Beli Roti atau Beli Apartemen Bos? Rame Banget

Surabaya, CocoNotes - Padatnya pengunjung event pemilihan unit Westown View yang diselenggarakan di Grand City Ballroom Level 4 dan Diamond...

Rental Surabaya
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

October 1, 2014

Ketika Atap Bangunan Sekolah Runtuh

Bahkan di Ibu Kota yang Metropolitan Pun Ditemukan Atap Bangunan Sekolah yang Runtuh
Surabaya, CocoNotes - Pendidikan adalah hak segala semua warga negara. Itulah mengapa ada kementerian pendidikan di negara Republik ini. Ada pula anggaran yang disediakan oleh pemerintah untuk membiayai pendidikan. Pastinya, pembiayaan operasional, sarana dan prasarana juga. 
Sedihnya, masih sering ditemukan bangunan sekolah yang bangunannya tidak layak untuk dihuni, dan bahkan harus roboh, sehingga mengurangi efektivitas proses belajar mengajar. Dengan kata lain, mengganggu proses belajar mengajar.
Yang menyedihkan lagi, di Jakarta yang notabene adalah Ibu Kota Negara dan juka termasuk kota metropolitan, masih ditemukan atap bangunan sekolah yang runtuh, sehingga anak-anak harus terganggu proses belajar mengajarnya.
Kepala Sekolah SDN Tebet Timur 11
Kelas yang Rusak
Gambar di atas merupakan cuplikan berita di media televisi, yaitu dalam Liputan 6 SCTV yang memberitakan tentang runtuhnya atap bangunan sekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Jakarta, Kota Metropolitan yang dihiasi mall dan pertokoan serta bangunan pencakar langit. Sebuah ironi dalam pendidikan di Indonesia.

August 24, 2014

Universitas Terbuka, Inovasi Pendidikan Tinggi Jarak Jauh untuk Indonesia Berprestasi

Surabaya, CocoNotes - Pendidikan merupakan salah satu indikasi tingkat kualitas sumberdaya manusia dalam sebuah bangsa. Berdasarkan data dari UNDP (United Nations Development Program), indeks kualitas sumberdaya manusia Indonesia pada tahun 2013 berada di bawah negara lain di dunia dan bahkan di Asia Tenggara, seperti Sri Lanka, Thailand, Malaysia, dan Singapura.
Indeks Pengembangan SDM (Sumber: UNDP, 2014)
Meraih pendidikan setinggi-tingginya itu sendiri merupakan hak setiap warga negara. Namun, pada kenyataannya, tidak semua warga dapat meraihnya dengan mudah. Keterbatasan biaya, waktu, dan tenaga menjadikan masih banyak warga negara yang tidak dapat meraih pendidikan yang lebih tinggi.
Hingga tahun 2013, angka partisipasi murni masyarakat dalam pendidikan tinggi jauh lebih rendah dibandingkan dengan pendidikan dasar dan menengah.
Angka Partisipasi Murni (Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014)
Hal ini berdampak pada rendahnya tingkat pendidikan angkatan kerja, yang pada akhirnya berdampak pada rendahnya produktivitas kerja. Sehingga prestasi bangsa Indonesia untuk bersaing global dan regional pun rendah.
Dominasi Pendidikan Angkatan Kerja di Indonesia dan Posisi Daya Saing Indonesia di Asia Tenggara (Sumber: Hakim, 2013)
Rendahnya komposisi penduduk yang berpendidikan tinggi di Indonesia tersebut bukan disebabkan oleh tidak adanya kemauan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan, namun karena adanya faktor lain yang mempengaruhinya. Beberapa faktor tersebut di antaranya adalah keterbatasan biaya, tenaga, dan waktu yang memberikan pengaruh baik secara parsial maupun simultan.
Sebagai contoh, seorang lulusan SMA/SMK (Sekolah Menengah Atas/Kejuruan) yang telah lulus, namun berasal dari keluarga dengan status ekonomi rendah, sehingga harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Kondisi anak muda ini dipengaruhi oleh keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya secara bersamaan. Hal berbeda dapat terjadi pada seorang eksekutif atau karyawan yang telah mapan secara finansial, tetapi secara waktu dan tenaga tidak mencukupi. Padahal ada keinginan untuk melanjutkan pendidikan hingga S1 atau S2, maka keterbatasan waktu dan tenaga menjadi faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan.

Universitas Terbuka: Inovasi Pendidikan Jarak Jauh, Jangkau Seluruh Lapisan Masyarakat Indonesia Untuk Meraih Prestasi

Universitas Terbuka didirikan pada tahun 1984 sebagai Perguruan Tinggi Negeri ke-45 di Indonesia dengan tujuan awal untuk penyetaraan pendidikan guru melalui program pendidikan dasar (pendas). Pada masa itu, kebanyakan guru, terutama guru Sekolah Dasar, adalah lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) dan PGA (Pendidikan Guru Agama) yang setara dengan lulusan SMA/SMK.
Dengan adanya Universitas Terbuka, para guru tersebut dapat tetap melanjutkan studinya ke tingkat pendidikan tinggi tanpa mengganggu aktivitas mengajar mereka.
Melihat fenomena di atas Universitas Terbuka (UT) yang pada awalnya hanya menjangkau penyetaraan guru-guru melalui program pendidikan dasar (Pendas) mulai melebarkan jangkauan program pendidikan nonpendidikan dasar (nonpendas). Ragam inovasi pun dilakukan oleh Universitas Terbuka dalam penyelenggaraan program pendidikan tinggi bagi masyarakat luas. Mulai dari kemudahan sistem pendaftaran, kemurahan dan kemudahan pembayaran, sampai kemudahan proses belajar mengajar.
Dengan demikian, setiap orang yang memiliki kemauan belajar yang tinggi dapat mengikuti kuliah di Universitas Terbuka dengan lebih mudah, murah, fleksibel, dan berkualitas.

Mudah 

Sumber: Official Website UT
Melalui sistem pendaftaran yang dibuka di UPBJJ (Unit Program Belajar Jarak Jauh) terdekat, serta dengan sistem kuliah yang bersifat mandiri, tanpa harus selalu hadir di ruang kuliah secara reguler, para guru tersebut mendapatkan kemudahan untuk meningkatkan kualitas keilmuannya, sehingga dapat menyampaikan ilmu kepada para siswanya dengan metode dan media pembelajaran yang lebih berkualitas pula. Di mana pada akhirnya akan mampu mencetak generasi unggul berprestasi.

Kemudahan sistem pembelajaran di UT tersebut selanjutnya diperluas bagi seluruh masyarakat, yaitu dengan dibukanya program nonpendidikan dasar (nonpendas) untuk umum (non guru). Jenjang pendidikan yang dibuka pun bukan hanya sebatas Strata 1, tetapi juga D3, D4, dan S2. Mulai dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), meliputi Sastra, Komunikasi, Ilmu Administrasi, Hukumn, dll; Fakultas Ekonomi, meliputi manajemen, akuntansi; dan FMIPA.

Kemudahan-kemudahan banyak diberikan oleh UT bagi masyarakat, mulai dari syarat usia, kelulusan, sampai jenis ijazah. Usia berapapun boleh daftar di UT, demikian juga dengan tahun kelulusan, serta jenis ijazah SMA/SMK yang dimiliki. Bahkan peserta program Paket C pun boleh mendaftar di UT. Tidak heran, jika peminat UT mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Murah 

Murahnya pendidikan di Universitas Terbuka ditunjukkan dari ringannya biaya yang harus dikeluarkan oleh mahasiswa. Betapa tidak, biaya yang dikeluarkan hanya biaya pendaftaran dan biaya per SKS. Tidak ada uang gedung dan biaya sarana dan prasarana lainnya. Hal ini, karena meskipun UT memiliki Gedung dan Wisma Universitas Terbuka di Jalan Pondok Cabe, Tangerang, Banten; serta UPBJJ di seluruh provinsi dan bahkan di luar negeri, namun aktivitas reguler perkuliahan dapat diselenggarakan di luar gedung-gedung tersebut. Tergantung pilihan mahasiswanya.
Biaya tersebut akan semakin murah, jika mahasiswa dapat mengatur dan memanfaatkan bahan ajar turorial online dan modul kuliah yang disediakan di Toko Online Karunika. Berdasarkan pengalaman salah satu mahasiswa, kisaran biaya kuliah yang dikeluarkan mulai kuliah sampai lulus hanya sekitar 1,5 juta.

Fleksibel 

Penyelenggaraan sistem pendidikan di UT mulai pendaftaran, proses belajar mengajar, ujian, sampai wisuda sangat fleksibel. Pendaftaran misalnya, dapat dilakukan melalui online di www.ut.ac.id atau melalui UPBJJ terdekat. Sementara untuk sistem perkuliahan, ada tiga pilihan, yaitu Tuton (tutorial online) yang dapat diakses melalui student.ut.ac.id, TTM (Tutorial Tatap Muka), dan Mandiri. Setiap mahasiswa diperbolehkan memilih sistem tersebut, baik memilih salah satu maupun mengombinasikannya.

Fleksibilitas lainnya adalah bahwa ujian dapat dilakukan secara tertulis maupun secara online. Meskipun demikian, mahasiswa tidak dapat saling mencontek, karena sistem soal ujian yang diacak sedemikian rupa. Apalagi, peserta ujian juga biasanya tidak saling kenal, sehingga kemungkinan untuk melakukan kecurangan sangat kecil.

Selain itu, untuk kelulusan, mahasiswa tidak harus mengerjakan skripsi. Dengan demikian, mahasiswa terbebas dari penyusunan skripsi dan tesis yang selama ini menjadi momok bagi mahasiswa secara umum. Meskipun demikian, sejak tahin 2013, ada kebijakan bahwa mahasiswa diharuskan menyusun TAP (Tugas Akhir Program) berupa karya ilmiah, yang bisa dipresentasikan atau tidak. Yang penting adalah karya ilmiah tersebut benar-benar ilmiah dan bebas plagiat. Untuk wisuda, maka bagi mahasiswa yang mendapatkan nilai IPK minimal 3,00 mendapatkan kesempatan untuk mengikuti wisuda di Gedung Pusat bersama wisudawan dna wisudawati lainnya.

