November 28, 2013

Ketika Dokter Demo: Antara Naluri, Profesi, dan Emosi

Surabaya, CocoNotes – Masih belum selesai gemuruh gelombang demo buruh, dan bahkan hari ini (28 November 2013), buruh di Surabaya juga masih melakukan aksi demo di depan Grahadi Surabaya untuk menuntut revisi keputusan gubernur tentang UMK 2014 (Upah Minimum Kabupaten/Kota), gelombang demo dokter juga terdengar gemuruhnya di seluruh Indonesia pada tanggal 27 November 2013. 
Sumber gambar: Tempo.co
Jika buruh berdemo terkait peningkatan kesejahteraan di wilayah perut, maka para dokter berdemo atas nama penghargaan atas profesionalisme dan solidaritas terhadap dokter Dewa Ayu Sasiary Prawani SpoG bersama dengan dua orang rekannya, dr. Hendry Siagian dan dr. Hendry Simanjuntak yang divonis penjara 10 bulan dan dicabut ijin praktiknya oleh Mahkamah Agung pada tanggal 18 November 2013. Putusan tersebut dijatuhkan kepada dokter Ayu atas tuduhan melakukan malpraktek terhadap Julia Fransiska Maketey yang meninggal dunia saat melahirkan akibat emboli (masuknya gelembung udara dalam jaringan darah) di Rumah Sakit R.D. Kandou Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, pada 10 April 2010. Dengan berdemonya para dokter tersebut, beberapa pasien banyak yang terlantar dan merasa kecewa dengan kegiatan demo tersebut. 
Kekecewaan tampak begitu dalam di wajah Dakkir, 40 tahun. Warga Desa Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, ini terpaksa memapah kembali Yamma, 70 tahun, ibunya, ke dalam mobil sewaan. "Ibu enggak bisa diperiksa. Katanya dokter mogok sampai besok," kata Dakkir saat ditemui di halaman parkir gedung IRD Rumah Sakit Syarifah Ambami Rato Ebu (Syamrabu), Bangkalan, Rabu, 27 November 2013. Niatnya, kata dia, sang ibu rencananya hari ini akan diperiksakan ke dokter syaraf karena sudah hampir tiga hari mengalami sakit kepala hebat. "Tapi sampai di sini malah tidak bisa berobat," ujarnya. Dia mengaku kecewa pada aksi mogok tenaga medis tersebut, karena jarak Tanjung Bumi ke Bangkalan sangat jauh dan menghabiskan banyak biaya perjalanan (Sumber: Tempo).  
Itu adalah salah satu dampak dari aksi demo para dokter tersebut. Dan sebagaimana juga dengan aksi demo buruh yang mulai mengundang rasa gerah dari masyarakat, aksi demo dokter ini pun menuai opini pro dan kontra (tidak simpatik) dari masyarakat. Lihat saja sekelumit komentar di kolom komentar rubrik Tempo berikut.  

Melihat aksi mogok yang dilakukan oleh para dokter tersebut, maka pertanyaan yang timbul adalah apakah dokter yang merupakan profesi mulia dan smart harus melakukan aksi mogok kerja. Bukankah dokter itu adalah profesi yang berlandaskan nurani, dan bukan semata pekerjaan yang menghasilkan nafkah. Itulah makanya ketika para dokter yang notabene adalah para dokter spesialis tersebut memutuskan untuk melakukan aksi demo, Ibu Menteri Kesehatan menyampaikan pesan beliau, bahwa tidak ada salahnya membiarkan para dokter tersebut berdemo, dengan syarat dan ketentuan, tidak ada pasien yang terlantar. 
Mengapa? Karena sesungguhnya dokter itu adalah profesi, bukan jenis pekerjaan. Profesi yang dalam parktiknya didahului dengan sumpah setia untuk mendahulukan kepentingan masyarakat daripada kepentingan pribadi. Karena profesi yang mempunyai integritas moral yang mantap, menjunjung tinggi kejujuraqn intelektual (jujur terhadap pasien maupun diri sendiri), sadar akan batas-batas kewenangannya dan tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan uang. Oleh karena itu, ketika dokter memiliki keinginan untuk menunjukkan solidaritas dan profesionalitasnya, maka demo yang dilakukan pun menuntut mereka untuk tetap berpikir cerdas dan profesional.

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates