinggi di Indonesia yang diwarnai dengan kehadiran ghost writer, joki, dan manipulator data penelitian. "budaya membaca  yang rendah dan budaya menulis yang lemah, serta budaya riset yang tidak terdukung"
Sejatinya, skripsi, tesis, dan disertasi adalah 'hanya' salah satu syarat kelulusan mahasiswa untuk mendapatkan gelar kesarjanaannya. Tapi, skripsi, tesis, dan disertasi tersebut justru menjadi momok yang menakutkan dan memberatkan bagi sebagian mahasiswa. Bagi mahasiswa strata 1, pembuatan skripsi seringkali menjadi momok yang menakutkan dan membuat mereka berkeringat dingin, akibat ditolak atau banyaknya revisi dari dosen yang kadang tidak dipahami oleh mahasiswa. Bahkan, maaf, kadang ada macam arogansi dari dosen, sehingga dosen seakan sedemikian rumitnya untuk ditemui. Seperti yang terjadi di salah satu PTS ternama di Surabaya, yang mahasiswanya harus nyanggong dosen hingga jam sembilan malam, atau mahasiswa yang harus menunggu dari pagi hinga siang, dan giliran pintu dosen terbuka, ternyata dosen keluar untuk makan siang. Ya, memang di sini mahasiswa bukan hanya diuji secara akademis, tapi juga secara mental. Tapi, apakah mahasiswa saat ini sekuat itu?
Dimulai dari proses pengajuan judul dan proposal yang relatif sulit, karena banyak mahasiswa yang lemah di dalam pemahaman jenis penelitian, metode penelitian, pendekatan penelitian, operasionalisasi variabel, penyusunan kalimat ilmiah, perumusan masalah, penetapan fenomena dan fakta, dan sebagainya, menjadikan penyusunan proposal dan model penelitian menyita waktu yang lama dan berat.
Apabila proposal penelitian telah disetujui, maka tantangan berikutnya adalah menyebar kuesioner bagi yang menggunakan metode survei dengan pendekatan kuantitatif, atau mengambil data ke lokasi penelitian  untuk melakukan observasi dan wawancara (bagi yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode case study), atau melakukan eksperimen jika tipe penelitiannya adalah eksperimental, baik quasi eksperimen maupun murni eksperimen. 
Proses pengumpulan data ini tidak selamanya berjalan mulus. 
Bagi yang menyebar kuesioner, selain tidak selamanya mendapatkan responden yang sesuai dengan kriteria sampel yang ditetapkan, juga tidak semua target sampel bersedia menjawab, atau dengan ogah-ogahan menisi dengan sekenanya. Hasilnya? banyak mahasiswa yang hanya mampu mengumpulkan data 10 orang responden, atau bagi yang mampu bertahan, mereka akan membutuhkan waktu sampai setegah bulan sampai satu bulan untuk memenuhi jumlah dan kriteria yang diharapkan. 
Bagi yang melakukan eksperimen juga demikian. Perlengkapan dan pemilihan metode, serta penetapan obyek eksperiman dan lokasi, dan juga proses eksperimen bukan merupakan hal mudah yang bisa dilalui. Bagi yang obyeknya manusia, maka pemilihan manusia yang sesuai dengan tujuan eksperiman membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Bagi yang obyeknya binatang atau bahan-bahan, maka memerlukan waktu perlakuan yang harus diamati dari periode ke periode dengan dukungan perlengkapan dan alat ukur yang memadai.
Sementara itu, bagi yang melakukan observasi dan wawancara maka tidak semua informan bersedia memberikan informasi mendalam terkait topik penelitian.
Selanjutnya, adalah bagian pengolahan hasil penelitian. 
Di sini tantangannya juga tidak mudah. Kebanyakan mahasiswa mengalami kesulitan dalam pengolahan statistik, pembahasan yang hanya di permukaan, sehingga hasilnya kurang mewakili tujuan penelitian. Parahnya, hasil penelitian survei tidak selamanya sebagaimana yang dihipotesiskan. Jika menghadapi masalah seperti ini, mahasiswa pun panik dan berkeringat dingin.Terutama jika dosen tidak memberikan dukungan yang 'membelai' tetapi malah 'menonjok' maka hal itu semakin membuat mahasiswa akan gemetar. #Weee lah apalagi mahasiswa strata 1, la wong yang strata 3 saja gemetaran, saat proposalnya harus menambah atau mengurangi variabel yang diajukan :(
Tantangan dan proses-proses di atas sebenarnya jika dilalui dengan baik bisa merupakan wahana pematangan mahasiswa, karena tidak selamanya kehidupan di lapangan semulus seperti yang diharapkan. Sayangnya, apakah mahasiswa di Indonesia sekuat itu? Pada akhirnya, tantangan tersebut melahirkan Triangle Fraud yang melingkar-lingkar. Mahasiswa lari ke joki, ghost writer, dan bahkan manipulator data penelitian. Para joki, ghost writer, dan manipulator data menjadikan hal itu sebagai peluang bisnis, dan mahasiswa menjadikannya sebagai peluang untuk menggunakan jasa 'konsultan' tersebut, sedangkan sistem pendidikan tidak juga menyadari bagaimana membina jiwa dan mental mahasiswa agar menjadi kuat dan mampu menghadapi tantangan.
Seorang mahasiswi yang melakukan penelitian dengan mengambil obyek penelitian fiktif, karena dia diharuskan meneliti di lokasi usaha yang memang didirikan sebagai salah satu wujud mata kuliah entrepreneurship, padahal lokasi usahanya tersebut bangkrut dalam jangka sebulan. Si mahasiswa dan temannya tidak mungkin mengulang mendirikan bisnis tersebut, karena pendirian bisnis tersebut telah menghabiskan sekitar 16 juta untuk modal awal. Akhirnya, dengan bisnis yang telah bangkrut tersebut, si mahasiswa menjadikannya sebagai obyek penelitian, dengan metode survei pelanggan. Akhirnya pelanggannya juga fiktif, dan data yang digunakan juga data fiktif (membayar manipulator data).

Seorang mahasiswa yang menggunakan metode kualitatif mengalami kesulitan untuk mewawancarai informan penelitian, akhirnya harus menyerahkan kepada ghost writer untuk mengarang indah penelitiannya.

Seorang mahasiswa yang melakukan eksperimen dan ternyata hasil eksperimennya tidak sesuai dengan harapan, mengubah data hasil penelitian dan merusak hasil eksperimennya sendiri. Jika upaya ini tidakmampu dilakukannya maka pada akhirnya akan lari ke manipulator data.
Hal itu bukan semata dipraktikkan oleh mahasiswa strata 1. Bagi yang strata 2 dan strata 3, umumnya menggunakan alasan klise yang menyebabkan mereka memilih penggunaan jasa ghost writer, joki, dan manipulator data. Tidak ada waktu, sibuk dengan pekerjaan, dan tuntutan kerja yang mengharuskan mereka memiliki title atau gelar. 
So, apa sebenarnya solusinya? karena kehadiran joki, ghost writer, dan manipulator data tersebut makin marak. Hampir di seluruh bagian belahan di Indonesia memiliki mahasiswa yang memiliki perilaku seperti demikian adanya. Masih relevankah jika skripsi, tesis, dan disertasi dipaksakan untuk menjadi satu syarat kelulusan kesarjanaan jika prosesnya seperti itu? Karena intergitas dan kejujuran telah dipertaruhkan demi sebuah gelar yang akan mewarnai bagaimana perilaku mereka di tempat kerjanya kelak. Bagaimana jika mereka menjadi birokrat? bagaimana jika mereka menjadi pengusaha? maka akankah jalur-jalur cepat trabas pun akan menjadi pilihan demi segeranya terjapainya tujuan secara instan.

CocoGress