Beli Roti atau Beli Apartemen Bos? Rame Banget

Surabaya, CocoNotes - Padatnya pengunjung event pemilihan unit Westown View yang diselenggarakan di Grand City Ballroom Level 4 dan Diamond...

Rental Surabaya
Showing posts with label Guru. Show all posts
Showing posts with label Guru. Show all posts

October 15, 2014

Menjadi Guru itu Bukan Pilihan, Tetapi Takdir yang Indah

Penampilan pak Bagoes 
Surabaya, CocoNotes - Guru adalah profesi dan pribadi. Guru bukan sekedar pekerjaan, tetapi profesi yang di dalamnya terkandung profesionalisme dan pengabdian. Guru adalah juga profesi mulia yang mengantarkan pelakunya menuju syurga.

Betapa tidak, melalui profesi yang dijalaninya, guru mewariskan ilmu yang akan terus turun temurun memberikan kemanfaatan bagi ummat. Pahala yang didapat pun berlipat dan mengalir terus menerus. Seperti sungai yang mengalirkan air dari mata air tanpa pernah berhenti. Sepanjang ada jalur sungai yang terlewati.

Di saat, satu kali arus aliran air telah sampai di muara, maka air dari mata air yang mengikuti arus air akan terus mengisi aliran itu. Dan, dari aliran itu kehidupan pun bergulir. Rerumputan menghijau riang, dan bunga-bunga di tepian maupun di tengah sungai merekah indah aneka warna.

Dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh PT Karunia Mandiri Consultant pada tanggal 11 Oktober 2014 menunjukkan bagaimana antusiasme para pendidik untuk mengikuti seminar tersebut. Yang artinya, para guru tersebut memiliki upaya untuk memperkaya diri dengan selalu belajar, meskipun posisi mereka sebenarnya adalah pengajar.

Menyikapi beberapa sikap guru yang menyatakan stres dalam menghadapi perilaku siswa yang kurang menyenangkan dan kurang mengenakkan, dalam seminar yang didukung penuh oleh Rental Surabaya dan Servis Surabaya tersebut, salah satu narasumber, Bagoes Sanyoto, menyatakan bahwa "Menjadi Guru Memang bukan Pilihan, Tetapi Takdir yang Indah". Sebuah motivasi betapa indahnya menjadi guru. Profesi yang sejak dulu dipuji puja sebagai profesi mulia. Profesi yang memerlukan keikhlasan demi profesionalitasnya sang profesi.

Akhirnya, tetap ada masukan bagi para guru dan manajemen sekolah dari peserta Seminar yang diselenggarakan di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur tersebut, bahwa kepribadian guru dan manajemen sekolah harus saling berkorelasi, agar penyampaian materi ajar dapat dilangsungkan dengan sebaik-baiknya, sekreatif-kreatifnya, dan semenarik mungkin. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi suasana yang menyenangkan.


Para Guru yang Enjoy Mengikuti Seminar yang Menyenangkan

Selain, Bagoes Sanyoto, seminar tersebut  juga menghadirkan narasumber Eddy Roesdiono, Solihin Agyl, dan ada juga Sarah Ballard, seorang relawan Peace Corporation dari Amerika Serikat yang mengajar di Madrasah Tsanawiyah Negeri di Wonorejo, Pasuruan.

Penampilan Pak Eddy dalam Interactive Games bersama Peserta
Pak Bagoes, Pak Eddy, dan Miss Sarah Ballard bersama Direktur PT Karunia Mandiri Consultant dan Peserta Seminar
(Pic. Taken by Admin, 11 Okt 20.14 @Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur)

July 15, 2014

Mendidik dengan Hati, Cerdaskan Anak Negeri

Surabaya, CocoNotes - Pendidikan adalah gerbang peradaban. Dengan pendidikan, manusia diantarkan pada kemajuan peradaban, baik pendidikan formal, nonformal, maupun informal.

Dewasa ini, seiring dengan bergulirnya era globalisasi, pendidikan bukan lagi hanya merupakan proses transfer ilmu pengetahuan secara kognitif, tetapi juga merupakan proses pembentukan afeksi, mental, dan perilaku dari pendidik kepada peserta didik. Dengan demikian, output yang dihasilkan bukan semata kualitas manusia yang cerdas secara intelektual akademis, namun cerdas secara holistik (intelektual, sosial, emosional, dan spiritual).

Di sisi lain, pendidikan juga dihadapkan pada masalah kesenjangan pendidikan akibat kesenjangan perekonomian. Di satu sisi, ada peserta didik yang masih kesulitan perekonomian, sehingga tidak mampu mengenyam pendidikan formal dengan lebih baik. Di sisi lain, pendidik dihadapkan pada peserta didik yang berkecukupan, namun semangat dan motivasi menuntut ilmunya rendah.

Menghadapi fenomena tersebut, pendidik dituntut untuk bijaksana dalam menjalani profesi sebagai pendidik, agar output pendidikan yang diselenggarakan di lembaga pendidikan dapat mencapai target yang diharapkan, yaitu membentuk insan yang utuh jasmani dan rohani. Artinya peserta didik yang dihasilkan merupakan individu yang sakti, tangguh, dan mumpuni. Cerdas akal, mental, dan spiritual; berkarakter, beradab, berbudaya, dan humanis.

Pendidik, Mendidik, dan Panggilan Hati

Pendidikan dan pendidik adalah dua komponen yang tidak terpisahkan. Pendidikan akan berlangsung di manapun dan kapan pun, sepanjang ada pendidik atau guru. Penyibak gelapnya kebodohan, pelapang sempitnya pemikiran. Isna (Perempuan, 29 tahun), adalah salah satu sosok pendidik yang memiliki panggilan hati untuk mendidik siapapun, di manapun, dan kapan pun. Sejak masih menjadi mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya, Isna telah banyak berkecimpung dengan pendidikan anak-anak jalanan; dan mengajar orang-orang tua yang belum bisa mengaji. Sampai kemudian menikah, Isna pun mengajar anak-anak usia Taman Kanak-kanak di pelosok desa di Lampung tempat suaminya ditugaskan; hingga akhirnya membuka lebar pintu rumahnya bagi anak-anak tetangga di desa yang di pelosok Bengkulu untuk belajar dan mengaji tanpa mengharap imbalan materiil alias gratis.

Berbagi: Menyenangkan dan Memberi Manfaat
Karena Mereka Juga Memiliki Hak Untuk Mengenyam Pendidikan yang Baik (Pic. Doc. Pribadi)
Sejak awal, orientasi yang dibangun dalam diri Isna adalah berbagi ilmu dan amal. Menyenangkan dan memberi manfaat kepada orang lain. Itulah mengapa, pada saat masih menjadi mahasiswi, dia mengambil bagian dengan menyampaikan ilmu dan berbagi pada anak jalanan di rumah singgah di kawasan Kejawan-Keputih. Untuk memotivasi anak-anak jalanan tersebut, Isna menyisihkan uang saku bulanannya untuk membuat makanan kecil yang dibagikan kepada anak-anak jalanan saat mereka belajar di rumah singgah.
Tidak Seharusnya Mereka Melalui Masa Kanak-kanaknya di Jalanan (Pengemis dan Dua Anaknya, Pic. Doc. Pribadi)
Meskipun, sebagai anak kos, Isna sendiri sebenarnya memiliki kebutuhan yang harus dipenuhinya. Namun, dia selalu menyisihkan uang sakunya untuk membuat tersenyum anak-anak jalanan tersebut. Tidak heran, pada masa itu, saat Penulis turut naik angkutan umum dengan Isna dan turun di kawasan Kejawan-Keputih, banyak anak-anak jalanan, yang berprofesi sebagai penjual koran atau pengamen menyapa Isna dengan akrab.

Isna tidak hanya berbagi dengan anak-anak. Selain mengajari anak-anak jalanan di rumah singgah, Isna juga tidak keberatan jika diminta oleh ibu-ibu untuk belajar mengaji. Dengan tanpa menentukan besaran tarif dan bahkan tanpa mengharap imbalan, Isna mengajari ibu-ibu akan baca dan tulis huruf Al Quran. Berbagi dengan hati, tanpa menghiraukan waktu, tenaga, dan pikiran yang harus dicurahkan itulah yang dilakukan oleh Isna.

Mendidik dengan Hati, Menyibak Kegelapan Hingga Pelosok Negeri

Jiwa Isna memang jiwa pendidik dan berbagi. Keputusan yang diambilnya untuk menikah sebelum dia menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi Swasta tidak memupus jiwa pendidiknya. Saat dia harus ikut suami bertugas di pelosok desa di sudut Provinsi Lampung, Isna kembali merintis sekolah Taman Kanak-kanak untuk masyarakat di desa tersebut. Dengan dukungan penuh dari suami.

Menyenangkan dan Bermanfaat: Bermain dan Belajar (Pic. Doc. Pribadi)
Di sini, Isna membuka sekolah Taman Kanak-kanak gratis untuk warga desa di sekitar dia tinggal. Untuk biaya pendirian dan penyelenggaraan pendidikan, dia mendapat dukungan donasi dari Baitul Maal tempat suami bertugas. Gaji guru diambilkan dari besaran donasi yang diterima. Bahkan, Isna pernah mengajukan donasi kepada kakaknya yang tinggal di Surabaya demi kelangsungan sekolah yang dirintisnya di ujung Pulau Sumatera tersebut.

Untuk Isna sendiri, dia tidak mengambil gaji, meskipun di situ dia berperan sebagai Kepala Sekolah. Bagi Isna, hal terpenting adalah bagaimana anak-anak tersebut bisa belajar, bermain, bersosialisasi di lingkungan yang baik. Pendidikan awal yang ditanamkan melalui permainan, lagu, dan dongeng diharapkan mampu mengantar anak-anak untuk cerdas dan berkarakter.

Semua aktivitas pendidikan ditujukan untuk mendidik dan mengarahkan anak-anak agar mengetahui adab dan tatacara serta budaya hidup, baik sebagai individu maupun bagian dari lingkungan. Anak-anak dididik untuk bersahabat dengan sesama, menyenangkan orang tua dan orang-orang di sekitar, serta mencintai lingkungan.

Hingga akhirnya, ada tuntutan dari guru yang mengajar bersamanya, agar dilakukan penerapan Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) bulanan. Hal ini dilakukan sebagai respon atas permintaan wali murid untuk menambahkan pelajaran calistung (membaca, menulis, dan berhitung) bagi anak-anak agar begitu lulus dari Taman Kanak-kanak, anak-anak dapat masuk Sekolah Dasar dengan lebih mudah.

Isna memang tidak memasukkan calistung dalam kurikulumnya. Pengenalan huruf dan angka dilakukan dengan alat peraga dan cerita. Sehingga anak-anak tidak langsung terbebani dengan aktivitas tulis-menulis, baca-membaca, dan hitung-menghitung. Anak-anak tersebut masih dalam rentang usia bermain, sehingga pembelajaran huruf dan angka dilakukan melalui permainan dan cerita.

Menghadapi permintaan rekannya tersebut, Isna menyatakan bahwa menerapkan SPP bukanlah hal bijak untuk masyarakat di desa tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan pokok saja mereka masih kekurangan. Apalagi harus dibebankan dengan biaya sekolah. Belum lagi, jika anak-anak sudah harus diajarkan calistung, tentunya mereka harus membelikan perlengkapan tulis menulis. Pastinya, mereka akan semakin terbebani.

Karena itu, Isna menolak permintaan rekannya. Penolakan ini berujung pada permintaan pengunduran diri dari guru yang mengajar di Taman Kanak-kanak tersebut. Tentu saja hal ini menjadi dilema. Saat itu, Isna sempat menelepon ke Penulis di Surabaya dan menceritakan kegalauannya. Dengan mempertimbangkan kepentingan anak-anak agar tidak terganggu proses belajar mengajarnya, Isna memilih mengundurkan diri dan menyerahkan penyelenggaraan pendidikan kepada rekan-rekannya.

Isna tidak mau tertekan dengan keadaan yang tidak sejalan dengan nuraninya. Baginya, mengajarkan ilmu dan berbagi adalah keniscayaan bagi yang diberi karunia tersebut.

Meskipun telah mengundurkan diri, bukan berarti Isna mengabaikan sekolah yang dirintisnya tersebut. Isna tetap membantu penyelenggaraan pendidikan dengan caranya, yaitu mengupayakan kelancaran donasi dari Baitul Maal untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.

Hingga akhirnya, setelah kelahiran anak keduanya, kembali Isna harus mengikuti suami pindah tempat tinggal, karena suami medapatkan tawaran mengajar di salah satu Perguruan Tinggi di Bengkulu. Di pelosok Kecamatan Merigi, Bengkulu, kembali Isna membuka diri untuk berbagi ilmu dan amal dengan lingkungan sekitar. Dia membuka pintu lebar-lebar untuk mengajar mengaji anak-anak kecil di sekitar tempat tinggalnya secara gratis.
Siapapun, Di Manapun: Setiap Anak Tetap Harus Mendapatkan Haknya untuk Belajar (Pic. Doc. Pribadi)
Setiap pagi, setelah dia menjajakan susu kedelai yang diproduksinya sendiri setiap dini hari dan menjajakan susu kedelainya ke rumah-rumah di kompleks perumahan tempat tinggalnya sampai pukul tujuh, pada pukul sembilanan Isna membuka pintu rumahnya untuk anak-anak yang ingin belajar di tempatnya. Gratis. Isna dengan tekun mengajari anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi di rumahnya sambil mengasuh ketiga buah hatinya.

Tidak hanya itu, di sore hari, selepas sholat Ashar, anak-anak yang sekolah pagi bisa belajar mengaji di rumahnya. Sekali lagi, Isna tidak memasang tarif. Semua disampaikan secara gratis.
Apa yang dilakukan oleh Isna tersebut mengingatkan Penulis pada Kakek Penulis pada tahun 1980-an di salah satu sudut Kabupaten Lamongan, Abdul Hamid almarhum, yang juga menyediakan rumahnya untuk tempat belajar dan mengajar membaca Al Quran untuk anak-anak di kampung secara gratis. Setiap lepas sholat Maghrib, anak-anak akan berduyun-duyun untuk belajar membaca Al Quran, meskipun harus berlampukan cahaya petromax.
Sekelumit kisah sosok Isna di muka mencerminkan, bahwa pendidikan merupakan keniscayaan yang harus disampaikan dengan hati. Beramal dan berbagi ilmu yang dilandaskan dengan niatan tulus dan merupakan panggilan jiwa, tidak akan pernah lekang oleh masa dan usia, tidak akan kabur oleh tempat dan keterbatasan ekonomi. Dengan demikian, akan mengantarkan anak-anak di mana pun untuk menjadi anak-anak yang cerdas dan berkarakter mulia. Anak-anak yang tumbuh secara utuh secara intekektual, mental, dan spiritual dalam ketulusan jiwa pendidiknya.

November 11, 2012

Profesi Guru, antara Pengabdian dan Perut

Sumber gambar: maranausd.org
Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa?
Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu karena siapa?
Kita jadi bisa dibimbing bu guru
Kita jadi tahu dibimbing pak guru
Guru bak pelita penerang dalam gulita,
Jasamu tiada tara....

Sungguh jasa guru tidak bisa dibilang dengan materi, tidak bisa diungkap dengan indahnya untaian mutiara kata, karena memang jasanya tiada tara. Jasa yang hadir karena pengabdian yang tulus dengan kemurnian dan keikhlasan profesi. Guru bukan sekedar pekerjaan, tetapi profesi. Menurut Doni Koesoema (2007, Pendidikan Karakter, Jakarta: PT Gramedia Widyasarana Indonesia, p:166), dijelaskan bahwa profesi merupakan “pekerjaan, dapat juga berwujud sebagai jabatan di dalam suatu hierarki birokrasi, yang menuntut keahlian tertentu serta memiliki etika khusus untuk jabatan tersebut serta pelayanan baku terhadap masyarakat.” Jacobus Tarigan (2007, Religiusitas, Agama dan Gereja Katolik, Jakarta: PT Gramedia Widyasarana Indonesia, p:117) menjelaskan bahwa, profesi merupakan tugas yang diberikan dan diterima dalam rangka hidup di tengah masyarakat majemuk. Profesi menuntut pendidikan dan keterampilan yang amat tinggi serta spesialisasi yang tajam. Dituntut tanggung jawab dan komitmen. Profesi mengabdi masyarakat yang luas. Kadangkala harus diawali semacam sumpah jabatan.
Di dalam definisi profesi tersebut ada dua hal penting bagi penyandangnya, yaitu Etika dan Pengabdian.
Saya jadi ingat guru SMA saya sekaligus wali kelas semasa kelas III, Bapak Muhammad Fatih, yang selalu hadir di sekolah in time, bukan on time, dan kemudian menyatakan kepada kami para murid yang kadang masih ada yang terlambat:
"Rumah saya yang di Sidayu saja bisa datang sepagi ini, saya harus bersepeda dan melintasi jalan yang lebih jauh daripada kalian."
"Ya, Bapak, itu kan bentuk pengabdian Bapak sebagai guru,"
Dan kemudian beliau menjawab,
"Pengabdian itu di sini (#sambil memegang dada), bukan di sini (#sambil memegang perut),"
Dan, kami sekelas masih hanya tersenyum saja tanpa membahasnya lebih jauh. Saat ini saya teringat lagi dengan ungkapan beliau yang sedemikian disiplin dan tegas terhadap kami, karena kebetulan beliau adalah guru Matematika, yang mengajarkan ketepatan, kecepatan, dan kreativitas kami untuk selalu berproses. Kami sekelas sangat segan dengan beliau, tetapi kami masih bisa bercanda dan saling menyapa dengan beliau. Saat wisata akhir tahun ajaran dan saat perpisahan pun, kami bisa sedemikian akrab dan tidak ada jarak. Kemampuan beliau untuk menjadi GURU dan Orangtua, serta teman sungguh membekas. Dan yang jelas, keteladanannya yang patut dicontoh oleh para guru masa kini. Tidak ada alasan bagi beliau terkait jarak rumah yang jauh dengan kedisiplinan menjadikan kami harus malu jika harus datang terlambat.
Pada masa itu, pengabdian GURU sangat menonjol jika dibandingkan dengan pemenuhan kebutuhan materi. Saat itu, meskipun sekolah kami adalah satu-satunya sekolah menengah atas negeri di Kota Kecamatan, tetapi para guru tinggal di tempat kos yang disediakan oleh warga, sama dengan para siswa-siswinya. Beliau tidak tinggal di rumah dinas yang biasanya disediakan untuk para guru, karena memang di wilayah situ pada masa itu belum ada rumah dinas untuk guru.Bahkan bagi yang telah menikah sekalipun. Yupps, jika diingat kembali, benar-benar beliau-beliau adalah para guru yang ikhlas dalam pengabdiannya untuk menjalankan profesi sebagai guru, sehingga tugas guru dilakukan secara profesional, dengan tujuan mulia, mendidik dan mengajar para siswa dan siswinya agar mereka menjadi putra-putri bangsa yang siap maju membangun bangsa yang beradab, berbudaya, dan berakhlak mulia.
Teringat juga dengan Ibu Hartini, wali kelas SMA saya saat masih kelas satu. Beliau 'mbelani' saya saat saya 'ngadat' tidak mau melanjutkan sekolah. Padahal kenal pun tidak, saudara tidak, tetapi saya sangat merasakan bagaimana upaya beliau dengan kasih sayang, yang menyadarkan saya untuk tetap kembali melanjutkan sekolah, dan memberi kesempatan kepada saya untuk mengikuti ujian akhir untuk kenaikan kelas. Kesempatan ujian yang harus saya jalani sendirian di ruang kantor, karena saya telah tertinggal oleh teman-teman lain yang sudah melaksanakan ujian terlebih dahulu.
Di sini, para guru tersebut tidak semata memberikan pelajaran membaca dan menulis, tetapi memberikan pelajaran hidup untuk selalu bersemangat dan berusaha untuk mencapai cita-cita, serta belajar mengambil solusi yang baik saat menghadapi tantangan hidup. Semua dilakukan tanpa pamrih, bukan hanya mengajar, tetapi mendidik dan membimbing kami semua, anak-anak desa untuk bergerak ke arah yang lebih baik. Dan terbukti, saat reuni di bulan Agustus 2012, setelah 20 tahun kelulusan kami di tahun 1992, teman-teman satu kelas kami telah 'berubah'. Mereka bukan lagi anak-anak desa dengan pakaian seragam lusuh, tas sekolah kumal, muka kusam, berpeluh, dan berjerawat. Banyak di antara mereka yang menjadi guru, kepala sekolah, dosen, tentara, pengusaha, humas (hubungan masyarakat) di sebuah perguruan tinggi, politisi, polisi, dokter, bidan, nelayan, petani, wartawan, pengelola LSM (lembaga Swadaya Masyarakat), pegawai bank, dan ragam profesi lain yang ditekuni teman-teman. Subhanallah.....
Mereka juga bukan lagi anak-anak SMA yang harus berjalan kaki atau mengayuh sepeda pancal (ontel) berkilo-kilo meter jauhnya setiap pagi dan siang, atau harus berdesak-desakan di angkutan desa dengan para pedagang ikan dan pedagang sayur. Mereka telah menjadi pribadi-pribadi dewasa dengan pasangan dan buah hati masing-masing.... dan mobil pribadi, atau setidaknya sepeda motor.
Sungguh, saat itu, saya bisa merasakan bahwa kebutuhan untuk mengabdi melebihi pemenuhan kebutuhan 'perut' adalah wujud profesional guru kami pada masa itu. Bahkan, kondisi para guru pada masa itu sempat digambarkan oleh Iwan Fals melalui lagunya Umar Bakri.
Sekarang pertanyaannga adalah, ketika kesejahteraan guru telah diupayakan untuk dipenuhi secara ideal oleh pemerintah, masih patutkah kiranya jika ada guru masih terus menuntut kesejahteraannya dan mengabaikan profesionalitasnya dalam menjalankan profesi sebagai seorang guru? Karena ternyata, profesi guru itu, tidak hanya mengajar menulis dan membaca, tetapi mendidik, mengarahkan, membimbing anak didiknya agar menjadi pribadi yang dewasa, beradab, berbudaya, handal, dan berakhlak mulia. Sebagaimana yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa guru itu seharusnyalah:
Ing Ngarso Asung Tulodho
Ing Madyo Mbangun Karso
Tut Wuri Handayani
.

November 2, 2012

Guru, Representasi Keikhlasan dalam Pengabdian


Taman kanak-kanak (TK) adalah awal pertama kali seorang anak mengenal lingkungan sosialnya setelah lingkungan sosial di keluarga. Pada masa ini, peran guru TK sebagai jembatan untuk membantu anak melangkah ke dunia yang lebih luas. Bermain dan belajar dengan penuh kebebasan dan pembelajaran kedisiplinan dan kebersamaan membantu anak melalui tugas perkembangan masa kanak-kanaknya. Di sini, sosok guru TK harus benar-benar mampu mewakili sosok orangtua, terutama Ibu yang tulus dan totalitas dalam membimbing, mendidik, dan mengajarkan kehidupan bagi anak-anak.

taman kanak-kanak
Sumber: kidsandtoys.edublogs.org
Waktu masih di Taman Kanak-kanak, guru TK saya ada tiga, yang satu namanya Bu Kaslah, orangnya berbadan subur, tetapi lincah dan suaranya tegas. Yang saya ingat dari beliau, saat menyanyikan lagu 'naik delman'. Pada saat sampai di lirik 'Hai, tuk tik tak tik tuk, tik tak tik tuk, tuk tik tak tik tuk, tik tak tik tuk, suara sepatu kuda' maka tangannya yang satu ada di pinggang yang digoyang kiri kanan, dan yang satunya di atas kepala di putar-putar. Pada masa itu, kalau mengajar, para guru menggunakan jarik dan kebaya atau rok panjang (maxi) dengan baju kurung, serta kerudung. Sepatunya? Sandal jepit, atau.....selop. 
Kalau yang satunya Bu Masyitoh. Orangnya tinggi langsing, dan seingat saya berkulit bersih. Yang saya ingat dari beliau adalah saat mengajarkan huruf Hijaiyyah, yang mana ketika menyebut huruf SYIN, di mana demi menegaskan pengucapan huruf tebal tersebut, maka Bu Masyitoh akan menyebutnya dengan SYUIN.
Nah, guru TK yang satu lagi kebetulan adalah kakak saya sendiri. Orangnya bertubuh kecil, tetapi sangat sabar. Yang saya ingat adalah ketelatenannya membacakan cerita, bermain kucing dan tikus, dan bermain batu-batu kecil di kelas. Selain mengajar di sekolah, kakak saya juga mengajar mengaji di rumah (gratis lo, karena mengaji di rumah ini adalah program kakek saya dalam mengajarkan agama Islam kepada warga sekitar, yang dilanjutkan oleh kedua orangtua saya yang juga berprofesi sebagai guru, dan kakak saya).
Pada jenjang pendidikan TK ini, ada tingkatan (kelas) A, B, dan C. Di mana selama tiga tahun menjadi anak TK, tidak pernah membawa buku, tas, pensil, dan ragam alat tulis lainnya saat ke sekolah, karena memang belum diajarkan baca, tulis, dan berhitung. adi, waktu berangkat ke sekolah, ya hanya membawa semangat saja. Mata pelajarannya adalah menyanyi, menari, bermain, bercerita. Ada boneka peraga yang dijalankan dengan tangan, jadi tangan kecil kami atau tangan bu Guru kami dimasukkan ke badan boneka yang terbuat dari kain, tetapi kepalanya dibuat dari bahan semacam gip. Dengan boneka-boneka itu, ragam cerita bisa dihasilkan yang mana kami, para murid TK ini, mendengarkan dengan antusias. 
Ada juga alat peraga musik, seperti gambang, kricikan, rebana, yang kami bisa menyuarakannya dengan gaduh. Ada juga malam (lilin) warna-warni, kertas warna-warni, balok-balok kayu dengan beragam bentuk (segitiga, lingkaran, kotak, lempeng, silinder, dan sebagainya), bongkar pasang, buku-buku cerita bergambar, crayon yang ukurannya besar-besar. Nah, dalam kaitannya dengan buku cerita bergambar, kami tidak diajarkan untuk membaca tulisan, tetapi buku itu akan dibacakan dan kami diperlihatkan dengan gambar-gambar yang ada dalam buku.
Adanya papan tulis dan kapur tulis pun, bukan digunakan untuk mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi untuk menggambar dan sekedar mengenalkan.
Saya juga teringat jika waktunya peringatan hari-hari besar nasional, di mana para guru kami akan sedemikian sibuk menyiapkan kami untuk tampil di panggung, menari, berpuisi, menyanyi, dan berdrama. Tarian yang masih saya ingat hingga saat ini adalah tari piring atau tari lilin. Piring yang dipakai waktu itu berbahan tempurung kelapa yang dihaluskan, sehingga halus sekali. Kami tampil di panggung dengan senangnya. Dan, tahukah Anda, bagaimana kami melakukan latihan? Latihan diiringi lagu yang dinyanyikan oleh para guru kami tersebut. Penggunaan musik hanya dilakukan pada saat latihan menjelang pentas dan saat pentas.
Pentas lain yang masih terngiang dalam ingatan saya adalah saat kami menyanyikan lagu 'Desaku yang Kucinta', di mana satu kelompok di depan menyanyikan lagu itu dengan koor, sementara ada satu teman kami yang menyairkan liriknya. Syahdu dan merdu. Kami, yang masih lucu, polos, lugu, berada di panggung yang ditonton oleh segenap masyarakat di desa kami, bahkan dari desa tetangga kami, dan disambut antusias oleh warga desa kami.
Begitu hebatnya guru-guru TK kami pada saat itu. Cara beliau-beliau mendidik kami sungguh mulia dan penuh ketulusikhlasan. Bagaimana tidak? Kami yang anak desa, yang masih ingusan, yang lubang hidungnya sering mueller, dan mengusapnya sendiri dengan tangan-tangan kami yang kotor, sehingga membuat muka kami tambah kotor... dan guru-guru kami akan membantu kami untuk mengelapkan ingus dan membersihkan muka kami.Dan, juga kadang beliau-beliau itu akan bertandang ke rumah para murid yang tidak masuk.
Bukan hanya itu, sekolah TK kami waktu itu juga gratis, karena sekolah TK kami adalah TK Desa Dharmawanita. Nah lo... lantas, dari mana gaji para guru itu? Guru kami diberi kompensasi oleh desa. Tentu jumlahnya tidak sepadan dengan pengabdiannya, karena tujuan para guru itu mengajar adalah untuk mendidik kami, si anak desa, agar mampu mengenyam pendidikan yang lebih baik. Jadi, penghasilan bukan merupakan motivasi atau tujuan utama para guru kami, karena selain menjadi guru, beliau-beliau adalah petani dan pedagang, yang bertani dan berdagang di saat tidak mengajar.
Meskipun demikian, para guru TK tersebut tidak hanya mengajar anak-anak TK saja. Di sela-sela kesibukan bertani dan berdagangnya, beliau-beliau juga turut berpartisipasi dalam acara di Desa kami, termasuk turut serta melancarkan pelaksanaan program KEJAR PAKET A pada warga Desa yang kebanyakan masih buta huruf.
Satu lagi yang mengharukan adalah, bahwa para guru kami itu harus juga menghadiri pertemuan guru TK di kecamatan setiap satu bulan sekali. Nah, jarak desa kami dengan kota kecamatan sekitar tujuh kilometer (sekarang sih bisa ditempuh seperempat atau setengah jam saja, karena sudah banyak warga desa yang memiliki kendaraan bermotor). Waktu itu, (awal tahun 1980an), para guru kami harus berjalan kaki melintasi jalan yang kiri kanannya adalah sawah ladang penduduk, menuju ke tempat di mana beliau-beliau bisa naik mobil angkutan. Di sini, kadang saya ikut ke kota kecamatan, karena salah satu guru itu adalah kakak saya. Perjalanan yang cukup melelahkan. Belum lagi saat harus ngetem angkutan yang kadang munculnya lama sekali, sehingga kami harus terkantuk-kantuk di tempat kami menunggu kendaraan.
Setiap kali selesai pertemuan guru, selalu ada rencana baru yang ingin diterapkan oleh para guru tersebut untuk memperbaiki pendidikan di jenjang TK kami. Saya bisa tahu itu, karena biasanya kakak saya akan membicarakannya dengan ibu saya (yang juga seorang guru di Madrasah Ibtidaiyah). Di mana untuk merealisasikan rencana ini, para guru kami tidak memutuskan sendiri, tetapi juga melibatkan para wali murid yang dianggap memiliki kapasitas untuk diajak berbicara. (#maklum, kami di desa adalah para petani yang tidak mengenyam bangku sekolah, dan hanya beberapa saja orangtua yang lulus sekolah rakyat).
Demikian besar semangat para guru TK kami waktu itu, sehingga masih membekas dalam diri, hati, dan jiwa kami sampai di titik terkini. Ketulusikhlasan dalam pengabdian tanpa batas dan spesialisasi menjadikan seluruh perilaku dan tindak tanduknya benar-benar layak untuk ditiru.
Yang terakhir adalah kenyataan bahwa beliau-beliau, guru TK kami, bukan sosok guru yang mengenyam pendidikan di tingkat Perguruan Tinggi, Kedua guru TK kami 'hanya' lulusan SMP yang melanjutkan sekolah ke SPG (Sekolah Pendidikan Guru) dan PGA (Pendidikan Guru Agama) sambil mengajar kami. Kakak saya bahkan benar-benar hanya lulusan SMP Swasta di Tuban. Namun, telah berapa banyak anak Desa kami yang bisa mengenali huruf Hijaiyyah, alfabet, dan mampu mendapatkan gelar Sarjananya? Ada yang menjadi Perawat, Bidan, Dokter, Pengusaha, Guru, Dosen, .....

Dan...........
Terima kasihku kuucapkan
Pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan
Untuk bekalku nanti
Setiap hariku dibimbingnya
Agar tumbuh bakatku
Kan kuingat selalu nasehat guruku
Terima kasih kuucapkan

Di saat para guru TK kami menikmati masa tua mereka di desa, para anak desa yang dulunya masih ingusan sekarang telah mengembara ke luar desa kami dengan ragam profesinya. Hingga di suatu saat, dengan gagah ada yang menyempatkan bertandang ke rumah ibu gurunya yang dulu mengusap ingus dan membersihkan mukanya yang kotor dengan  tangan penuh ketulusan dan kasih sayang.... Rumah ibu guru yang masih tetap di tempat yang dulu, dengan dua buah pohon mangga di depan rumahnya.... yang tetap sederhana, tanpa pagar tinggi dan mobil mewah.....

November 1, 2012

Ada apa dengan Guru?

Sebagaimana telah pernah saya tuliskan di sini, bahwa salah satu faktor pendorong saya membuka blog baru ini adalah untuk berpartisipasi dalam mengembalikan citra anak SMA di mata Google. Waktu itu, di facebook tengah ada yang menggalakkan penggunaan kata kunci anak SMA dengan konten blog dan gambar yang santun dan mendidik, karena setiap jika kata kunci 'anak SMA' dimasukkan maka spontan Google akan menampilkan berita dan gambar anak SMA yang tidak selayaknya ditampilkan sebagai anak bangsa yang terdidik. Nah, karena saya tidak memiliki blog yang menggunakan bahasa Indonesia, makanya saya membuka blog ini.
Sayangnya, berita tentang carut marut anak SMA di Indonesia masih belum selesai, mulai dari tawuran pelajar SMA, adanya siswi SMK yang melahirkan di toilet sekolah, pemerkosaan siswa SMA, pencabulan siswi SMP oleh guru SD, kepala sekolah yang melakukan sodomi terhadap siswa, dan berita lain yang tidak mengenakkan untuk dibaca terkait dengan perilaku guru, sungguh membuat saya kembali geleng-geleng kepala. Artinya, tidak salah dong, kalau selama ini Google menampilkan hasil pencarian yang tidak layak dan tidak wajar untuk kata kunci 'anak SMA'. La wong, pagi-pagi saja di widget saya 'Kabar Terpopuler' dari viva.co.id muncul berita yang mengenaskan tentang pendidikan dan guru kita.


Nah, begitu saya klik, berita tersebut, semakin banyak berita terkait tentang perilaku guru yang seharusnya tidak layak dilakukan oleh seorang dan sesosok guru, sebagaimana dalam screenshot berikut:



Nah, lo. Meskipun saya yakin bahwa guru dalam berita itu adalah oknum, tetapi mengapa oknum itu tidak hanya satu? Mengapa oknum itu tidak meleleh dan meresap di telan bumi oleh sistem pendidikan yang mendidik? Bukankah mereka berada di lingkungan pendidikan?
Saya menjadi ingat betapa saya dulu sangat mengidolakan guru SD saya yang cuantikk, baik, ramah, pinter, dan baik hati dengan senyum manis dan lesung pipinya. Dan.... betapa bangganya saya ketika SMA, saat saya disepadankan dengan guru baru yang mengajar PMP (Pendidikan Moral Pancasila, sekarang PPKN), yang manis, ramah, dan murah senyum, dengan ragam kisah menarik saat masih kuliahnya. Atau.... senangnya saya pada waktu SMP, saya mendapat kepercayaan dari guru Bahasa Inggris untuk membantu menuliskan TIK dan TIU, sehingga setiap pulang sekolah tanpa kenal lelah saya berusaha menyelesaikan pekerjaan saya untuk menulis lembar demi lembar (3waktu itu menulisnya masih menggunakan tulisan tangan).
Saya juga teringat dengan peristilahan GURU, diGUGU dan diTIRU, sehingga saat itu, apa pun yang dikatakan dan diperintah oleh guru adalah petuah, pedoman, yang bahkan, apa yang pernah diajarkan dan gaya mengajar para guruku waktu itu masih teringatkan di memori saya.
Yupps... peristilahan seperti itu pada masa dulu memang keramat. Saat itu, guru sangat dihormati dituakan.Guru yang selalu mengajar dengan cinta dan kasih sayang, karena guru adalah pengganti orangtua bagi para siswa untuk mendidik siswa dengan cinta dan kasih sayang, agar siswa menjadi generasi tangguh, berkarakter, beradab, dan berbudaya, serta berakhlaq mulia. Sungguh mulia kedudukan sorang guru bukan?
Dan, di era yang makin global dan dinamis ini, cinta dan kasih sayang guru semakin diperlukan, karena makin banyak orangtua yang 'menyerahkan' pendidikan anak-anaknya ke sekolah, sementara orangtua makin sibuk bekerja, sehingga ketika ada oknum guru yang berperilaku tidak layak, dan tidak beradab, serta tidak berbudaya..... Dan, jika media telah memberitakan Guru dalam berita yang tidak seharusnya, maka peertanyaannya adalah 'Ada apa dengan Guru kita? Masih adakah cinta guru untuk bangsa dan anak bangsa ini dari seorang guru? Atau, sudah tergadaikankah cinta itu dengan makin tingginya kebutuhan ekonomi yang makin sulit? Atau, sudah menguapkah cinta dan kasih sayang itu akibat panasnya terik matahari akibat banyaknya penggundulan hutan budaya dan tercerabutnya akar peradaban?

July 18, 2012

Tantangan Pendidik Saat Anak Memasuki Masa SMA

(doc. pribadi, pic by Ahmad)
Surabaya, CocoNotes - Memasuki masa SMA adalah hal yang membuat anak merasa telah dewasa. Jika masa SMP yang lazim disebut sebut anak biru putih, dan dianggap sebagai anak yang belum dewasa, maka ketika anak memasuki masa SMA, anak mulai ingin dianggap sebagai anak dewasa dan diperlakukan sebagai orang dewasa. Adanya keinginan ini menjadikan orangtua dan guru, sebagai pendidik, harus mampu memenuhi kebutuhan si anak. 
Memenuhi kebutuhan di sini bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memenuhi kebutuhan anak untuk menjalankan tugas perkembangan anak yang telah memasuki rentang kehidupan remaja madya. Sebagaimana diketahui bersama, sebagai individu yang tumbuh dan berkembang dalam rentang kehidupan remaja madya, maka dalam diri anak SMA akan tumbuh kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya, teman yang dapat turut merasakan suka dan dukanya. Oleh karena itu, pada masa ini pula anak mulai berminat untuk berpacaran dan melakukan eksplorasi identitas yang seringkali lebih nyata dibandingkan ketika masih di level SMP (masa remaja awal). 
Selain itu, pada masa ini, anak SMA juga mencari sesuatu yang dapat dipandang bernilai, pantas dijunjung tinggi dan dipuja-puja. Secara remang-remang, anak SMA akan mulai menunjukkan adanya minat pada karir. 
Adanya tugas perkembangan anak SMA tersebut membuat orangtua yang memiliki anak seusia tersebut harus memahami bagaimana mengakomodir tugas perkembangan tersebut agar bisa dijalankan dengan baik oleh si anak. Sementara itu, guru, sebagai sosok pendidik di sekolah juga harus memahami tugas perkembangan tersebut. Guru dalam hal ini tidak hanya menyampaikan materi akademis, tapi juga harus mampu merasionalisasi materi yang disampaikan dengan fakta di lapangan. 
Rasionalisasi materi akademis dengan fakta di lapangan ini diperlukan, karena pada masa ini, dalam diri anak SMA mengalami perubahan-perubahan yang berlangsung secara terus menerus dan ditandai oleh adanya perubahan dalam aspek biologis, emosional, kognitif, psikologis, sosial, serta moral dan spiritual (Geldard & Geldard, dikutip oleh Zahra, dalam jurnalnya yang berjudul Lingkungan Keluarga dan Peluang Munculnya Masalah Remaja, Jurnal Provitae, 2, 2005, pp. 11-22). 
  1. Perubahan biologis meliputi perubahan fisiologis, perubahan hormon, dan perilaku seksual. 
  2. Perubahan emosional yang merupakan akibat adanya perubahan biologis dan perubahan hormone seksual. 
  3. Perubahan kognitif meliputi peningkatan kemampuan berpikir abstrak, kecenderungan egosentris untuk menjadi pusat perhatian, dan adanya peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. 
  4. Perubahan psikologis meliputi pembentukan identitas baru, perubahan fungsi identitas diri, awal proses individuasi, pemahaman pengalaman baru dalam hidup, penghayatan etnis, dan upaya penyesuaian diri. 
  5. Perubahan sosial mencakup upaya pemenuhan peran sosial, pemenuhan harapan orang tua dan teman sebaya, serta usaha menjalani peran remaja sesuai dengan lingkungannya. 
  6. Perubahan moral dan spiritual yang biasanya muncul dorongan untuk mulai berafiliasi dengan kepercayaan tertentu. 
Perubahan pada keenam aspek tersebut ada dalam diri anak SMA dan saling mendukung dalam pengembangan potensi anak. Perubahan-perubahan tersebut harus diakomodasi oleh pendidik, baik pendidik di rumah, yaitu orangtua, dan pendidik di sekolah, yaitu guru. Keseimbangan dalam memfasilitasi perubahan enam aspek tersebut akan membantu anak SMA untuk melalui seluruh tugas perkembangannya tersebut, sehingga anak SMA akan tumbuh dan berkembang secara optimal dan akhirnya tumbuh sebagai sosok yang dewasa, tangguh, berprestasi, berkarakter, dan bertanggung jawab. Penyeimbangan perubahan ini memerlukan strategi yang tepat yang harus dipahami oleh orangtua dan guru, di mana kedua pihak harus saling mendukung dan bekerjasama agar proses penyeimbangan di lingkungan rumah dan sekolah berjalan beriringan. Seiring dan selarasnya jalan kedua pihak ini diperlukan agar anak-anak tidak melihat adanya gap yang terlalu jauh di antara keduanya. 

CocoGress