November 10, 2012

Profesi Guru, antara Pengabdian dan Perut

Sumber gambar: maranausd.org
Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa?
Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu karena siapa?
Kita jadi bisa dibimbing bu guru
Kita jadi tahu dibimbing pak guru
Guru bak pelita penerang dalam gulita,
Jasamu tiada tara....

Sungguh jasa guru tidak bisa dibilang dengan materi, tidak bisa diungkap dengan indahnya untaian mutiara kata, karena memang jasanya tiada tara. Jasa yang hadir karena pengabdian yang tulus dengan kemurnian dan keikhlasan profesi. Guru bukan sekedar pekerjaan, tetapi profesi. Menurut Doni Koesoema (2007, Pendidikan Karakter, Jakarta: PT Gramedia Widyasarana Indonesia, p:166), dijelaskan bahwa profesi merupakan “pekerjaan, dapat juga berwujud sebagai jabatan di dalam suatu hierarki birokrasi, yang menuntut keahlian tertentu serta memiliki etika khusus untuk jabatan tersebut serta pelayanan baku terhadap masyarakat.” Jacobus Tarigan (2007, Religiusitas, Agama dan Gereja Katolik, Jakarta: PT Gramedia Widyasarana Indonesia, p:117) menjelaskan bahwa, profesi merupakan tugas yang diberikan dan diterima dalam rangka hidup di tengah masyarakat majemuk. Profesi menuntut pendidikan dan keterampilan yang amat tinggi serta spesialisasi yang tajam. Dituntut tanggung jawab dan komitmen. Profesi mengabdi masyarakat yang luas. Kadangkala harus diawali semacam sumpah jabatan.
Di dalam definisi profesi tersebut ada dua hal penting bagi penyandangnya, yaitu Etika dan Pengabdian.
Saya jadi ingat guru SMA saya sekaligus wali kelas semasa kelas III, Bapak Muhammad Fatih, yang selalu hadir di sekolah in time, bukan on time, dan kemudian menyatakan kepada kami para murid yang kadang masih ada yang terlambat:
"Rumah saya yang di Sidayu saja bisa datang sepagi ini, saya harus bersepeda dan melintasi jalan yang lebih jauh daripada kalian."
"Ya, Bapak, itu kan bentuk pengabdian Bapak sebagai guru,"
Dan kemudian beliau menjawab,
"Pengabdian itu di sini (#sambil memegang dada), bukan di sini (#sambil memegang perut),"
Dan, kami sekelas masih hanya tersenyum saja tanpa membahasnya lebih jauh. Saat ini saya teringat lagi dengan ungkapan beliau yang sedemikian disiplin dan tegas terhadap kami, karena kebetulan beliau adalah guru Matematika, yang mengajarkan ketepatan, kecepatan, dan kreativitas kami untuk selalu berproses. Kami sekelas sangat segan dengan beliau, tetapi kami masih bisa bercanda dan saling menyapa dengan beliau. Saat wisata akhir tahun ajaran dan saat perpisahan pun, kami bisa sedemikian akrab dan tidak ada jarak. Kemampuan beliau untuk menjadi GURU dan Orangtua, serta teman sungguh membekas. Dan yang jelas, keteladanannya yang patut dicontoh oleh para guru masa kini. Tidak ada alasan bagi beliau terkait jarak rumah yang jauh dengan kedisiplinan menjadikan kami harus malu jika harus datang terlambat.
Pada masa itu, pengabdian GURU sangat menonjol jika dibandingkan dengan pemenuhan kebutuhan materi. Saat itu, meskipun sekolah kami adalah satu-satunya sekolah menengah atas negeri di Kota Kecamatan, tetapi para guru tinggal di tempat kos yang disediakan oleh warga, sama dengan para siswa-siswinya. Beliau tidak tinggal di rumah dinas yang biasanya disediakan untuk para guru, karena memang di wilayah situ pada masa itu belum ada rumah dinas untuk guru.Bahkan bagi yang telah menikah sekalipun. Yupps, jika diingat kembali, benar-benar beliau-beliau adalah para guru yang ikhlas dalam pengabdiannya untuk menjalankan profesi sebagai guru, sehingga tugas guru dilakukan secara profesional, dengan tujuan mulia, mendidik dan mengajar para siswa dan siswinya agar mereka menjadi putra-putri bangsa yang siap maju membangun bangsa yang beradab, berbudaya, dan berakhlak mulia.