Berkualitas 

Meskipun mudah dan murah, serta fleksibel, namun Universitas Terbuka tetap memperhatikan kualitas pendidikan, baik dari sisi proses maupun hasil. Bahan ajar UT sudah terstandardisasi sesuai dengan ISO 9001. Selain itu, juga sudah disesuaikan dengan standar internasional ICDE (International Council for Distance Education).
Dengan demikian, lulusan atau ijazahnya tidak hanya diakui di dalam negeri saja, tetapi juga diakui di luar negeri. Terlebih, saat ini, UT juga telah membuka UPBJJ di luar negeri, yaitu di Malaysia, Korea, dan Hongkong. Sehingga, warga negara Indonesia di negara-negara tersebut mendapatkan kemudahan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, di saat mereka tengah merantau sekalipun.

Inovasi Pendidikan Tinggi Untuk Indonesia Berprestasi

Uraian tentang Universitas Terbuka di muka menunjukkan bahwa Universitas Terbuka merupakan Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia yang menerapkan pendidikan tinggi jarak jauh yang mudah, murah, fleksibel, dan berkualitas.
Kemudahan dan fleksibilitas sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan oleh Universitas Terbuka tersebut memperluas jangkauan pendidikan, baik secara geografi, demografi, maupun psikografi penduduk. Dengan demikian, jumlah masyarakat yang mampu mencapai tingkat pendidikan tinggi akan semakin meningkat.  Berdasarkan data dari official website UT, sampai 2 Juni 2014 tercatat ada 433.763 mahasiswa yang terdaftar di UT dan tersebar dalam beberapa Fakultas.
Komposisi Jumlah Mahasiswa UT, per 2 Juni 2014 (Sumber: Official Website UT)

Bagi mahasiswa yang memiliki kemauan belajar keras, UT dapat menjadi wahana untuk memperluas wacana keilmuannya. Sebut saja MN (perempuan, 24 tahun, menikah, penulis novel remaja dan pendidik), selain mengikuti mata kuliah di Fakultas Tarbiyah di salah satu PTS di Surabaya, MN juga menyelesaikan Program Studi Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di UT dan telah di wisuda di Gedung Pusat pada bulan April 2014. MN yang telah bekerja dan menikah tersebut mampu menyelesaikan kuliah mandirinya di UT setelah menempuh pendidikan selama 3,5 tahun. Dengan demikian, dalam waktu yang bersamaan, MN mampu menyelesaikan dua gelar kesarjanaan sekaligus.


Akhirnya, uraian terkait Universitas Terbuka dan Inovasi Pendidikan Tinggi Jarak Jauh di atas dapat disimpulkan bahwa inovasi pendidikan tinggi jarak jauh yang telah dilakukan oleh UT telah banyak memberi kemudahan bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas keilmuan mereka. Melalui terobosan inovatif yang dilakukan oleh Universitas Terbuka, pendidikan tinggi bukan lagi hanya milik mereka-mereka yang berusia muda, berstatus ekonomi mapan, dan memiliki banyak waktu untuk belajar formal. Namun milik semua masyarakat di manapun dan usia berapa pun, berprofesi sebagai apa saja, asalkan memiliki kemauan untuk terus belajar dan belajar dan memperbaiki kualitas diri, pribadi, dan lingkungan sekitarnya.
Dengan demikian, masyarakat Indonesia dapat melangkah untuk meraih reputasi dan daya saing yang lebih tinggi, menyongsong masa depan bangsa Indonesia yang berprestasi.

Referensi:
  • Biro Pusat Statistik. (2014). Indikator Pendidikan, 1994-2013. http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=28&notab=1 
  • Hakim, Lukman Nul. (2013). Meningkatkan Kualitas Perguruan Tinggi Lokal Melalui Internasionalisasi Pendidikan Tinggi. Info Singkat. Vol.V, No. 20/II/P3DI/Oktober/2013. Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI), Sekretariat Jenderal DPR RI. 
  • Official Website Universitas Terbuka, www.ut.ac.id 
  • UNDP – United Nations Development Programme. (2014). 2014 Human Development Statistical Tables. http://hdr.undp.org/en/data 

December 4, 2013

e Learning: Mendidik Generasi sesuai Zamannya

Surabaya, CocoNotes - Pendidikan merupakan hal vital bagi kemajuan bangsa. Melalui pendidikan generasi penerus dididik dan dibekali ilmu agar bisa menjadi sosok individu yang berkualitas, cerdas, beradab, berbudaya, dan berakhlaq mulia. Sebagaimana disebutkan dalam undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 Angka 1 bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. Yang dilanjutkan dengan Pasal 3 yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. 
Dari undang-undang tersebut bisa dijelaskan bahwa tujuan pendidikan bukan hanya untuk mengembangkan kemampuan akademis atau kecerdasan intelektual semata, tetapi juga memperhatikan pengembangan potensi dan kemampuan spiritual, psikologi, dan kepribadian yang berakhlak mulia. Dengan demikian, pendidikan individu dilakukan dengan memperhatikan elemen-elemen fisik, psikis, dan spiritual agar diperoleh sosok individu yang utuh, jasmani dan rohani.
Modif Gambar dari Google Image Search
Secara psikologis, materi dan pola penyampaian pendidikan individu harus disesuaikan dengan tugas perkembangan masing-masing individu dalam setiap rentang usianya, karena pola, teknik, materi, penggunaan bahasa, dan sarana yang digunakan harus sesuai dengan tingkat pola pikir individu pada setiap rentang usianya. 
Selain disesuaikan dengan tugas perkembangan setiap rentang usia individu, teknik, pola, dan materi yang digunakan dan disampaikan juga harus disesuaikan dengan zamannya. Sebagaimana pesan orang bijak menyatakan, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zaman kita dulu.” 
Melalui penyesuaian teknik dan pola pendidikan terhadap rentang usia dan zamannya ini, maka diharapkan keluaran (output) dan dampak (outcome) pendidikan sesuai dengan tujuan dan target yang telah ditentukan. Dengan demikian, di era teknologi yang mutakhir ini, tidak mungkin pendidikan di sekolah dilakukan dengan menggunakan teknologi sabak dan grip, sementara di luar sekolah, teknologi sabak yang digunakan telah beralih pada teknologi sabak yang telah dikembangkan dalam bentuk tablet dan ragam fiturnya, atau ragam gadget yang banyak diproduksi oleh perusahaan elektronik. 

Sekilas Teknologi dalam Bidang Pendidikan 
Abdulhak (2007) menjelaskan bahwa teknologi berasal drai kata textere (bahasa latin) yang artinya "to weave atau construct", yang artinya menenun atau membangun. Lebih lanjut, Abdulhak mengutip pendapat Saettler bahwa teknologi merujuk pada setiap kegiatan praktis yang menggunakan ilmu atau pengetahuan tertentu, yang didukung dengan pendapat Salisbury, bahwa teknologi merupakan usaha untuk memecahkan masalah. Dengan demikian, teknologi dalam pendidikan bisa didefinisikan sebagai usaha yang digunakan untuk memecahkan masalah di bidang penyelenggaraan pendidikan. Seiring dengan perkembangan teknologi, sarana penunjang pendidikan juga harus disesuaikan dengan level perkembangan teknologi, agar output yang dihasilkan tidak jauh-jauh dari harapan dan tujuan pendidikan. Jangan sampai di era teknologi informasi, siswa masih belum dikenalkan dengan peralatan dan penggunaan alat yang didukung teknologi. Bahkan, meskipun guru yang mendidik adalah output sistem pendidikan tahun 1980 an, yang masa itu masih menggunakan kapur tulis dan blackboard, ketika mengajar di era milenium, maka sosok guru harus turut meng-update kapabilitasnya terhadap pesatnya perkembangan teknologi informasi. Berkaitan dengan penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan, jika ditelusuri dari awal, maka dunia pendidikan mengalami perubahan sesuai dengan masanya. 
Di masa lalu, sebelum penggunaan tinta banyak digunakan, para siswa menyalin tulisan dengan menggunakan sabak dan grip. Penggunaan sabak dan grip ini terutama banyak digunakan bangsa Indonesia pada masa penjajahan. Tentu saja dengan menulis di sabak, tulisan yang disalin harus dihapus lagi, sehingga mau tidak mau, memori siswa yang harus kuat. Jika memori tidak kuat, maka apa yang ditulis akan hilang seperti terhapusnya tulisan di atas sabak tersebut. Perkembangan selanjutnya adalah penggunaan alat tulis menulis untuk proses belajar mengajar. Penggunaan papan tulis hitam (blackboard), kapur tulis putih, kapur tulis warna warni, dan sebagainya. Yang pada perkembangan berikutnya dilanjutkan dengan penggunaan whiteboard dan spidol unuk menghindari debu di kelas. 
Akhirnya, untuk kemudahan dan kepraktisan, sejak era 1990 an dikenal istilah e learning, yaitu teknologi pendidikan yang memanfaatkan sarana teknologi canggih dalam proses belajar mengajar. Seperti, penggunaan komputer, jaringan internet, intranet, dan ekstranet, serta media jaringan komputer lain. 
Modif gambar dari google image search

e Learning: Mendidik Siswa sesuai Zamannya 
e learning berasal dari gabungan kata electronic dan learning yang artinya pembelajaran elektronik, yaitu suatu jenis cara belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet, atau media jaringan komputer lain (Nursalam dan Efendi, 2008). 
E-pembelajaran atau pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction ) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, perkembangan E-learning dari masa ke masa adalah sebagai berikut (Wikipedia, 2013): 
  • Tahun 1990: Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan AUDIO) DALAM FORMAT mov, mpeg-1, atau avi. 
  • Tahun 1994: Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal. 
  • Tahun 1997: LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak , dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dan sebagainya. 
  • Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia, video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil. 
Melihat sejarah perkembangan e learning dari waktu ke waktu di muka maka bisa dilihat, bahwa implementasi e learning merupakan sebuah upaya yang dilakukan dalam proses belajar mengajar yang mengikuti perkembangan teknologi. Di mana tujuannya adalah membuat proses belajar mengajar menjadi lebih efisien, efektif, dan mudah dilakukan. Siklus pembelajaran elektronik itu sendiri sebenarnya tidaki jauh dari pembelajaran konvensional. Siklus pembelajaran tersebut bisa dijelaskan melalui gambar berikut: 

Siklus e Learning (diadaptadi dari Nursalam dan Efendi, 2008)
Siklus pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa aktivitas belajar mengajar dalam e learning pada hakikatnya sama dengan pembelajaran konvensional. Hanya saja, dalam e learning terdapat usaha untuk membuat sebuah transformasi proses belajar mengajar ke dalam bentuk digital yang dijembatani oleh teknologi internet. Dengan demikian, penggunaan e learning akan menjadikan proses belajar mengajar lebih efektif dan efisien, karena proses belajar mengajar bisa dilakukan setiap saat dan setiap waktu tanpa harus menunggu waktu untuk bertatap muka antara pendidik dan peserta didik. 
Selain itu, dengan e learning, siswa akan langsung bisa mengaplikasikan teknologi sejak di bangku sekolah, sehingga ketika sudah lulus, siswa telah terbiasa menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, seperti saat siswa tersebut bergabung dalam suatu organisasi, atau bekerja di perusahaan. Untuk mengetahui bagaimana e learning bisa mendidik siswa sesuai dengan zamannya, bisa dilihat dari kenyataan bahwa dewasa ini penggunaan gadget dan internet sudah tidak bisa terbendung lagi, sehingga siswa harus belajar beradaptasi terhadap setiap titik perubahan yang terjadi dengan cepat, tepat, dan bertanggung jawab. 
Oleh karena itu, bidang pendidikan sebagai wahana untuk membangun dan mengembangkan potensi siswa harus menyikapi perkembangan teknologi tersebut secara holistik dan universal. Peningkatan kecerdasan siswa bukan lagi hanya dilihat dari sisi kecerdasan akademis, tetapi juga kecerdasan yang holistik universal antara otak, intuisi, sosial, praktis, moral, dan spiritual, sehingga siswa akan menjadi pribadi yang tangguh, cerdas, inovatif, dan kreatif. 

Bagaimana e Learning Menfasilitasi Guru dan Siswa untuk Beradaptasi dengan Era Teknologi  
Sumber Gambar: www.bestway.com.mk
Menurut Nursalam dan Efendi (2008) e learning memiliki beberapa kelebihan, di antaranya: 
  • Pengalaman pribadi dalam belajar. Pilihan untuk mandiri dalam belajar menjadikan siswa untuk berusaha melangkah maju, memilih sendiri peralatan yang digunakan untuk penyampaian belajar mengajar, dan mengumpulkan bahan-bahan sesuai dengan kebutuhan. 
  • Kemampuan bertanggung jawab. Kenaikan tingkat, pengujian, penilaian, dan pengesahan dapat diikuti secara otomatis, sehingga semua peserta (pelajar, pengajar, pengembang, dan pemilik) dapat bertanggung jawab terhadap kewajiban masing-masing di dalam proses belajar mengajar. 
  • Potensial untuk akses yang luas, sehingga siswa akan lebih memiliki banyak peluang untuk memperluas wawasan dan pengetahuannya. 
  • Memacu siswa untuk aktif dan mandiri. 
Dengan kelebihan tersebut maka siswa akan terbentuk menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, inovatif, adaptif, dan bertanggung jawab, serta menjadi terbiasa untuk menghadapi setiap perubahan. 
Sementara itu, bagi guru, dengan adanya e learning guru akan lebih mudah: 
  • Melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang mutakhir.
  • Mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna meningkatkan wawasannya. 
  • Mengontrol kegiatan belajar peserta didik (Wikipedia, 2013). 
Selain bagi guru dan siswa, secara umum, kelebihan e learning di bidang pendidikan menurut Nursalam dan Efendi (2008), di antaranya adalah: 
  • Mengurangi biaya. Lembaga penyelenggara e learning dapat mengurangi bahkan menghilangkan biaya perjalanan untuk pelatihan, menghilangkan biaya pembangunan sebuah kelas, dan mengurangi waktu yang dihabiskan oleh pelajar untuk berangkat sekolah. 
  • Mudah dijangkau. Pemakai dapat dengan mudah menggunakan aplikasi e learning di mana pun selama mereka terhubung dengan internet. e learning dapat dicapai oleh para pemakai dan para pelajar tanpa dibatasi waktu, tempat, dan jarak.

e Learning yang Efektif untuk Proses Belajar Mengajar 

Gambar: www.newway2learn.org
Selain kelebihan yang melekat dalam e learning, implementasi e learning juga mengandung kekurangan, di antaranya: Kurang interaktif langsung antara pembelajar dengan pebelajar, atau bahkan antarpebelajar itu sendiri. Kurangnya interaksi bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar mengajar. Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya, mendorong aspek bisnis/komersial. Proses belajar dan mengajar cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan. Pebelajar yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal atau ketinggalan. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet. Hal ini terkait dengan masalah tersedianya listrik, telepon, atau komputer. 
Jika dibandingkan dengan metode konvensional yang memungkinkan adanya tatap muka yang lebih besar, pada metode pendidikan konvensional, hubungan antara pebelajar dan pembelajar yang erat merupakan titik sentral pendidikan. Dengan metode ini dapat menghasilkan kualitas pendidikan yang baik, dan bukan hanya menjadikan pebelajar pandai melainkan juga terdidik dengan tingkah laku yang santun. Namun dengan kondisi sarana prasarana dan pembelajar yang tidak sesuai, dan semakin banyaknya jumlah pebelajar, maka metode konvensional kurang mencapai hasil yang maksimal. 
Oleh karena itu, dengan kelebihan dan kekurangan metode e learning dan konensional, bisa dilakukan integrasi antara e learning dengan konvensional, agar implementasi e learning bisa menghasilkan keluaran yang maksimal. Newby (2011) menjelaskan bahwa pembelajaran yang mengintegrasikan antara pembelajaran menggunakan komputer (internet) dengan metode tradisional menyatakan bahwa prestasi yang didapat lebih baik. 
Sebagai upaya untuk mengantisipasi kekurangan e learning, maka dalam implementasi e learning, beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dan pengembang adalah (Nursalam dan Efendy, 2008): 
  • Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada guru dan siswa mengenai komputer, memberikan dukungan, dan arahan. 
  • Mendesain pembelajaran yang seefektif mungkin agar guru dan siswa bisa menggunakan waktunya untuk belajar dan mengajar dan bukan hanya berselanjar di dunia maya. 
  • Guru harus mampu menyampaikan informasi dan mengatur lingkungan pembelajaran yang kondusif. 

Penutup

Berdasarkan uraian di muka maka bisa dijelaskan bahwa e learning dalam proses belajar mengajar merupakan hal penting dalam menunjang kelancaran dan keberhasilan proses belajar mengajar, di mana hal ini, selain berdampak positif bagi guru, juga berdampak positif bagi siswa dan stakeholder lainnya. Dengan berbagai kelebihan yang melekat dalam e learning, maka diharapkan output dan outcome pendidikan sesuai dengan tujuan sistem pendidikan nasional yang telah ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, yaitu individu yang cerdas secara akademis, berakhlak mulia, beradab, dan kreatif. Sementara itu, dengan adanya kekurangan yang melekat dalam e learning, terutama kurangnya tatap muka antara guru dan siswa, maka hal itu bisa diintegrasikan dengan kelebihan metode konvensional, misalnya, melakukan tatap muka secara periodik agar guru dan siswa tetap bisa mengembangkan tugas perkembangan sosial pada diri siswa. 

Referensi: 
  • Abdulhak, Ishak. 2007. Teknologi Pendidikan. Diedit oleh Tim Pengembang Ilmu Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan - UPI, dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bagian 2: Ilmu Pendidikan Praktis, PT Imperial Bhakti Utama, Jakarta, Chapter 8, p. 177. 
  • Munir. 2007. Pendidikan Dunia Maya. Teknologi Pendidikan. Diedit oleh Tim Pengembang Ilmu Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan - UPI, dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bagian 4: Pendidikan Lintas Bidang, PT Imperial Bhakti Utama, Jakarta, Chapter 21, p. 503. 
  • Newby, J. Timothy. 2011. Educational Technology for Teaching and Learning. Pearson Education, Boston. 
  • Nursalam dan Ferry Efendi. 2008. Pendidikan dalam Keperawatan. Penerbit Salemba Empat, Jakarta. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78). 
  • Wikipedia. 2013. Pembelajaran Elektronik. Diunduh pada Desember 2013, melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran_elektronik, diedit pada 19.19, 24 Agustus 2013.

November 2, 2012

Guru, Representasi Keikhlasan dalam Pengabdian


Taman kanak-kanak (TK) adalah awal pertama kali seorang anak mengenal lingkungan sosialnya setelah lingkungan sosial di keluarga. Pada masa ini, peran guru TK sebagai jembatan untuk membantu anak melangkah ke dunia yang lebih luas. Bermain dan belajar dengan penuh kebebasan dan pembelajaran kedisiplinan dan kebersamaan membantu anak melalui tugas perkembangan masa kanak-kanaknya. Di sini, sosok guru TK harus benar-benar mampu mewakili sosok orangtua, terutama Ibu yang tulus dan totalitas dalam membimbing, mendidik, dan mengajarkan kehidupan bagi anak-anak.

taman kanak-kanak
Sumber: kidsandtoys.edublogs.org
Waktu masih di Taman Kanak-kanak, guru TK saya ada tiga, yang satu namanya Bu Kaslah, orangnya berbadan subur, tetapi lincah dan suaranya tegas. Yang saya ingat dari beliau, saat menyanyikan lagu 'naik delman'. Pada saat sampai di lirik 'Hai, tuk tik tak tik tuk, tik tak tik tuk, tuk tik tak tik tuk, tik tak tik tuk, suara sepatu kuda' maka tangannya yang satu ada di pinggang yang digoyang kiri kanan, dan yang satunya di atas kepala di putar-putar. Pada masa itu, kalau mengajar, para guru menggunakan jarik dan kebaya atau rok panjang (maxi) dengan baju kurung, serta kerudung. Sepatunya? Sandal jepit, atau.....selop. 
Kalau yang satunya Bu Masyitoh. Orangnya tinggi langsing, dan seingat saya berkulit bersih. Yang saya ingat dari beliau adalah saat mengajarkan huruf Hijaiyyah, yang mana ketika menyebut huruf SYIN, di mana demi menegaskan pengucapan huruf tebal tersebut, maka Bu Masyitoh akan menyebutnya dengan SYUIN.
Nah, guru TK yang satu lagi kebetulan adalah kakak saya sendiri. Orangnya bertubuh kecil, tetapi sangat sabar. Yang saya ingat adalah ketelatenannya membacakan cerita, bermain kucing dan tikus, dan bermain batu-batu kecil di kelas. Selain mengajar di sekolah, kakak saya juga mengajar mengaji di rumah (gratis lo, karena mengaji di rumah ini adalah program kakek saya dalam mengajarkan agama Islam kepada warga sekitar, yang dilanjutkan oleh kedua orangtua saya yang juga berprofesi sebagai guru, dan kakak saya).
Pada jenjang pendidikan TK ini, ada tingkatan (kelas) A, B, dan C. Di mana selama tiga tahun menjadi anak TK, tidak pernah membawa buku, tas, pensil, dan ragam alat tulis lainnya saat ke sekolah, karena memang belum diajarkan baca, tulis, dan berhitung. adi, waktu berangkat ke sekolah, ya hanya membawa semangat saja. Mata pelajarannya adalah menyanyi, menari, bermain, bercerita. Ada boneka peraga yang dijalankan dengan tangan, jadi tangan kecil kami atau tangan bu Guru kami dimasukkan ke badan boneka yang terbuat dari kain, tetapi kepalanya dibuat dari bahan semacam gip. Dengan boneka-boneka itu, ragam cerita bisa dihasilkan yang mana kami, para murid TK ini, mendengarkan dengan antusias. 
Ada juga alat peraga musik, seperti gambang, kricikan, rebana, yang kami bisa menyuarakannya dengan gaduh. Ada juga malam (lilin) warna-warni, kertas warna-warni, balok-balok kayu dengan beragam bentuk (segitiga, lingkaran, kotak, lempeng, silinder, dan sebagainya), bongkar pasang, buku-buku cerita bergambar, crayon yang ukurannya besar-besar. Nah, dalam kaitannya dengan buku cerita bergambar, kami tidak diajarkan untuk membaca tulisan, tetapi buku itu akan dibacakan dan kami diperlihatkan dengan gambar-gambar yang ada dalam buku.
Adanya papan tulis dan kapur tulis pun, bukan digunakan untuk mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi untuk menggambar dan sekedar mengenalkan.
Saya juga teringat jika waktunya peringatan hari-hari besar nasional, di mana para guru kami akan sedemikian sibuk menyiapkan kami untuk tampil di panggung, menari, berpuisi, menyanyi, dan berdrama. Tarian yang masih saya ingat hingga saat ini adalah tari piring atau tari lilin. Piring yang dipakai waktu itu berbahan tempurung kelapa yang dihaluskan, sehingga halus sekali. Kami tampil di panggung dengan senangnya. Dan, tahukah Anda, bagaimana kami melakukan latihan? Latihan diiringi lagu yang dinyanyikan oleh para guru kami tersebut. Penggunaan musik hanya dilakukan pada saat latihan menjelang pentas dan saat pentas.
Pentas lain yang masih terngiang dalam ingatan saya adalah saat kami menyanyikan lagu 'Desaku yang Kucinta', di mana satu kelompok di depan menyanyikan lagu itu dengan koor, sementara ada satu teman kami yang menyairkan liriknya. Syahdu dan merdu. Kami, yang masih lucu, polos, lugu, berada di panggung yang ditonton oleh segenap masyarakat di desa kami, bahkan dari desa tetangga kami, dan disambut antusias oleh warga desa kami.
Begitu hebatnya guru-guru TK kami pada saat itu. Cara beliau-beliau mendidik kami sungguh mulia dan penuh ketulusikhlasan. Bagaimana tidak? Kami yang anak desa, yang masih ingusan, yang lubang hidungnya sering mueller, dan mengusapnya sendiri dengan tangan-tangan kami yang kotor, sehingga membuat muka kami tambah kotor... dan guru-guru kami akan membantu kami untuk mengelapkan ingus dan membersihkan muka kami.Dan, juga kadang beliau-beliau itu akan bertandang ke rumah para murid yang tidak masuk.
Bukan hanya itu, sekolah TK kami waktu itu juga gratis, karena sekolah TK kami adalah TK Desa Dharmawanita. Nah lo... lantas, dari mana gaji para guru itu? Guru kami diberi kompensasi oleh desa. Tentu jumlahnya tidak sepadan dengan pengabdiannya, karena tujuan para guru itu mengajar adalah untuk mendidik kami, si anak desa, agar mampu mengenyam pendidikan yang lebih baik. Jadi, penghasilan bukan merupakan motivasi atau tujuan utama para guru kami, karena selain menjadi guru, beliau-beliau adalah petani dan pedagang, yang bertani dan berdagang di saat tidak mengajar.
Meskipun demikian, para guru TK tersebut tidak hanya mengajar anak-anak TK saja. Di sela-sela kesibukan bertani dan berdagangnya, beliau-beliau juga turut berpartisipasi dalam acara di Desa kami, termasuk turut serta melancarkan pelaksanaan program KEJAR PAKET A pada warga Desa yang kebanyakan masih buta huruf.
Satu lagi yang mengharukan adalah, bahwa para guru kami itu harus juga menghadiri pertemuan guru TK di kecamatan setiap satu bulan sekali. Nah, jarak desa kami dengan kota kecamatan sekitar tujuh kilometer (sekarang sih bisa ditempuh seperempat atau setengah jam saja, karena sudah banyak warga desa yang memiliki kendaraan bermotor). Waktu itu, (awal tahun 1980an), para guru kami harus berjalan kaki melintasi jalan yang kiri kanannya adalah sawah ladang penduduk, menuju ke tempat di mana beliau-beliau bisa naik mobil angkutan. Di sini, kadang saya ikut ke kota kecamatan, karena salah satu guru itu adalah kakak saya. Perjalanan yang cukup melelahkan. Belum lagi saat harus ngetem angkutan yang kadang munculnya lama sekali, sehingga kami harus terkantuk-kantuk di tempat kami menunggu kendaraan.
Setiap kali selesai pertemuan guru, selalu ada rencana baru yang ingin diterapkan oleh para guru tersebut untuk memperbaiki pendidikan di jenjang TK kami. Saya bisa tahu itu, karena biasanya kakak saya akan membicarakannya dengan ibu saya (yang juga seorang guru di Madrasah Ibtidaiyah). Di mana untuk merealisasikan rencana ini, para guru kami tidak memutuskan sendiri, tetapi juga melibatkan para wali murid yang dianggap memiliki kapasitas untuk diajak berbicara. (#maklum, kami di desa adalah para petani yang tidak mengenyam bangku sekolah, dan hanya beberapa saja orangtua yang lulus sekolah rakyat).
Demikian besar semangat para guru TK kami waktu itu, sehingga masih membekas dalam diri, hati, dan jiwa kami sampai di titik terkini. Ketulusikhlasan dalam pengabdian tanpa batas dan spesialisasi menjadikan seluruh perilaku dan tindak tanduknya benar-benar layak untuk ditiru.
Yang terakhir adalah kenyataan bahwa beliau-beliau, guru TK kami, bukan sosok guru yang mengenyam pendidikan di tingkat Perguruan Tinggi, Kedua guru TK kami 'hanya' lulusan SMP yang melanjutkan sekolah ke SPG (Sekolah Pendidikan Guru) dan PGA (Pendidikan Guru Agama) sambil mengajar kami. Kakak saya bahkan benar-benar hanya lulusan SMP Swasta di Tuban. Namun, telah berapa banyak anak Desa kami yang bisa mengenali huruf Hijaiyyah, alfabet, dan mampu mendapatkan gelar Sarjananya? Ada yang menjadi Perawat, Bidan, Dokter, Pengusaha, Guru, Dosen, .....

Dan...........
Terima kasihku kuucapkan
Pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan
Untuk bekalku nanti
Setiap hariku dibimbingnya
Agar tumbuh bakatku
Kan kuingat selalu nasehat guruku
Terima kasih kuucapkan

Di saat para guru TK kami menikmati masa tua mereka di desa, para anak desa yang dulunya masih ingusan sekarang telah mengembara ke luar desa kami dengan ragam profesinya. Hingga di suatu saat, dengan gagah ada yang menyempatkan bertandang ke rumah ibu gurunya yang dulu mengusap ingus dan membersihkan mukanya yang kotor dengan  tangan penuh ketulusan dan kasih sayang.... Rumah ibu guru yang masih tetap di tempat yang dulu, dengan dua buah pohon mangga di depan rumahnya.... yang tetap sederhana, tanpa pagar tinggi dan mobil mewah.....

November 1, 2012

Ada apa dengan Guru?

Sebagaimana telah pernah saya tuliskan di sini, bahwa salah satu faktor pendorong saya membuka blog baru ini adalah untuk berpartisipasi dalam mengembalikan citra anak SMA di mata Google. Waktu itu, di facebook tengah ada yang menggalakkan penggunaan kata kunci anak SMA dengan konten blog dan gambar yang santun dan mendidik, karena setiap jika kata kunci 'anak SMA' dimasukkan maka spontan Google akan menampilkan berita dan gambar anak SMA yang tidak selayaknya ditampilkan sebagai anak bangsa yang terdidik. Nah, karena saya tidak memiliki blog yang menggunakan bahasa Indonesia, makanya saya membuka blog ini.
Sayangnya, berita tentang carut marut anak SMA di Indonesia masih belum selesai, mulai dari tawuran pelajar SMA, adanya siswi SMK yang melahirkan di toilet sekolah, pemerkosaan siswa SMA, pencabulan siswi SMP oleh guru SD, kepala sekolah yang melakukan sodomi terhadap siswa, dan berita lain yang tidak mengenakkan untuk dibaca terkait dengan perilaku guru, sungguh membuat saya kembali geleng-geleng kepala. Artinya, tidak salah dong, kalau selama ini Google menampilkan hasil pencarian yang tidak layak dan tidak wajar untuk kata kunci 'anak SMA'. La wong, pagi-pagi saja di widget saya 'Kabar Terpopuler' dari viva.co.id muncul berita yang mengenaskan tentang pendidikan dan guru kita.


Nah, begitu saya klik, berita tersebut, semakin banyak berita terkait tentang perilaku guru yang seharusnya tidak layak dilakukan oleh seorang dan sesosok guru, sebagaimana dalam screenshot berikut:



Nah, lo. Meskipun saya yakin bahwa guru dalam berita itu adalah oknum, tetapi mengapa oknum itu tidak hanya satu? Mengapa oknum itu tidak meleleh dan meresap di telan bumi oleh sistem pendidikan yang mendidik? Bukankah mereka berada di lingkungan pendidikan?
Saya menjadi ingat betapa saya dulu sangat mengidolakan guru SD saya yang cuantikk, baik, ramah, pinter, dan baik hati dengan senyum manis dan lesung pipinya. Dan.... betapa bangganya saya ketika SMA, saat saya disepadankan dengan guru baru yang mengajar PMP (Pendidikan Moral Pancasila, sekarang PPKN), yang manis, ramah, dan murah senyum, dengan ragam kisah menarik saat masih kuliahnya. Atau.... senangnya saya pada waktu SMP, saya mendapat kepercayaan dari guru Bahasa Inggris untuk membantu menuliskan TIK dan TIU, sehingga setiap pulang sekolah tanpa kenal lelah saya berusaha menyelesaikan pekerjaan saya untuk menulis lembar demi lembar (3waktu itu menulisnya masih menggunakan tulisan tangan).
Saya juga teringat dengan peristilahan GURU, diGUGU dan diTIRU, sehingga saat itu, apa pun yang dikatakan dan diperintah oleh guru adalah petuah, pedoman, yang bahkan, apa yang pernah diajarkan dan gaya mengajar para guruku waktu itu masih teringatkan di memori saya.
Yupps... peristilahan seperti itu pada masa dulu memang keramat. Saat itu, guru sangat dihormati dituakan.Guru yang selalu mengajar dengan cinta dan kasih sayang, karena guru adalah pengganti orangtua bagi para siswa untuk mendidik siswa dengan cinta dan kasih sayang, agar siswa menjadi generasi tangguh, berkarakter, beradab, dan berbudaya, serta berakhlaq mulia. Sungguh mulia kedudukan sorang guru bukan?
Dan, di era yang makin global dan dinamis ini, cinta dan kasih sayang guru semakin diperlukan, karena makin banyak orangtua yang 'menyerahkan' pendidikan anak-anaknya ke sekolah, sementara orangtua makin sibuk bekerja, sehingga ketika ada oknum guru yang berperilaku tidak layak, dan tidak beradab, serta tidak berbudaya..... Dan, jika media telah memberitakan Guru dalam berita yang tidak seharusnya, maka peertanyaannya adalah 'Ada apa dengan Guru kita? Masih adakah cinta guru untuk bangsa dan anak bangsa ini dari seorang guru? Atau, sudah tergadaikankah cinta itu dengan makin tingginya kebutuhan ekonomi yang makin sulit? Atau, sudah menguapkah cinta dan kasih sayang itu akibat panasnya terik matahari akibat banyaknya penggundulan hutan budaya dan tercerabutnya akar peradaban?

September 20, 2012

Ilmu Kedokteran yang Humanis: Beradab dan Berbudaya

Ilmu kedokteran itu mahal, karena biaya kuliah kedokteran juga mahal (hasil wawancara saya dnegan dua mahasiswa kedokteran bilang kalau biaya masuknya sampai Rp. 150 juta, dan yang satunya bilang kalau sampai Rp. 180 juta.... la biaya lainnya??? kan mereka rata-rata perantauan dan penampilan mereka sekeren itu.... wiihh bikin saya geleng kepala). 
Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan dua anak dari Kalimantan yang kuliah di salah satu fakultas kedokteran, pada hari berikutnya saya bertemu lagi dengan dua mahasiswa kedokteran dari Kalimantan dan dari Madura. Pada pertemuan ketiga, saya bertemu lagi dengan mahasiswa kedokteran dari Madura dan Surabaya. Masalah mereka sama. Mereka kesulitan membuat laporan tugas akhir yang menjadi salah satu syarat kelulusan mereka, sehingga harus membayar Joki atau Ghost writer agar bisa segera  diwisuda dan menyandang gelar dokter. Masalah klise yang banyak dijumpai pada mahasiswa semester akhir.
Masalahnya adalah ketika mereka tidak lagi bisa atau bersedia 'menjinakkan' rasa tidak percaya diri untuk bisa mengatasi kesulitan yang menghadang, di mana sebagaimana mahasiswa lainnya juga, yang menyatakan kesulitan untuk mengatur waktu yang terlalu padat dengan penyusunan tugas, pencarian literatur, dan bahan riset serta bahan praktik lainnya, atau sikap dosen yang 'sekedar coret sana-coret sini, sehingga membuat mereka bingung hendak bertindak yang seperti apa lagi. 
Maaf, ironinya, kenyataannya masih sempat juga mereka ke salon atau ke mall heeehehehh.... ..#hal serupa juga terjadi pada mahasiswa dari fakultas lain yang saat mengeluh betapa susahnya menyelesaikan tugas akhirnya, tapi masih sempatnya berlibur ke Singapura atau jalan-jalan ke luar kota.
Di sini saya tertarik dengan mahasiswa kedokteran, karena selama ini dalam perspektif saya, yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah, mahasiswa itu adalah manusia 'pilih an', gimana tidak? Mereka bisa diterima di perguruan tinggi, tentunya melalui proses penyaringan yang ketat, so at least, mereka adalah orang yang telah lulus dari ragam uji coba kompetensi fisik, sosial, dan emosionalnya. Bukankah memenangkan suatu persaingan ketat membutuhkan kekuatan fisik dan mental yang saling mendukung?
Dengan demikian, saat mereka harus mengorbankan integritas dan kejujurannya begitu mengalami kesulitan untuk memenuhi 'salah satu' persyaratan kelulusan, maka hal itu membuat saya harus semakin geleng-geleng kepala semakin keras hingga berderak dada ini. 
Selanjutnya, saat saya mendengar berita penculikan bayi di rumah sakit, atau terjadinya malpraktik di rumah sakit, atau masih rendahnya kinerja rumah sakit di Indonesia, saya terbayang keenam mahasiswa kedokteran tersebut. Karena sebelumnya saya juga bertemu dengan tiga mahasiswa kedokteran dari perguruan tinggi negeri ternama dan tersohor dengan masalah serupa # meski kasusnya tidak seberat yang enam ini#, dan dua orang mahasiswa kedokteran gigi..........
Meskipun sekali lagi, tentunya semua kasus itu tidak terlepas dari kepiawaian pihak manajemen rumah sakit, yang tentunya tidak harus seorang dokter kan.... tetapi  jika melihat kasus-kasus malpraktik di rumah sakit yang melibatkan seorang dokter, #dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya pada profesi dokter, dan #bukan dengan maksud 'gebyah uyah', setidaknya, pertemuan saya dengan para mahasiswa kedokteran tersebut membuat saya semakin terenyuh juga dengan dunia pendidikan di Indonesia.

Ilmu kedokteran yang dienyam di saat masih menempuh pendidikan, mungkin makin perlu ditambahsisipkan kurikulum dengan menu yang bergizi (yang tidak hanya banyak, enak, dan mengenyangkan, atau bahkan hanya membuat mereka terengah-engah karena kekenyangan atau capek mengunyah dan mencerna), sehingga para mahasiswa yang belajar akan menyerap humanisme kedokteran sebagaimana yang pernah diteladankan oleh Florence Nightingale. Sosok mahasiswa kedokteran adalah sosok yang humanis, pantang menyerah, dan menjunjung tinggi kejujuran dan integritas, sehingga kelak, saat benar-benar telah menjadi dokter, maka akan muncul sebagai dokter yang profesional, memiliki sensitivitas etika mulia, beradab, dan berbudaya.
Dan, sebagai orang awam, saya menunggu inovasi dalam dunia pendidikan ini, karena dari sanalah proses peradaban manusia dialirkan menuju muara yang luas di berbagai sektor kehidupan. Karena telah makin banyak orangtua yang mempercayakan anak-anaknya kepada lembaga pendidikan.

September 16, 2012

Plagiat yang Makin Marak di Kalangan Akademis

Modif from Google Image Search
Surabaya, CocoNotes - Gerakan anti plagiat memang tengah banyak digalakkan di kalangan blogger, dengan memasang anti copy paste di blog. Gerakan anti plagiat di kalangan blogger memang perlu dilakukan, karena copy paste via elektronik lebih mudah dilakukan. Plagiat gutenberg, plagiat wiki, plagiat program, plagiat blog, dan ragam plagiat bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja. Sebagaimana dengan makin banyaknya buku dan karya cipta yang dipublikasikan online, maka makin besar pula kemungkinan untuk melakukan aktivitas copy paste dan mengatasnamakan hasil copy paste itu sebagai karya sendiri, baik dilakukan seara sadar (sengaja) maupun tidak sengaja. Ketidaksengajaan itu bisa jadi dilakukan karena ketidaktahuan mengenai bagaimana membuat kutipan tanpa melanggar hak cipta atas sebuah karya.
Namun yang menarik saat ini adalah masih ditemukannya kalangan akademis yang melakukan plagiarisma. Hal yang sungguh tidak masuk di akal bukan? Kalangan akademis yang seharusnya memberi contoh etika menulis dan berkarya yang baik ternyata justru menjadi pioner atas aktivitas plagiarisme. Kasus plagiarisme yang dilakukan oleh Banyu Perwita merupakan kasus yang benar-benar mencoreng dunia pendidikan, karena dunia pendidikan yang selama ini dijadikan sebagai lembaga untuk mendidik individu agar menjadi manusia yang berkualitas, beradab, bermoral, dan berbudaya ternyata diisi oleh pendidik yang memiliki perilaku yang tidak bisa diterima oleh kalangan masyarakat baik nasional maupun internasional. Dalam kasus tersebut, Prof. Dr. Banyu Perwita melakukan plagiat terhadap artikel-artikel asing yang diterbitkan dalam harian The Jakarta Post. Seorang pembaca harian kompas telah mengajukan alat bukti berupa dua laporan side-by-side comparison yang menunjukkan bahwa Prof. Banyu Perwita menjiplak secara persis frase, kalimat, bahkan paragraf, dari ketiga artikel tersebut. Dengan turunnya laporan ini, berarti sudah enam karya orang lain yang ia bajak ke dalam empat artikel di The Jakarta Post.
Bukan hanya itu, di salah satu Universitas Negeri di Jakarta, seorang dosen bahkan ditengarai menjiplak skripsi mahasiswanya. heehheheh.... jika dosennya saja begitu, gimana dengan mahasiswanya?
Nah ini dia, fakta lebih lanjutnya, ternyata mahasiswa di perguruan tinggi yang sangat reliabel secara internasional pun terkena kasus plagiarisme. Sebagaimana disebutkan dalam harian Kontan.co.id (31 Agustus 2012) sebagai berikut:
Salah seorang pejabat di Universitas Harvard mengungkapkan, sekitar 125 mahasiswa di universitas bergengsi ini sedang diinvestigasi atas tuduhan plagiat. Tidak hanya itu, para mahasiswa tersebut juga diperiksa untuk pelanggaran akademik lain yang dilakukan pada ujian akhir awal tahun ini. Ini merupakan skandal kecurangan yang paling buruk dalam sejarah Harvard. Menurut Jay Harris, dekan sarjana pendidikan Harvard, semua siswa yang terlibat akan disidang di hadapan Harvard's Administrative Board. Dia menceritakan, kasus ini terungkap setelah profesor Harvard menguji latihan yang diberikan kepada mahasiswa yang dimulai pada Mei lalu. Mahasiswa yang kedapatan melakukan pelanggaran akan mendapat skors dari universitas selama satu tahun. "Tuduhan-tuduhan tersebut, jika terbukti, akan menjadi perilaku yang tidak dapat diterima karena menodai intelektual yang Harvard junjung tinggi," jelas Harvard President Drew Faust. Sanksi yang akan diberikan sangat rahasia. Dan, Harvard tidak akan mengumumkan siapa saja mahasiswa yang terlibat dari kasus ini.
Nah, lo... tugas latihan pun plagiat. Di Indonesia bagaimana? Kasus plagiat di Indonesia juga sudah tidak perlu diragukan lagi. Banyak mahasiswa di Indonesia yang umumnya mengerjakan tugas-tugasnya dengan menggunakan joki atau ghost writer. Bukan hanya pada tugas akhir, semacam skripsi, tesis, dan disertasi, tetapi juga pada tugas atau latihan dalam UAS maupun UTS.

August 12, 2012

Triangle Fraud Skripsi, Tesis, dan Disertasi

Miris dengan situasi pendidikan tingkat Perguruan Tinggi di Indonesia yang diwarnai dengan kehadiran ghost writer, joki, dan manipulator data penelitian. "budaya membaca  yang rendah dan budaya menulis yang lemah, serta budaya riset yang tidak terdukung"
Sejatinya, skripsi, tesis, dan disertasi adalah 'hanya' salah satu syarat kelulusan mahasiswa untuk mendapatkan gelar kesarjanaannya. Tapi, skripsi, tesis, dan disertasi tersebut justru menjadi momok yang menakutkan dan memberatkan bagi sebagian mahasiswa. Bagi mahasiswa strata 1, pembuatan skripsi seringkali menjadi momok yang menakutkan dan membuat mereka berkeringat dingin, akibat ditolak atau banyaknya revisi dari dosen yang kadang tidak dipahami oleh mahasiswa. Bahkan, maaf, kadang ada macam arogansi dari dosen, sehingga dosen seakan sedemikian rumitnya untuk ditemui. Seperti yang terjadi di salah satu PTS ternama di Surabaya, yang mahasiswanya harus nyanggong dosen hingga jam sembilan malam, atau mahasiswa yang harus menunggu dari pagi hinga siang, dan giliran pintu dosen terbuka, ternyata dosen keluar untuk makan siang. Ya, memang di sini mahasiswa bukan hanya diuji secara akademis, tapi juga secara mental. Tapi, apakah mahasiswa saat ini sekuat itu?
Dimulai dari proses pengajuan judul dan proposal yang relatif sulit, karena banyak mahasiswa yang lemah di dalam pemahaman jenis penelitian, metode penelitian, pendekatan penelitian, operasionalisasi variabel, penyusunan kalimat ilmiah, perumusan masalah, penetapan fenomena dan fakta, dan sebagainya, menjadikan penyusunan proposal dan model penelitian menyita waktu yang lama dan berat.
Apabila proposal penelitian telah disetujui, maka tantangan berikutnya adalah menyebar kuesioner bagi yang menggunakan metode survei dengan pendekatan kuantitatif, atau mengambil data ke lokasi penelitian  untuk melakukan observasi dan wawancara (bagi yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode case study), atau melakukan eksperimen jika tipe penelitiannya adalah eksperimental, baik quasi eksperimen maupun murni eksperimen. 
Proses pengumpulan data ini tidak selamanya berjalan mulus. 
Bagi yang menyebar kuesioner, selain tidak selamanya mendapatkan responden yang sesuai dengan kriteria sampel yang ditetapkan, juga tidak semua target sampel bersedia menjawab, atau dengan ogah-ogahan menisi dengan sekenanya. Hasilnya? banyak mahasiswa yang hanya mampu mengumpulkan data 10 orang responden, atau bagi yang mampu bertahan, mereka akan membutuhkan waktu sampai setegah bulan sampai satu bulan untuk memenuhi jumlah dan kriteria yang diharapkan. 
Bagi yang melakukan eksperimen juga demikian. Perlengkapan dan pemilihan metode, serta penetapan obyek eksperiman dan lokasi, dan juga proses eksperimen bukan merupakan hal mudah yang bisa dilalui. Bagi yang obyeknya manusia, maka pemilihan manusia yang sesuai dengan tujuan eksperiman membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Bagi yang obyeknya binatang atau bahan-bahan, maka memerlukan waktu perlakuan yang harus diamati dari periode ke periode dengan dukungan perlengkapan dan alat ukur yang memadai.
Sementara itu, bagi yang melakukan observasi dan wawancara maka tidak semua informan bersedia memberikan informasi mendalam terkait topik penelitian.
Selanjutnya, adalah bagian pengolahan hasil penelitian. 
Di sini tantangannya juga tidak mudah. Kebanyakan mahasiswa mengalami kesulitan dalam pengolahan statistik, pembahasan yang hanya di permukaan, sehingga hasilnya kurang mewakili tujuan penelitian. Parahnya, hasil penelitian survei tidak selamanya sebagaimana yang dihipotesiskan. Jika menghadapi masalah seperti ini, mahasiswa pun panik dan berkeringat dingin.Terutama jika dosen tidak memberikan dukungan yang 'membelai' tetapi malah 'menonjok' maka hal itu semakin membuat mahasiswa akan gemetar. #Weee lah apalagi mahasiswa strata 1, la wong yang strata 3 saja gemetaran, saat proposalnya harus menambah atau mengurangi variabel yang diajukan :(
Tantangan dan proses-proses di atas sebenarnya jika dilalui dengan baik bisa merupakan wahana pematangan mahasiswa, karena tidak selamanya kehidupan di lapangan semulus seperti yang diharapkan. Sayangnya, apakah mahasiswa di Indonesia sekuat itu? Pada akhirnya, tantangan tersebut melahirkan Triangle Fraud yang melingkar-lingkar. Mahasiswa lari ke joki, ghost writer, dan bahkan manipulator data penelitian. Para joki, ghost writer, dan manipulator data menjadikan hal itu sebagai peluang bisnis, dan mahasiswa menjadikannya sebagai peluang untuk menggunakan jasa 'konsultan' tersebut, sedangkan sistem pendidikan tidak juga menyadari bagaimana membina jiwa dan mental mahasiswa agar menjadi kuat dan mampu menghadapi tantangan.
Seorang mahasiswi yang melakukan penelitian dengan mengambil obyek penelitian fiktif, karena dia diharuskan meneliti di lokasi usaha yang memang didirikan sebagai salah satu wujud mata kuliah entrepreneurship, padahal lokasi usahanya tersebut bangkrut dalam jangka sebulan. Si mahasiswa dan temannya tidak mungkin mengulang mendirikan bisnis tersebut, karena pendirian bisnis tersebut telah menghabiskan sekitar 16 juta untuk modal awal. Akhirnya, dengan bisnis yang telah bangkrut tersebut, si mahasiswa menjadikannya sebagai obyek penelitian, dengan metode survei pelanggan. Akhirnya pelanggannya juga fiktif, dan data yang digunakan juga data fiktif (membayar manipulator data).

Seorang mahasiswa yang menggunakan metode kualitatif mengalami kesulitan untuk mewawancarai informan penelitian, akhirnya harus menyerahkan kepada ghost writer untuk mengarang indah penelitiannya.

Seorang mahasiswa yang melakukan eksperimen dan ternyata hasil eksperimennya tidak sesuai dengan harapan, mengubah data hasil penelitian dan merusak hasil eksperimennya sendiri. Jika upaya ini tidakmampu dilakukannya maka pada akhirnya akan lari ke manipulator data.
Hal itu bukan semata dipraktikkan oleh mahasiswa strata 1. Bagi yang strata 2 dan strata 3, umumnya menggunakan alasan klise yang menyebabkan mereka memilih penggunaan jasa ghost writer, joki, dan manipulator data. Tidak ada waktu, sibuk dengan pekerjaan, dan tuntutan kerja yang mengharuskan mereka memiliki title atau gelar. 
So, apa sebenarnya solusinya? karena kehadiran joki, ghost writer, dan manipulator data tersebut makin marak. Hampir di seluruh bagian belahan di Indonesia memiliki mahasiswa yang memiliki perilaku seperti demikian adanya. Masih relevankah jika skripsi, tesis, dan disertasi dipaksakan untuk menjadi satu syarat kelulusan kesarjanaan jika prosesnya seperti itu? Karena intergitas dan kejujuran telah dipertaruhkan demi sebuah gelar yang akan mewarnai bagaimana perilaku mereka di tempat kerjanya kelak. Bagaimana jika mereka menjadi birokrat? bagaimana jika mereka menjadi pengusaha? maka akankah jalur-jalur cepat trabas pun akan menjadi pilihan demi segeranya terjapainya tujuan secara instan.

August 11, 2012

Ambilkan Bulan Bu: Mengingatkan Betapa Langkanya Lagu Anak

Sumber Gambar: Wallcoo.com
Ambilkan bulan Bu,
Ambilkan bulan Bu
yang slalu bersinar di langit
Di langit bulan benderang
Cahyanya sampai ke bintang

Ambilkan bulan Bu
untuk menerangi,
tidurku yang lelap
Dimalam gelap

Si kecil minta dinyanyikan lagu ambilkan bulan yang dulu dinyanyikan oleh penyanyi cilik Tasya (sekarang Tasya sudah menjadi bintang remaja). Setelah berulang-ulang menyanyikan lagu ambilkan bulan, si kecil minta ganti menyanyi lagu Bulan yang lain. Di ingat-ingat lagi ada lagunya Bulan oh Bulan yang dulu dinyanyikan oleh Belinda.
Sambil agak terbata-bata, karena tidak hafal, akhirnya kami bernyanyi lagu Bulan oh Bulan, sambil jari-jari tangan mulai searching google untuk mencari lanjutan syair lagu yang dulu sering disenandungkan Belinda tersebut. Waduh, jadi sadar kalau lagu anak memang langka saat ini. Bahkan di tayangan televisi pun tidak lagi banyak lagu anak-anak yang diperdengarlihatkan.
Ya, terasa sekali memang. Jika pada masa kecil dahulu, televisi masih baru satu buah, hanya TVRI, tapi kebutuhan anak masih bisa dipenuhi dengan tayangan anak-anak yang masih sangat natural dan tidak hedonis. Tayangan Si Unyil adalah tayangan yang saya ingat, yang biasanya ditonton pada hari minggu siang. Yupps.... Minggu Siang, acaranya memang untuk anak-anak, dengan menampilkan bintang anak-anak seperti Chica Koeswoyo (dengan lagunya Helly Guk Guk), dan lain-lainnya (#sudah lupa).
Tasya (source: google gambar)
Joshua (source: Google Gambar)
Setelah periode itu, masih banyak muncul penyanyi kecil seperti Tasya, Joshua Suherman, Giovanni, Chikita Meidy, Puput Melati, Dea Ananda, Trio Kwek-kwek, Agnes Monica, dan lain-lain #yang saya tidak ingat lagi :). Kini mereka sudah remaja dan dewasa. Sayangnya, setelah era tersebut, sepertinya tidak ada lagi penyanyi cilik yang bisa mengakomodasi kebutuhan anak-anak terhadap musik yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Memang sih, banyak artis cilik yang muncul di Televisi, tapi kehadiran mereka tidak lagi natural, karena mereka dihadirkan dalam sinetron atau acara yang mendukung acara orang dewasa. Sehingga dunia kanak-kanaknya tidak menonjol atau tidak 'berasa'. Bahkan film kartun yang sejatinya ditujukan untuk anak-anak pun, cerita dan karakter tokohnya sutdah tidak lagi mencerminkan dunia kanak-kanak.
Hingga akhirnya, saat ini, anak kecil pun ikut menyenandungkan lagu-lagu remaja yang notabene banyak kisah mimpi-mimpi remajanya, ketimbang ke'akar'annya pada bumi.
Hingga akhirnya, orangtua, terutama ibu, makin dituntut untuk lebih kreatif, agar anak-anak tetap bisa menjalankan tugas perkembangan masa kanak-kanaknya dengan baik. Dan, lagu Pelangi-pelangi, Bintang Kecil, Balonku, Cicak-cicak di Dinding, serta lagu kanak-kanak lain harus diupayakan dipopulerkan sendiri dari rumah.
Terlebih, di lingkungan sekolah pun, anak-anak tidak lagi banyak dikenalkan dengan lagu-lagu anak. Tuntutan pencapaian perangkat akademis lebih banyak ditonjolkan dibandingkan dengan perangkat perilaku, karakter, dan kepribadian anak. Kini, anak TK pun sudah harus bergulat dengan hal-hal yang berbau calistung (membaca, menulis, berhitung), ketimbang dengan keceriaan masa kanak-kanaknya.

August 10, 2012

Minat Baca Masyarakat Indonesia Rendah, Mengapa?

Berdasarkan hasil survei UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menunjukkan bahwa minat baca masyarakat yang paling rendah di ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) adalah negara Indonesia (“Minat Baca Masyarakat Indonesia Paling Rendah di ASEAN”, Warta Online, 26 Januari 2011). Rendahnya minat baca ini dibuktikan dengan indeks membaca masyarakat Indonesia yang baru sekitar 0,001, artinya dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi. Angka ini masih sangat jauh dibandingkan dengan angka minat baca di Singapura yang memiliki indeks membaca sampai 0,45 (“Galakkan Baca Buku untuk Kemajuan Bangsa”, Media Indonesia, 17 Mei 2010).
Lebih lanjut, Media Indonesia menyebutkan bahwa menurunnya minat baca masyarakat Indonesia tidak terlepas dari kurangnya kesadaran publik akan arti penting membaca bagi peningkatan kemampuan dan kesejahteraan diri maupun bangsa. Selain itu, maraknya media elektronik (televisi dan internet) yang kebanyakan berisi tayangan hiburan, pornografi, iklan komersial, dan hal-hal hedonistis lainnya menjauhkan masyarakat dari budaya membaca. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia adalah kondisi ekonomi masyarakat Indonesia. Kondisi ekonomi menyebabkan akses masyarakat terhadap buku-buku bermutu semakin sulit, karena untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok sehari-hari sudah kesulitan, apalagi membeli koran, buku, atau bacaan lainnya. Komitmen pemerintah menyediakan buku dan bahan bacaan yang berkualitas dan murah, perpustakaan umum, juga masih rendah.
Rendahnya minat baca ini akan mempengaruhi kualitas bangsa Indonesia, karena masyarakat Indonesia tidak bisa mengetahui dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di dunia, di mana pada ahirnya akan berdampak pada ketertinggalan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, agar bangsa Indonesia dapat mengejar kemajuan yang telah dicapai oleh negara-negara tetangga, perlu menumbuhkan minat baca sejak dini sebagai salah satu upaya penanaman rasa senang membaca pada diri individu. 

Mengenalkan anak pada buku dan membacakan merupakan salah satu bentuk upaya penumbuhan minat baca pada anak sejak dini
Penumbuhan minat baca sejak dini ini dilakukan sejak masyarakat Indonesia mulai dapat membaca. Penumbuhan minat baca sejak dini, diharapkan bisa meningkatkan budaya membaca masyarakat Indonesia.
Anak bisa dikenalkan membaca buku, baik yang cetak maupun elektronik

July 20, 2012

Tempat Praktis Beli Mobil Baru untuk Anak SMA

(doc. pribadi, pic by CocoNotes)
Surabaya, CocoNotes - Anak SMA memiliki segudang cerita yang tidak habis-habisnya. Mulai dari kisah cinta anak SMA, kisah kasihnya di sekolah, kisah anak SMA yang suka tawuran, anak SMA yang suka trek-trekkan dan juga anak SMA dengan segudang prestasinya. Masa SMA memang masa yang kompleks. Masa di mana saat anak mulai belajar menjadi dewasa, tapi secara emosional masih belum stabil. Emosi yang kadang masih meledak-ledak, sehingga perlu diarahkan dengan bijak oleh orangtua dan guru, serta pihak yang terkait.
Anak SMA membawa kendaraan bermotor sebenarnya belum diijinkan secara hukum, namun kebutuhan mereka untuk bergerak secara dinamis menyebabkan mereka harus menggunakan kendaraan bermotor tersebut. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Komite Sekolah di salah satu SMK N di Surabaya yang diikuti oleh penulis pada saat sosialisasi wali murid dan siswa baru, bahwa kendaraan bermotor, terutama sepeda motor merupakan sarana yang fleksibel bagi para siswa untuk berangkat dan pulang ke sekolah. Hal ini karena ketika mereka harus naik angkutan kota maka besarnya biaya yang harus dikeluarkan akan lebih besar jika dibandingkan dengan ketika naik kendaraan sendiri. Terutama bagi siswa yang rumahnya jauh dari sekolah.
Hal ini juga terkait dengan waktu. Jika para siswa tersebut harus naik angkutan kota, maka untuk pulang dan pergi saja minimal sudah dua kali naik angkutan kota. Belum lagi waktu ngetem dan waktu di dalam mobil angkutan kota yang harus sekali-sekali berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Apalagi bagi yang harus naik angkutan dua sampai tiga kali hanya untuk berangkat, karena tidak ada jalur langsung yang lewat di rumah dan sekolah. Akhirnya, sekolah pun secara bijak memberi kelonggaran kepada para siswa untuk mengendarai kendaraan bermotor sendiri, meskipun secara hukum mereka belum mendapat ijin. Dalam hal ini, syarat yang harus dipenuhi adalah bahwa para siswa tersebut harus melengkapi kendaraannya dengan STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) dan kondisi kendaraan harus normal (tidak ada modifikasi yang aneh-aneh).
Pada saat awal masuk kelas satu SMA/SMK, anak-anak memang biasanya masih bersedia menggunakan sepeda motor, atau jika menggunakan mobil mereka masih bersedia diantar dan dijemput. Namun pada bulan-bulan berikutnya, sebagaimana karakter anak SMA yang ingin dianggap sebagai anak dewasa, bukan anak mama, maka anak-anak ini akan mulai minta kendaraan yang dianggapnya akan membawa mereka pada posisi sebagai remaja dewasa. Anak-anak yang mulanya bersedia diantar jemput, akan mulai ingin terlihat mandiri dengan membawa kendaraan sendiri, baik sepeda motor maupun mobil.
Bagi orangtua sendiri, saat memilihkan kendaraan bermotor, maka orangtua harus memilihkannya pada kendaraan bermotor keluaran ternaru, karena kendaraan bermotor keluaran lama tidak cocok dengan semangat dan emosi anak muda. Orangtua harus piawai dalam memilih kendaraan bermotor untuk anak-anaknya.
Dalam hal memilih mobil, orang tua harus tanggap dan hati-hati saat memilih mobil baru ataupun bekas. Jika ingin beli mobil baru, maka orangtua tidak boleh hanya mempertimbangkan harga yang terjangkau, dan anak juga tidak boleh hanya mempertimbangkan desain mobil. Banyak hal yang harus dipertimbangkan saat memilih mobil baru maupun mobil bekas, selain harga yang terjangkau dan desain yang bagus, pertimbangan lainnya adalah bahwa mobil tersebut harus efisien dari segi bahan bakar, aman untuk dikendarai para anak SMA yang masih pemula, serta mobil tersebut juga harus tangguh. Mobil yang dipilih boleh saja jenis sedan, SUV (sport utility vehicle), maupun MPV. Yang penting adalah bahwa mobil tersebut harus memiliki kinerja yang baik, tidak rentan kecelakaan seperti terguling, dan mampu menyerap benturan saat kecelakaan.
Agar leluasa memilih mobil baru yang tepat dan sesuai dengan keinginan baik anak maupun orangtua, serta memenuhi kriteria keamanan, maka orangtua dan anak bisa bersama-sama memilih dan membeli mobil baru melalui Carmall.com. Toko online ini merupakan tempat cari mobil baru praktis yang menyediakan ragam harga mobil baru, sehingga orangtua bisa leluasa memilih dan memilah mobil baru yang sesuai dengan keinginan mereka. Orangtua bisa merasa nyaman mendapatkan mobil dengan harga terjangkau dan irit, serta aman, sedangkan anak bisa memilih mbil yang memiliki desain sesuai selera. Mengunjungi situs Carmall.com memang merupakan salah satu cara praktis beli mobil baru.
So, para orangtua, jangan sembarangan memilih tempat beli mobil baru, yuuuuk, kita cari mobil baru yang praktis dan nyaman di Carmall.com.

July 19, 2012

Anak SMA dalam Google Search Engine: One of My Reasons for this Blog

(doc. pribadi, pic by Ahmad)
Surabaya, CocoNotes - Prihatin dengan keberadaan keywords Anak SMA atau Cerita Anak SMA atau Kisah Anak SMA atau SMA mendorong saya untuk membuka blog baru dengan bahasa Indonesia. Selama ini saya senang ngeblog dengan menggunakan bahasa Inggris, karena bahasa tersebut lebih banyak dikuasai oleh masyarakat di dunia. Dengan menggunakan bahasa Inggris maka blog akan bisa dibaca dari orang yang tinggal di wilayah mana saja. Dan ini akan memudahkan kita untuk saling share informasi.
Oleh karena itu, ketika saya mendengar dan melihat isu keyword tersebut maka saya juga tergerak untuk membuka blog baru dengan bahasa Indonesia.
Saya menggunakan Channel Coco dari kata cocoa yang artinya cokelat, atau bisa juga coconut yang artinya kelapa.
Cocoa atau kakao merupakan tanaman yang bisa menghasilkan buah yang bisa membantu kita relaks dan juga simbol persahabatan.
Sedang coconut artinya adalah kelapa yang memiliki manfaat beragam buat manusia.
Nah, di awal tulisan mungkin akan banyak menuliskan kata Anak SMA dan teman-temannya, tapi untuk selanjutnya, blog ini akan menjadi wahana bagi waya untuk berbagi dalam bahasa Indonesia.
Yang pasti, Ngeblog itu menyenangkan.....

July 18, 2012

Tantangan Pendidik Saat Anak Memasuki Masa SMA

(doc. pribadi, pic by Ahmad)
Surabaya, CocoNotes - Memasuki masa SMA adalah hal yang membuat anak merasa telah dewasa. Jika masa SMP yang lazim disebut sebut anak biru putih, dan dianggap sebagai anak yang belum dewasa, maka ketika anak memasuki masa SMA, anak mulai ingin dianggap sebagai anak dewasa dan diperlakukan sebagai orang dewasa. Adanya keinginan ini menjadikan orangtua dan guru, sebagai pendidik, harus mampu memenuhi kebutuhan si anak. 
Memenuhi kebutuhan di sini bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memenuhi kebutuhan anak untuk menjalankan tugas perkembangan anak yang telah memasuki rentang kehidupan remaja madya. Sebagaimana diketahui bersama, sebagai individu yang tumbuh dan berkembang dalam rentang kehidupan remaja madya, maka dalam diri anak SMA akan tumbuh kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya, teman yang dapat turut merasakan suka dan dukanya. Oleh karena itu, pada masa ini pula anak mulai berminat untuk berpacaran dan melakukan eksplorasi identitas yang seringkali lebih nyata dibandingkan ketika masih di level SMP (masa remaja awal). 
Selain itu, pada masa ini, anak SMA juga mencari sesuatu yang dapat dipandang bernilai, pantas dijunjung tinggi dan dipuja-puja. Secara remang-remang, anak SMA akan mulai menunjukkan adanya minat pada karir. 
Adanya tugas perkembangan anak SMA tersebut membuat orangtua yang memiliki anak seusia tersebut harus memahami bagaimana mengakomodir tugas perkembangan tersebut agar bisa dijalankan dengan baik oleh si anak. Sementara itu, guru, sebagai sosok pendidik di sekolah juga harus memahami tugas perkembangan tersebut. Guru dalam hal ini tidak hanya menyampaikan materi akademis, tapi juga harus mampu merasionalisasi materi yang disampaikan dengan fakta di lapangan. 
Rasionalisasi materi akademis dengan fakta di lapangan ini diperlukan, karena pada masa ini, dalam diri anak SMA mengalami perubahan-perubahan yang berlangsung secara terus menerus dan ditandai oleh adanya perubahan dalam aspek biologis, emosional, kognitif, psikologis, sosial, serta moral dan spiritual (Geldard & Geldard, dikutip oleh Zahra, dalam jurnalnya yang berjudul Lingkungan Keluarga dan Peluang Munculnya Masalah Remaja, Jurnal Provitae, 2, 2005, pp. 11-22). 
  1. Perubahan biologis meliputi perubahan fisiologis, perubahan hormon, dan perilaku seksual. 
  2. Perubahan emosional yang merupakan akibat adanya perubahan biologis dan perubahan hormone seksual. 
  3. Perubahan kognitif meliputi peningkatan kemampuan berpikir abstrak, kecenderungan egosentris untuk menjadi pusat perhatian, dan adanya peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. 
  4. Perubahan psikologis meliputi pembentukan identitas baru, perubahan fungsi identitas diri, awal proses individuasi, pemahaman pengalaman baru dalam hidup, penghayatan etnis, dan upaya penyesuaian diri. 
  5. Perubahan sosial mencakup upaya pemenuhan peran sosial, pemenuhan harapan orang tua dan teman sebaya, serta usaha menjalani peran remaja sesuai dengan lingkungannya. 
  6. Perubahan moral dan spiritual yang biasanya muncul dorongan untuk mulai berafiliasi dengan kepercayaan tertentu. 
Perubahan pada keenam aspek tersebut ada dalam diri anak SMA dan saling mendukung dalam pengembangan potensi anak. Perubahan-perubahan tersebut harus diakomodasi oleh pendidik, baik pendidik di rumah, yaitu orangtua, dan pendidik di sekolah, yaitu guru. Keseimbangan dalam memfasilitasi perubahan enam aspek tersebut akan membantu anak SMA untuk melalui seluruh tugas perkembangannya tersebut, sehingga anak SMA akan tumbuh dan berkembang secara optimal dan akhirnya tumbuh sebagai sosok yang dewasa, tangguh, berprestasi, berkarakter, dan bertanggung jawab. Penyeimbangan perubahan ini memerlukan strategi yang tepat yang harus dipahami oleh orangtua dan guru, di mana kedua pihak harus saling mendukung dan bekerjasama agar proses penyeimbangan di lingkungan rumah dan sekolah berjalan beriringan. Seiring dan selarasnya jalan kedua pihak ini diperlukan agar anak-anak tidak melihat adanya gap yang terlalu jauh di antara keduanya. 

CocoGress