Beli Roti atau Beli Apartemen Bos? Rame Banget

Surabaya, CocoNotes - Padatnya pengunjung event pemilihan unit Westown View yang diselenggarakan di Grand City Ballroom Level 4 dan Diamond...

Rental Surabaya
Showing posts with label Capres. Show all posts
Showing posts with label Capres. Show all posts

July 13, 2014

Di Balik Perbedaan Hasil Quick Count: Uraian Dari Satu Perspektif

Pic. Bertebaran di BB profile
Surabaya, CocoNotes - Pemilihan presiden a k a pilpres 2014 yang hanya meluncurkan dua pasang kandidat seolah merupakan ajang grand final piala dunia ataupun kontes kecantikan. Seru, menegangkan, dan membuat pemirsa/masyarakat pendukung finalis geregetan.

Terlebih, seusai pencoblosan, beberapa lembaga survei meluncurkan hasil penghitungan cepat (quick count) dengan hasil yang berbeda-beda. Di mana, hasil quick count tersebut langsung disambut dengan gemuruh kemenangan oleh para capres-cawapres yang memperoleh jumlah keterpilihan lebih tinggi. Bahkan sampai-sampai langsung diselenggarakan deklarasi kemenangan sampai ada yang nangis-nangis.

Namun demikian, dengan hanya dua pasang Capres-Cawapres, dan banyaknya lembaga survei yang melakukan quick count, maka hasil quick count yang dihasilkan juga berbeda. Dampaknya, kedua kubu mendeklarasikan kemenangan masing-masing. Dan tuduh menuduh terhadap kredibilitas lembaga survei pun dipersoalkan hingga menjadi debat kusir di wilayah pengguna akhir. Dan, ramailah media dan social media dengan saling memojokkan antar kubu.

Mengapa sampai terjadi perbedaan hasil quick count? Jika ditinjau secara metodologi statistik a k a metode penelitian, perbedaan ini bukan disebabkan oleh adanya keberpihakan semata, tetapi oleh teknik sampling yang digunakan.

Dalam ilmu statistik, teknik pengambilan sampel meliputi dua jenis, yaitu probability sampling dan nonprobability sampling. Nonprobability sampling, artinya tidak semua sampel memiliki peluang untuk menjadi sampel. Hanya sampel yang memiliki kriteria tertentu yang dapat dijadikan sebagai sampel.

Sementara itu, probability sampling, artinya semua sampel memiliki peluang untuk dijadikan sebagai sampel. Dalam tipe probability sampling, ada yang teknik pengambilan sampel secara simple random sampling (acak sederhana), ada juga yang diacak dengan jumlah proporsional.

Teknik sampling inilah yang akhirnya membedakan hasil quick count pemilihan presiden 2014 pada masing-masing lembaga survei. Terutama ketika lembaga survei memilih sistem acak sederhana, yang dapat berdampak pada menggerombolnya sampel hanya pada wilayah tertentu. Sementara, bagi yang memilih sistem acak proporsional, hasilnya tentu akan juga berbeda lagi, karena unit sampel yang dipilih juga berbeda.

Yang paling menohok, adalah ketika lembaga survei menggunakan sistem nonprobability sampling. Di sini, hanya sampel dengan kriteria tertentu yang akan dipilih. Nah, perbedaan kriteria yang mencolok pastinya akan sangat mempengaruhi hasil survei yang berbeda.

Penentuan jumlah sampel itu sendiri dilakukan dengan menggunakan perhitungan atau formulasi tertentu, Slovin atau Yamane misalnya, atau proporsi populasi, sehingga jumlah sampel yang diambil benar-benar mewakili populasi (representatif). Dalam penelitian ilmiah saja, marjin yang ditolelir secara umum lima persen (5%), dan sangat jarang yang menolelir marjin 10%.

Dalam quick count itu sendiri, sebagai sebuah bentuk hitungan cepat, maka yang dilakukan oleh lembaga survei tersebut juga berdasarkan laporan cepat dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang diterima oleh masing-masing lembaga survei, sehingga hasilnya pun menjadi berbeda. Apalagi, sungguh luasnya jangkauan nusantara, dengan kadar kecepatan internet (jaringan online) yang dikategorikan lemot, serta dukungan perangkat lunak (software) yang belum mumpuni baik dari sisi perangkatnya maupun sumberdaya manusianya. Dengan demikian, TPS, sebagai unit sampel, yang masuk dalam olahan lembaga survei juga berbeda, sehingga hasil hitungannya juga akan berbeda.

So, be smart guys. Jangan terburu-buru saling menuduh adanya kecurangan oleh pihak-pihak tertentu. Be positive thinking a k a khusnudhon pada sesama saudara. Bagaimanapun Capres-Cawapres yang menjadi kandidat saat ini adalah manusia pilihan. Bukankah tidak semua orang memiliki kesempatan untuk maju di tingkatan wilayah tersebut?

Dan, akhirnya, menjadi masyarakat cerdas, rasional, dan berkarakter adalah pilihan untuk tetap tenang dalam berkehidupan masyarakat. Terlebih dalam menghadapi media massa kini yang tidak bebas dari konstruksi realitas pesanan ....

May 28, 2014

Kerah-kerahan Massa Tim Sukses Calon Presiden aka Bolo-Bolo

pic. by Admin (Surabaya, 2014, Balai Pemuda, dalam Workshop SMK N 12 Surabaya)
Surabaya, CocoNotes - Media tengah ramai memberitakan pola perilaku tim sukses calon presiden (capres) sebagai upaya untuk memenangkan capres yang diusung para partai. Dalam upaya pemenangan capres tersebut, ada satu upaya yang sama yang dilakukan oleh masing-masing tim yaitu mengerahkan massanya masing-masing.

Itulah mengapa, beberapa media seringkali memuat judul 'Tim A siap kerahkan massa untuk Capres A'; 'Artis B kerahkan massa untuk menangkan Capres B', dan sebagainya. Sehingga saat membaca judul berita di twitter atau facebook media-media tersebut, kesannya menjadi lucu, karena masing-masing kelompok pendukung kerah-kerahan massa, banyak-banyakan massa. Istilah jawanya banyak-banyakan 'bolo'.

So, capres yang bakal menang dalam Pemilihan Presiden aka pilpres 2014 ini pastinya adalah capres yang merupakan produk dari pembentukan realitas media. Istilah primbonnya, capres yang mendapat pulung media. Karena, pembentukan realitas media lah yang mampu mengarahkan citra positif sang Capres dan Cawapresnya.

Andai ada calon presiden yang tidak memedulikan pencitraannya di media, dan calon presiden itu menang. Mungkin itulah pilihan obyektif rakyat, yang tidak dibumbui oleh embel-embel pencitraan. Istilahnya, sang presiden terpilih merupakan presiden yang dipilih karena mendapat pulung dari yang kuasa, dan bukan semata karena pulung media ....

CocoGress