Teringat juga dengan Ibu Hartini, wali kelas SMA saya saat masih kelas satu. Beliau 'mbelani' saya saat saya 'ngadat' tidak mau melanjutkan sekolah. Padahal kenal pun tidak, saudara tidak, tetapi saya sangat merasakan bagaimana upaya beliau dengan kasih sayang, yang menyadarkan saya untuk tetap kembali melanjutkan sekolah, dan memberi kesempatan kepada saya untuk mengikuti ujian akhir untuk kenaikan kelas. Kesempatan ujian yang harus saya jalani sendirian di ruang kantor, karena saya telah tertinggal oleh teman-teman lain yang sudah melaksanakan ujian terlebih dahulu.
Di sini, para guru tersebut tidak semata memberikan pelajaran membaca dan menulis, tetapi memberikan pelajaran hidup untuk selalu bersemangat dan berusaha untuk mencapai cita-cita, serta belajar mengambil solusi yang baik saat menghadapi tantangan hidup. Semua dilakukan tanpa pamrih, bukan hanya mengajar, tetapi mendidik dan membimbing kami semua, anak-anak desa untuk bergerak ke arah yang lebih baik. Dan terbukti, saat reuni di bulan Agustus 2012, setelah 20 tahun kelulusan kami di tahun 1992, teman-teman satu kelas kami telah 'berubah'. Mereka bukan lagi anak-anak desa dengan pakaian seragam lusuh, tas sekolah kumal, muka kusam, berpeluh, dan berjerawat. Banyak di antara mereka yang menjadi guru, kepala sekolah, dosen, tentara, pengusaha, humas (hubungan masyarakat) di sebuah perguruan tinggi, politisi, polisi, dokter, bidan, nelayan, petani, wartawan, pengelola LSM (lembaga Swadaya Masyarakat), pegawai bank, dan ragam profesi lain yang ditekuni teman-teman. Subhanallah.....
Mereka juga bukan lagi anak-anak SMA yang harus berjalan kaki atau mengayuh sepeda pancal (ontel) berkilo-kilo meter jauhnya setiap pagi dan siang, atau harus berdesak-desakan di angkutan desa dengan para pedagang ikan dan pedagang sayur. Mereka telah menjadi pribadi-pribadi dewasa dengan pasangan dan buah hati masing-masing.... dan mobil pribadi, atau setidaknya sepeda motor.
Sungguh, saat itu, saya bisa merasakan bahwa kebutuhan untuk mengabdi melebihi pemenuhan kebutuhan 'perut' adalah wujud profesional guru kami pada masa itu. Bahkan, kondisi para guru pada masa itu sempat digambarkan oleh Iwan Fals melalui lagunya Umar Bakri.
Sekarang pertanyaannga adalah, ketika kesejahteraan guru telah diupayakan untuk dipenuhi secara ideal oleh pemerintah, masih patutkah kiranya jika ada guru masih terus menuntut kesejahteraannya dan mengabaikan profesionalitasnya dalam menjalankan profesi sebagai seorang guru? Karena ternyata, profesi guru itu, tidak hanya mengajar menulis dan membaca, tetapi mendidik, mengarahkan, membimbing anak didiknya agar menjadi pribadi yang dewasa, beradab, berbudaya, handal, dan berakhlak mulia. Sebagaimana yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa guru itu seharusnyalah:
Ing Ngarso Asung Tulodho
Ing Madyo Mbangun Karso
Tut Wuri Handayani
.

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates