March 22, 2015

Ketika Pejabat Mengumpat

Surabaya, CocoNotes - Dalam celotehan beberapa medsoser, di antara mereka ada yang membagi era kepemimpinan negara dalam beberapa era atau orde, mulai Orde Lama (Orla), Orde Baru (Orba), Orde Reformasi (Oref), dan saat ini disebut sebagai Orde Citra (Orci). 
Jika di orde lama diwarnai dengan perebutan perjuangan kemerdekaan dan perjuangan kebangkitan, maka di orde baru diwarnai dengan derap dan gerak pembangunan dan pengembangan. Sementara pada orde reformasi, diwarnai dengan gerak dan daya pembebasan. 

Selanjutnya, pada orde citra, diwarnai dengan daya gerak pencitraan dan personal branding. Media berperan dalam memblow up dan menggerakkan opini masyarakat. Agenda media disetting melalui framing dan konstruksi realitas sedemikian rupa, sehingga agenda publik pun terwarnai dengan arah pencitraan yang diinginkan. 
Media berperan dalam menutup isu yang satu dengan isu lainnya untuk menggerakkan opini khalayak agar tetap dalam satu koridor. Pembenaran atas hal-hal yang tidak layak pun bukan lagi menjadi tabu. 

Tidak heran, jika di orde citra ini, ada hal-hal yang muncul menjadi pembenaran, seperti: 
Lebih baik koruptor, yang penting jujur
Lebih baik berkata kotor, kasar, dan mengumpat, daripada munafik
Lebih baik bertato, yang penting royal
Buat apa berjilbab, kalau korupsi
Dan ragam jenis lebih baik tidak baik daripada yang baik-baik serta sejenisnya .... 

Duh, seperti itu? 
Lalu? 
Yah, begtulah. 

So, jangan heran, jika di instansi-instansi, para pejabatnya akan banyak yang meneriakkan umpatan-umpatan dan kata-kata kotor seperti yang diucapkan oleh Gubernur DKI Jakarta Ahok yang merupakan warisan Presiden Jokowi. Karena justru, pejabat yang suka berkata kasar dan senang mengancam dan mengumpat itulah yang diblow up dan diidolakan dalam media. 
Salah Satu Status Facebook User
Pejabat Memang Selalu 'Benar'
Dan, jangan heran pula bila anak-anak akan terbiasa dengan umpatan-umpatan dan saling mengancam seperti yang dilakukan oleh pejabat tersebut. Karena, media telah menyiarkan umpatan, ancaman, dan kata-kata kasar tersebut dengan sedemikian cepatnya menuju khalayak ... 
Seharusnya, pejabat negara memang diharapkan untuk menjaga etika dan sopan santun. Bukankah negara Indonesia dikenal dengan keramahan, kesopanan, dan kearifannya. Dan, itu bukan karena munafik, tetapi memang begitulah ajaran hidup dalam adab dan budaya bangsa Indonesia. 
Lantas, mengapa harus dinodai dengan pelanggaran etika semacam itu? Pelanggaran yang dibenarkan, karena pelakunya adalah pejabat negara yang diarahkan media untuk diidolakan. 

Bahkan dalam ajaran Islam disebutkan, bahwa mengumpat itu dosanya lebih berat dibandingkan dengan zina, lo .... 
Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela (QS. Al Humazah: 1)
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah bicara yang baik atau diam (HR. Bukhari dan Muslim) 
So, mari, ajari generasi penerus dengan ajaran positif, lisan yang lembut, santun dan jujur. Qoulan Sadiidan ....

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. CocoNotes - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz Templates