November 30, 2013

Mahakarya Indonesia Digital Network: Pendorong Peningkatan Daya Saing Bangsa

Telkom, 2013b
Surabaya, CocoNotes – Daya saing global merupakan wacana yang vital bagi sebuah bangsa, karena daya saing bangsa akan menentukan citra bangsa di mata dunia. Ketika daya saing sebuah bangsa lemah di mata dunia, maka dunia akan memandang adanya ketidakmampuan bangsa tersebut dalam mengelola sumberdaya dan potensi yang dimiliki oleh bangsa tersebut. Sebaliknya, ketika daya saing bangsa kuat di mata dunia, maka hal itu merefleksikan kemampuan kemampuan sebuah bangsa dalam menyejahterakan penduduknya melalui pengelolaan segenap potensi dan sumberdaya yang dimiliki.

Mengapa Daya Saing itu Penting bagi Sebuah Bangsa?
Arslan dan Tathdil (2012) mengutip pendapat Haque (1995) bahwa daya saing bangsa merupakan "the ability of a country to produce goods and services that meet the test of the international markets and simultaneously to maintain and expand the real income and also rise the welfare level of its citizens". Artinya, daya saing merupakan kemampuan sebuah negara untuk menghasilkan barang dan jasa yang bisa memenuhi kebutuhan pasar internasional dan secara simultan akan mempertahankan dan menambah pendapatan bangsa dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan penduduknya. 
Sementara itu, IMD’s World Competitiveness Yearbook memberi definisi daya saing sebagai “economy manages the totality of its resources and competencies to increase the prosperity of its population” (Atkinson, 2013). Artinya, daya saing adalah kemampuan yang dimiliki oleh individu (atau organisasi atau bangsa) dalam mengelola keseluruhan sumberdaya dan kompetensi untuk meningkatkan kemakmuran penduduk. 
Dari dua definisi daya saing tersebut maka bisa dijelaskan bahwa daya saing adalah kemampuan bangsa untuk mengelola sumberdaya yang dimiliki, sehingga bisa diubah menjadi barang dan jasa yang bisa memenuhi kebutuhan pasar nternasional, sehingga akan meningkatkan pendapatan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan penduduknya. 
Dengan kata lain, daya saing bangsa yang baik akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan penduduk bangsa tersebut. Sehingga bisa dijelaskan bahwa daya saing bangsa merupakan hal krusial bagi sebuah bangsa, karena merupakan penentu kesejahteraan bangsa.

Daya Saing Bangsa Indonesia: Sebuah Perspektif 
Negara Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia, hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk di Indonesia mencapai 237 641 ribu (Badan Pusat Statistik, Februari 2012). 
Menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Fasli Jalal, pada 2013 ini diperkirakan jumlah penduduk Indonesia akan bertambah menjadi 250 juta jiwa dengan pertumbuhan penduduk 1,49 persen per tahun (Melissa dan Muhammad, 2013). Jumlah penduduk yang besar tersebut merupakan potensi bagi sebuah negara, karena penduduk merupakan sumberdaya manusia yang akan mendukung pencapaian tujuan sebuah negara, yang bahkan berperan sebagai subyek atau pelaku bagi pencapaian tujuan tersebut. Sumberdaya manusia ini akan menentukan proses tumbuh dan berkembangnya suatu negara bahkan dapat juga menjadi penyebab jatuhnya sebuah negara. Oleh karena itu, sumberdaya manusia dalam sebuah negara harus dibangun kesejahteraan fisik dan psikisnya agar sumberdaya manusia itu bisa menjadi potensi positif bagi bangsa dan mampu mengharumkan nama bangsa di belahan dunia melalui peningkatan daya saing bangsa (nation competitiveness). 
Namun demikian, besarnya sumberdaya manusia yang dimiliki oleh bangsa Indonesia saat ini masih belum sepenuhnya mendukung bangsa Indonesia untuk memiliki daya saing global. Hal ini ditunjukkan dari fakta peringkat Global Competitiveness Indox (GCI) yang diraih oleh Indonesia pada tahun 2012-2013 yang berada di peringkat 50 dengan skor 4,40 (skor 1-7). Jika dibandingkan dengan posisi GCI Indonesia pada tahun 2011-2012 yang mampu mencapai peringkat 46, posisi ini mengalami penurunan sampai empat peringkat. 
Penurunan GCI ini salah satunya adalah disebabkan oleh masih lemahnya kesiapan negara Indonesia dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), yang meraih skor 3,56 (skor 1-7) dan berada pada peringkat 85 dari 144 negara yang dijadikan sampel. Sedangkan faktor lain seperti lingkungan makroekonomi dan ukuran pasar, masih berada di peringkat yang lebih baik, yaitu peringkat 28 untuk lingkungan makro ekonomi dan peringkat 18 untuk ukuran pasar (Schwab dan Sala-i-Martin, 2012). Fakta tersebut menunjukkan bahwa peluang bangsa Indonesia masih besar untuk meningkatkan peringkat daya saing global, jika bangsa Indonesia lebih siap dalam memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. 
Upaya-upaya peningkatan daya saing bagi bangsa Indonesia merupakan hal krusial yang harus benar-benar diperhatikan, karena Indonesia yang kaya akan sumberdaya, baik sumber daya manusia maupun sumberdaya alam, sehingga ketika daya saing bangsa Indonesia rendah, maka hal itu menunjukkan ketidakmampuan bangsa dalam mengelola potensi dan sumberdaya yang dimiliki. Itulah makanya, peningkatan daya saing menjadi krusial bagi sebuah bangsa untuk memperbaiki citra dan reputasi bangsa di mata dunia, karena daya saing itu akan merefleksikan kemampuan bangsa dalam mensejahterakan rakyatnya. 

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa peningkatan daya saing bangsa melalui pengelolaan sumberdaya yang dimiliki adalah hal penting bagi sebuah bangsa. Di mana daya saing tersebut dicapai melalui optimalisasi kompetensi, pengetahuan, dan penguasaan teknologi guna menciptakan inovasi, kreasi, dan produktivitas bangsa sebagai alat untuk meningkatkan daya saing.

Mahakarya Indonesia Digital Network 2015: Pendorong Peningkatan Daya Saing Global
Sumber: http://www.telkomsolution.com/
Di era teknologi yang berkembang sangat pesat ini, Indonesia harus mampu menghadapi setiap titik perubahan teknologi agar tidak lagi ketinggalan dari negara-negara lain di dunia. Wie (2005) menjelaskan bahwa dalam rangka meningkatkan daya saing, maka kebijakan makroekonomi yang ditetapkan pemerintah harus didukung dengan adanya upaya perbaikan penggunaan TIK yang diiringi dengan: (1) peningkatan kemampuan sumberdaya manusia agar lebih siap dalam menerima perkembangan teknologi yang pesat; (2) meningkatkan akses terhadap perkembangan teknologi di luar negeri; dan (3) menyediakan layanan yang mendukung pengembangan teknologi. 
Ketiga hal tersebut menjadi krusial, karena meskipun selama tiga dekade terakhir pertumbuhan industri di Indonesia telah diiringi dengan peningkatan penggunaan teknologi, namun penggunaan TIK di Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, dan Philipina. Apalagi jika dibandingkan dengan Macan Asia seperti Korea, China, danTaipei (Wie, 2005). 
Bahkan, Simatupang dkk (2012) menyebutkan bahwa jika dibandingkan dengan anggota negara ASEAN seperti Thailand, Indonesia tidak mampu menyerap investasi asing akibat inovasi dan kreativitas yang masih lemah, yang merupakan dampak dari masih kurang siapnya masyarakat Indonesia dalam menggunakan teknologi. 
Di sisi lain, Simatupang dkk (2012) menjelaskan bahwa kemampuan sebuah bangsa untuk mampu bersaing di pasar global adalah kesiapannya dalam menggunakan teknologi digital dan membangun global networking (jaringan global), karena penggunaan teknologi digital dan pengembangan jaringan global tersebut akan mengantar bangsa untuk melakukan inovasi dan kreasi dengan lebih cepat. 
Oleh karena itu, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), sebagai penyedia layanan di sektor teknologi informasi dan komunikasi terkemuka di Indonesa mengeluarkan layanan Indonesia Digital Network (IDN) sebagai upaya untuk mendukung program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) 2011-2025, sebuah program yang dicanangkan oleh Negara Indonesia untuk meningkatkan produktivitas Nasional. Melalui IDN, Telkom siap membangun 15 juta homepass dan 1 juta wifi pada tahun 2015 untuk mewujudkan salah satu pilar utama MP3EI yaitu konektivitas (Telkom Indonesia, 2013a). 
Roadmap IDN 2015 (Sumber: Telkom Indonesia, 2013b)

Mahakarya Indonesia Digital Network 2015, Persembahan Telkom untuk Indonesia

Indonesia Digital Network meliputi tiga komponen utama, yaitu ID Access, ID Ring, dan ID Convergence (Telkom Indonesia, 2013b). 
  1. ID Access adalah pengembangan infrastruktur jaringan akses melalui high speed broadband access melalui jaringan serat optik (optical fiber) dan wifi. Dalam hal ini program yang dicanangkan adalah membangun 15 juta homepass (dari rumah ke rumah) dan 1 juta wifi pada tahun 2015. 
  2. ID Ring merupakan pengembangan infrastruktur jaringan berbasis IP-Based dan Optical Backbone Network. Inisiatif ID Ring ini dapat dilihat dari proyek Palapa Ring dari Pemerintah RI untuk menghubungkan seluruh jaringan backbone berbasis serat optik yang mana PT Telkom terlibat di dalamnya, dengan membangun 30 titik router tera dan 75.000 km jaringan backbone nasional dan regional. 
  3. ID Convergence merupakan pengembangan infrastuktur jaringan next generation yang terintegrasi (integrated next generation network – NGN) untuk multi service dan multi screen
Mahakarya IDN 2015 oleh Telkom ini telah diwujudkan dalam program Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK) di wilayah-wilayah terpencil, khususnya di kawasan timur Indonesia. Program MPLIK merupakan bentuk kepedulian Telkom dalam mendukung upaya pemerintah mewujudkan Indonesia Connected, yakni dengan memberikan akses internet yang mudah, murah dan aman bagi masyarakat di wilayah-wilayah terpencil Indonesia.
Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (Telkom Indonesia, 2013c)
Dalam penyelenggaraan MPLIK, Telkom menggelar sebanyak 6 paket pekerjaan, antara lain:
  • Paket 4 (Jambi, Riau, Kepulauan Riau)
  • Paket 12 (Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo)
  • Paket 13 (Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara)
  • Paket 14 (Sulawesi Selatan), Paket 17 (Kalimantan Tengah)
  • Paket 20 (Papua dan Irian Jaya Barat) (Telkom Indonesia, 2013c). 
Mahakarya IDN 2015 oleh Telkom untuk Indonesia juga diwujudkan melalui pengembangan Maluku Cable System (MCS) yang merupakan bagian dari program pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Sulawesi Maluku Papua Cable System (SMPCS). SMPCS merupakan kelanjutan dari pembangunan Mega Proyek Palapa Ring dan menjadi salah satu program Telkom dalam mewujudkan Indonesia Digital Network (IDN). Sebelumnya pada tahun 2011, Telkom berhasil menggelar Mataram Kupang Cable System
Melalui proyek MCS, konektivitas akan semakin meluas dan meningkatkan kapasitas layanan data di daerah-daerah yang belum dilayani secara memadai, hal ini penting untuk meningkatkan akses broadband untuk seluruh masyarakat, sehingga penyebaran informasi kepada masyarakat dapat diperoleh secara merata. Pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut SMPCS mencakup penggelaran Kabel Laut sepanjang 5.444 km dan Kabel Darat sepanjang 655 km. 
Secara Network Design, SMPCS terdiri dari 3 jalur utama dan 13 cabang. 3 Jalur utama tersebut meliputi:
  • Manado – Ambon – Fakfak – Timika
  • Manado – Sorong – Biak – Jayapura
  • Ambon – Kendari
Sementara itu, 13 cabang tersebut meliputi: Jailolo, Ternate, Labuha, Sorong, Mangole, Sanana, Namlea, Masohi, Banda Neira, Bula, Manokwari, Sarmi, dan Kaimana. 
Dengan mengoptimalkan teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM), SMPCS mampu mendukung jaringan hingga kapasitas bandwidth 32×100 Gigabytes per fiber pair-nya (Telkom Indonesia, 2013a).

Penutup 
Sumber: http://www.telkomsolution.com/
Melalui Mahakarya Indonesia Digital Netwok 2015, PT Telkom mendukung program MP3EI untuk mewujudkan konektivitas dan produktivitas. Pada akhirnya, melalui mahakarya IDN 2015 Telkom, bangsa Indonesia bisa meningkatkan upaya pengelolaan sumberdaya dan potensi untuk mencapai daya saing global, karena dengan Indonesia Digital Network, maka akan tersedia elemen-elemen pembentuk daya saing di pasar global, di antaranya data dan informasi yang tepat, layanan yang memuaskan, dan peningkatan efisiensi (Simatupang dkk, 2012). 
  1. Data dan informasi yang cepat dan tepat. Melalui implementasi IDN maka kualitas dan diseminasi informasi di setiap sektor dan wilayah akan bisa diperbaiki, karena melalui program IDN, seluruh bangsa jangkauan jaringan informasi bisa diakses di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian setiap sektor dan wilayah bisa melakukan pengembangan database, implementasi rogram penelitian dan pengembangan (R & D),dan sistem informasi yang memadai. 
  2. Penyampaian layanan yang memuaskan (excellence). Jika sistem telah dikembangkan dengan informasi yang cepat dan tepat maka layanan yang tersedia akan lebih baik dan lebih memuaskan, karena data digital dalam database lebih mudah diakses. 
  3. Peningkatan efisiensi, efektivitas, produktivitas, dan stabilitas. Teknologi digital yang kompleks tetapi sederhana dan fleksibel akan memudahkan aktivitas dan operasional prosedur yang ditetapkan. Sehingga segala aktivitas bisa diestimasi implementasinya dengan lebih akurat dan aktual. 

Referensi 
  • Arslan, Neslihan dan Hüseyin Tathdil. (2012). Defining and Measuring Competitiveness: A Comparative Analysis of Turkey With 11 Potential Rivals. International Journal of Basic & Applied Sciences IJBAS-IJENS Vol: 12 No: 02, pp. 31-43. © April 2012 IJENS. 
  • Atkinson, Robert D. (August 2013). Competitiveness, Innovation and Productivity: Clearing Up the Confusion. Paper. The Information Technology and Innovation Foundation (ITIF), Washington, D.C. 
  • Badan Pusat Statistik. (2012). Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia. Katalog BPS: 3101015. Jakarta: Badan Pusat Statistik. 
  • Melissa, Feny dan Djibril Muhammad. (2013). 2013 Penduduk Indonesia Diperkirakan 250 Juta Jiwa. Republika Online, 17 Juli 2013, dipetik melalui http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/07/17/mq2oy6-2013-penduduk-indonesia-diperkirakan-250-juta-jiwa, pada September 2013. 
  • Schwab, Klaus dan Xavier Sala-i-Martín. (2012). The Global Competitiveness Report 2012–2013. Insight Report. Geneva: World Economic Forum. 
  • Simatupang, Togar M., Sony Rustiadi dan Dohar Bob M. Situmorang. (2012). ‘Enhancing the Competitiveness of the Creative Services Sectors in Indonesia’ in Tullao, T. S. and H. H. Lim (eds.), Developing ASEAN Economic Community (AEC) into A Global Services Hub, ERIA Research Project Report 2011-1, Jakarta: ERIA, pp.173-270. 
  • Telkom Indonesia. (2013a). Serat Optik Sepanjang 6000 KM Siap Membentang Menyatukan Kawasan Timur Indonesia. Siaran Pers Telkom Indonesia, 28 Mei 2013, dipetik melaluihttp://www.telkom.co.id/serat-optik-sepanjang-6000-km-siap-membentang-menyatukan-kawasan-timur-indonesia.html. 
  • Telkom Indonesia. (2013b). PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. September 2013. Dipetik melalui http://www.telkom.co.id/assets/uploads/2013/05/TLKM_NDR_SEPT_OCT_2013.pdf. 
  • Telkom Indonesia. (2013c). Membangun Masyarakat Digital Di Kawasan Terpencil Indonesia Dengan MPLIK. Siaran Pers Telkom Indonesia, 28 Mei 2013, dipetik melalui http://www.telkom.co.id/membangun-masyarakat-digital-di-kawasan-terpencil-indonesia-dengan-mplik-2.html. 
  • Wie, The Kian. (2005). Technology and Indonesia’s Industrial Competitiveness. Second LAEBA (Latin America/Caribbean and Asia/Pacific Economics and Business Association) Annual Meeting Buenos Aires, Argentina – November 28-29, 2005.

1 komentar:

Fari said...

Jakarta, Aktual.com — PT Telkom Indonesia dan Perum Perumnas menandatanganani Nota Kesepahaman (MoU) terkait penyediaan Layanan Information & Communication Technology (ICT) dalam mendukung program pemerintah membangun satu juta hunian di Indonesia.

Direktur Enterprise and Business Service Telkom Muhammad Awaluddin mengatakan, dengan melakukan penandatanganan ini artinya secara tidak langsung keduanya telah melakukan sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

“Kerjasama ini merupakan wujud komitmen Telkom untuk turut mendukung pembangunan dan kesejahteraan bangsa Indonesia melalui pemanfaatan infrastruktur dan layanan ICT yang dimiliki telkom,” kata Awaluddin di Kantor Pusat Perumnas, Jakarta, Kamis (6/8).



BACA SELENGKAPNYA DI :
Dukung Program 1 Juta Rumah, Telkom Sediakan Fasilitas ICT

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates