July 15, 2014

Mendidik dengan Hati, Cerdaskan Anak Negeri

Surabaya, CocoNotes - Pendidikan adalah gerbang peradaban. Dengan pendidikan, manusia diantarkan pada kemajuan peradaban, baik pendidikan formal, nonformal, maupun informal.

Dewasa ini, seiring dengan bergulirnya era globalisasi, pendidikan bukan lagi hanya merupakan proses transfer ilmu pengetahuan secara kognitif, tetapi juga merupakan proses pembentukan afeksi, mental, dan perilaku dari pendidik kepada peserta didik. Dengan demikian, output yang dihasilkan bukan semata kualitas manusia yang cerdas secara intelektual akademis, namun cerdas secara holistik (intelektual, sosial, emosional, dan spiritual).

Di sisi lain, pendidikan juga dihadapkan pada masalah kesenjangan pendidikan akibat kesenjangan perekonomian. Di satu sisi, ada peserta didik yang masih kesulitan perekonomian, sehingga tidak mampu mengenyam pendidikan formal dengan lebih baik. Di sisi lain, pendidik dihadapkan pada peserta didik yang berkecukupan, namun semangat dan motivasi menuntut ilmunya rendah.

Menghadapi fenomena tersebut, pendidik dituntut untuk bijaksana dalam menjalani profesi sebagai pendidik, agar output pendidikan yang diselenggarakan di lembaga pendidikan dapat mencapai target yang diharapkan, yaitu membentuk insan yang utuh jasmani dan rohani. Artinya peserta didik yang dihasilkan merupakan individu yang sakti, tangguh, dan mumpuni. Cerdas akal, mental, dan spiritual; berkarakter, beradab, berbudaya, dan humanis.

Pendidik, Mendidik, dan Panggilan Hati

Pendidikan dan pendidik adalah dua komponen yang tidak terpisahkan. Pendidikan akan berlangsung di manapun dan kapan pun, sepanjang ada pendidik atau guru. Penyibak gelapnya kebodohan, pelapang sempitnya pemikiran. Isna (Perempuan, 29 tahun), adalah salah satu sosok pendidik yang memiliki panggilan hati untuk mendidik siapapun, di manapun, dan kapan pun. Sejak masih menjadi mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya, Isna telah banyak berkecimpung dengan pendidikan anak-anak jalanan; dan mengajar orang-orang tua yang belum bisa mengaji. Sampai kemudian menikah, Isna pun mengajar anak-anak usia Taman Kanak-kanak di pelosok desa di Lampung tempat suaminya ditugaskan; hingga akhirnya membuka lebar pintu rumahnya bagi anak-anak tetangga di desa yang di pelosok Bengkulu untuk belajar dan mengaji tanpa mengharap imbalan materiil alias gratis.

Berbagi: Menyenangkan dan Memberi Manfaat
Karena Mereka Juga Memiliki Hak Untuk Mengenyam Pendidikan yang Baik (Pic. Doc. Pribadi)
Sejak awal, orientasi yang dibangun dalam diri Isna adalah berbagi ilmu dan amal. Menyenangkan dan memberi manfaat kepada orang lain. Itulah mengapa, pada saat masih menjadi mahasiswi, dia mengambil bagian dengan menyampaikan ilmu dan berbagi pada anak jalanan di rumah singgah di kawasan Kejawan-Keputih. Untuk memotivasi anak-anak jalanan tersebut, Isna menyisihkan uang saku bulanannya untuk membuat makanan kecil yang dibagikan kepada anak-anak jalanan saat mereka belajar di rumah singgah.
Tidak Seharusnya Mereka Melalui Masa Kanak-kanaknya di Jalanan (Pengemis dan Dua Anaknya, Pic. Doc. Pribadi)
Meskipun, sebagai anak kos, Isna sendiri sebenarnya memiliki kebutuhan yang harus dipenuhinya. Namun, dia selalu menyisihkan uang sakunya untuk membuat tersenyum anak-anak jalanan tersebut. Tidak heran, pada masa itu, saat Penulis turut naik angkutan umum dengan Isna dan turun di kawasan Kejawan-Keputih, banyak anak-anak jalanan, yang berprofesi sebagai penjual koran atau pengamen menyapa Isna dengan akrab.

Isna tidak hanya berbagi dengan anak-anak. Selain mengajari anak-anak jalanan di rumah singgah, Isna juga tidak keberatan jika diminta oleh ibu-ibu untuk belajar mengaji. Dengan tanpa menentukan besaran tarif dan bahkan tanpa mengharap imbalan, Isna mengajari ibu-ibu akan baca dan tulis huruf Al Quran. Berbagi dengan hati, tanpa menghiraukan waktu, tenaga, dan pikiran yang harus dicurahkan itulah yang dilakukan oleh Isna.

Mendidik dengan Hati, Menyibak Kegelapan Hingga Pelosok Negeri

Jiwa Isna memang jiwa pendidik dan berbagi. Keputusan yang diambilnya untuk menikah sebelum dia menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi Swasta tidak memupus jiwa pendidiknya. Saat dia harus ikut suami bertugas di pelosok desa di sudut Provinsi Lampung, Isna kembali merintis sekolah Taman Kanak-kanak untuk masyarakat di desa tersebut. Dengan dukungan penuh dari suami.

Menyenangkan dan Bermanfaat: Bermain dan Belajar (Pic. Doc. Pribadi)
Di sini, Isna membuka sekolah Taman Kanak-kanak gratis untuk warga desa di sekitar dia tinggal. Untuk biaya pendirian dan penyelenggaraan pendidikan, dia mendapat dukungan donasi dari Baitul Maal tempat suami bertugas. Gaji guru diambilkan dari besaran donasi yang diterima. Bahkan, Isna pernah mengajukan donasi kepada kakaknya yang tinggal di Surabaya demi kelangsungan sekolah yang dirintisnya di ujung Pulau Sumatera tersebut.

Untuk Isna sendiri, dia tidak mengambil gaji, meskipun di situ dia berperan sebagai Kepala Sekolah. Bagi Isna, hal terpenting adalah bagaimana anak-anak tersebut bisa belajar, bermain, bersosialisasi di lingkungan yang baik. Pendidikan awal yang ditanamkan melalui permainan, lagu, dan dongeng diharapkan mampu mengantar anak-anak untuk cerdas dan berkarakter.

Semua aktivitas pendidikan ditujukan untuk mendidik dan mengarahkan anak-anak agar mengetahui adab dan tatacara serta budaya hidup, baik sebagai individu maupun bagian dari lingkungan. Anak-anak dididik untuk bersahabat dengan sesama, menyenangkan orang tua dan orang-orang di sekitar, serta mencintai lingkungan.

Hingga akhirnya, ada tuntutan dari guru yang mengajar bersamanya, agar dilakukan penerapan Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) bulanan. Hal ini dilakukan sebagai respon atas permintaan wali murid untuk menambahkan pelajaran calistung (membaca, menulis, dan berhitung) bagi anak-anak agar begitu lulus dari Taman Kanak-kanak, anak-anak dapat masuk Sekolah Dasar dengan lebih mudah.

Isna memang tidak memasukkan calistung dalam kurikulumnya. Pengenalan huruf dan angka dilakukan dengan alat peraga dan cerita. Sehingga anak-anak tidak langsung terbebani dengan aktivitas tulis-menulis, baca-membaca, dan hitung-menghitung. Anak-anak tersebut masih dalam rentang usia bermain, sehingga pembelajaran huruf dan angka dilakukan melalui permainan dan cerita.

Menghadapi permintaan rekannya tersebut, Isna menyatakan bahwa menerapkan SPP bukanlah hal bijak untuk masyarakat di desa tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan pokok saja mereka masih kekurangan. Apalagi harus dibebankan dengan biaya sekolah. Belum lagi, jika anak-anak sudah harus diajarkan calistung, tentunya mereka harus membelikan perlengkapan tulis menulis. Pastinya, mereka akan semakin terbebani.

Karena itu, Isna menolak permintaan rekannya. Penolakan ini berujung pada permintaan pengunduran diri dari guru yang mengajar di Taman Kanak-kanak tersebut. Tentu saja hal ini menjadi dilema. Saat itu, Isna sempat menelepon ke Penulis di Surabaya dan menceritakan kegalauannya. Dengan mempertimbangkan kepentingan anak-anak agar tidak terganggu proses belajar mengajarnya, Isna memilih mengundurkan diri dan menyerahkan penyelenggaraan pendidikan kepada rekan-rekannya.

Isna tidak mau tertekan dengan keadaan yang tidak sejalan dengan nuraninya. Baginya, mengajarkan ilmu dan berbagi adalah keniscayaan bagi yang diberi karunia tersebut.

Meskipun telah mengundurkan diri, bukan berarti Isna mengabaikan sekolah yang dirintisnya tersebut. Isna tetap membantu penyelenggaraan pendidikan dengan caranya, yaitu mengupayakan kelancaran donasi dari Baitul Maal untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.

Hingga akhirnya, setelah kelahiran anak keduanya, kembali Isna harus mengikuti suami pindah tempat tinggal, karena suami medapatkan tawaran mengajar di salah satu Perguruan Tinggi di Bengkulu. Di pelosok Kecamatan Merigi, Bengkulu, kembali Isna membuka diri untuk berbagi ilmu dan amal dengan lingkungan sekitar. Dia membuka pintu lebar-lebar untuk mengajar mengaji anak-anak kecil di sekitar tempat tinggalnya secara gratis.
Siapapun, Di Manapun: Setiap Anak Tetap Harus Mendapatkan Haknya untuk Belajar (Pic. Doc. Pribadi)
Setiap pagi, setelah dia menjajakan susu kedelai yang diproduksinya sendiri setiap dini hari dan menjajakan susu kedelainya ke rumah-rumah di kompleks perumahan tempat tinggalnya sampai pukul tujuh, pada pukul sembilanan Isna membuka pintu rumahnya untuk anak-anak yang ingin belajar di tempatnya. Gratis. Isna dengan tekun mengajari anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi di rumahnya sambil mengasuh ketiga buah hatinya.

Tidak hanya itu, di sore hari, selepas sholat Ashar, anak-anak yang sekolah pagi bisa belajar mengaji di rumahnya. Sekali lagi, Isna tidak memasang tarif. Semua disampaikan secara gratis.
Apa yang dilakukan oleh Isna tersebut mengingatkan Penulis pada Kakek Penulis pada tahun 1980-an di salah satu sudut Kabupaten Lamongan, Abdul Hamid almarhum, yang juga menyediakan rumahnya untuk tempat belajar dan mengajar membaca Al Quran untuk anak-anak di kampung secara gratis. Setiap lepas sholat Maghrib, anak-anak akan berduyun-duyun untuk belajar membaca Al Quran, meskipun harus berlampukan cahaya petromax.
Sekelumit kisah sosok Isna di muka mencerminkan, bahwa pendidikan merupakan keniscayaan yang harus disampaikan dengan hati. Beramal dan berbagi ilmu yang dilandaskan dengan niatan tulus dan merupakan panggilan jiwa, tidak akan pernah lekang oleh masa dan usia, tidak akan kabur oleh tempat dan keterbatasan ekonomi. Dengan demikian, akan mengantarkan anak-anak di mana pun untuk menjadi anak-anak yang cerdas dan berkarakter mulia. Anak-anak yang tumbuh secara utuh secara intekektual, mental, dan spiritual dalam ketulusan jiwa pendidiknya.

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates