Beli Roti atau Beli Apartemen Bos? Rame Banget

Surabaya, CocoNotes - Padatnya pengunjung event pemilihan unit Westown View yang diselenggarakan di Grand City Ballroom Level 4 dan Diamond...

Rental Surabaya
Showing posts with label Pemilihan Presiden. Show all posts
Showing posts with label Pemilihan Presiden. Show all posts

September 29, 2014

Pilkada Langsung, Tidak Langsung: Wes Kadung Kesandung, Ya Bangun Lagi

Surabaya, CocoNotes - Ramai dibicarakan tentang Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) yang akan digelar secara lamgsung dan secara tidak langsung. Seluruh rakyat dari segala lapisan turut membicarakan mengenai RUU Pilkada yang diketok dalam rapat anggota dewan, bahwa Pilkada akan diselenggarakan lagi dengan cara Tidak Langsung. Artinya, Rakyat akan menyerahkan kembali suaranya untuk diwakili oleh Anggota DPRD yang telah dipilih melalui pemilu Legislatif. 
Hal ini berbeda dengan ketika Pilkada Langsung yang telah dijalankan sejak tahun 2007, yaitu Rakyat menyuarakan sendiri suaranya tanpa melalui wakilnya di DPRD. Dan, kini, pada tahun 2014, ada wacana untuk menitipkan lagi suara Rakyat tersebut kepada Wakil Rakyat yang sudah dipilih oleh Rakyat sendiri. Artinya, Rakyat diminta untuk mempercayakan lagi suaranya kepada Wakil Rakyat pilihan mereka. 

DPR, memang diartikan sebagai DEWAN PERWAKILAN RAKYAT. Adanya Dewan Perwakilan Rakyat ini sebagai ejawantah dari SILA KE EMPAT Pancasila, yang banyak dilupakan oleh para siswa di sekolah. Beberapa siswa di sekolah mulai jenjang Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas, dan bahkan Mahasiswa pun sudah mulai lupa dengan bunyi sila keempat Pancasila: Bahkan lagi, orangtua siswa juga lupa dengan bunyi sila keempat pancasila tersebut, yang memang tergolong memiliki jumlah kata yang paling panjang dibandingkan dengan sila-sila lainnya. Entah bagaimana dengan guru-guru yang mendidik mereka.

Perwakilan rakyat, diadakan juga karena jumlah Rakyat yang sedemikian besar akan menyita banyak tenaga dan biaya, ketika pemilihan kepala daerah, pemilihan presiden di lakukan secara langsung. Kecuali pemilihan ketua RT yang masih hanya melibatkan beberapa puluh kepala keluarga. Biaya, waktu, tenaga, pikiran terkuras untuk melaksanakan pemilu KADA secara langsung. Namun, dengan adanya reformasi dan lunturnya kepercayaan Rakyat terhadap anggota Dewan yang telah dipilih sendiri oleh Rakyat, akhirnya program reformasi pun memilih dan menetapkan diberlakukannya PILKADA secara langsung.

Dan, amandemen-amandemen UUD 45 pun dilakukan dalam serangkaian amandemen, demi terjadinya keselarasan antara Pancasila selaku Dasar Negara dan UUD selaku landasan konstitusionalnya. 

Namun, dalam praktiknya, PILKADA langsung pun tidak luput dari KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Banyak sudah kasus korupsi dan kolusi selama Pilkada Lansung digelar. Pembagian dan alokasi-alokasi jatah pun akhirnya juga bergerak dalam jenjang-jenjang, di jenjang Rakyat dan Kader Partai, dan di jenjang Dewan Perwakilan. Per individu mulai bergerak secara langsung menuju ke tengah-tengah rakyat. Dan biaya alokasi pun semakin besar, sehingga dana yang diharapkan untuk kembali modal juga semakin besar. Dampaknya?

Negara Indonesia memang masih terus belajar dan belajar mengenai bentuk kenegaraan, bentuk pemerintahan, dan sistem yang dianutnya. Sehinga harus kesandung-sandung. Tetapi, tidak mengapa hal itu terjadi, karena memang dalam pembelajaran, ada kalanya harus mendapat nilai NOL, karena sebuah kesalahan fatal, yang mengharuskan pelaku harus belajar laebih giat dan lebih tekun, serta lebih sungguh-sungguh.

Dan, Alhamdulillah. Hingga saat ini saya masih bangga lahir di Indonesia. Saya juga masih bangga dengan para pemimpin dan tokoh bangsa. #ProudofyouAll, Never #Shameonyou.

July 18, 2014

Ramadhan 1435 H: Bulan Juli yang Penuh Peristiwa

Pic. Social Media Picture
Surabaya, CocoNotes - Bulan Ramadhan, merupakan bulan yang dinanti dan dirindu oleh setiap ummat Islam. Di manapun, dan usia berapapun. Sejak bulan Rajab datang, doa dan harap yang dilantunkan adalah menjumpai bulan Ramadhan.

Tahun 2014 ini, Bulan Ramadhan jauh pada 28/29 Juni sampai 28 Juli 2014. Bulan yang penuh dengan peristiwa, menguji kebijakan ummat Islam dalam menghadapi dan menyikapi setiap peristiwa, agar setiap peristiwa tersebut menjadi pelajaran dan hikmah.

Peristiwa heboh yang cukup menyita publik adalah pemilihan presiden atau pilpres 2014. Kampanye dan upaya dukung mendukung Capres-Cawapres menjadi ajang lahirnya isu, cela-mencela, black campaign (kampanye hitam). Ramblings, mumbling, gossips, propaganda, desas-desus, isu negatif, terlontar online maupun offline. media, mulai media penyiaran, percetakan, media sosial pun menjadi ajang kasak-kusuk, saling cela, saling dukung, saling olok, baik dalam bentuk kata-kata maupun gambar, meme, hingga karikatur dan sebagainya.

Selain bersamaan dengan Pilpres 2014, Ramadhan ini pun bersamaan dengan perisiwa besar dunia, yang diselenggarakan oleh FIFA, Event Piala Dunia (World Cup) di Brazil yang penuh eksotika dan romantika kemenangan Jerman dan kekalahan Argentina. Kekalahan Brazil di kandang sendiri pun menjadi berita yang menusuk hati masyarakat Brazil.

Belum selesai keriuhan media mengenai Pilpres, quick count, real count, gegap gempita Piala Dunia di Brazil, dan sebagainya. Peristiwa yang menghebohkan dunia dan memerihkan hati ummat manusia dan khususnya ummat Islam di seluruh dunia pun datang. Terjadi penyerangan Israel terhadap Rakyat Palestina di Gaza. Dan, ramailah doa, tangis, harap, celaan terhadap Israel di sekian jenis media. Gambar derita rakyat Palestina, anak-anak, serta semangat rakyat Palestina pun bermunculan di media. Mengetuk dan membuka mata, mengajarkan seluruh ummat bagaimana harus menyikapi hidup dan kehidupan.

Peristiwa yang cukup memeriahkan dan menggemparkan dunia sekaligus tersebut masih belum berakhir. Menjelang sepuluh hari ketiga bulan Ramadhan, kabar memilukan pun datang lagi. Pesawat Malaysia Airlines MH17 dikabarkan terjatuh di Ukraina akibat tertembak rudal. Pesawat berpenumpang 295 orang tersebut harus hangus dan memberi duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, dan juga hati-hati anak manusia di penjuru dunia. Betapa tidak, pesawat yang merupakan sarana transportasi publik, yang tidak seharusnya menjadi korban, harus dikorbankan oleh tembakan rudal .... entah ada kesengajaan atau tidak ....

Dan, kembali, tangis pilu, pedih dan redam pun mengisi hati ummat manusia di dunia. Ragam peristiwa selama Ramadhan 1345 H pemberi hikmah, tergantung bagaimana menyikapi, menghadapi, dan memetiknya ......

July 13, 2014

Di Balik Perbedaan Hasil Quick Count: Uraian Dari Satu Perspektif

Pic. Bertebaran di BB profile
Surabaya, CocoNotes - Pemilihan presiden a k a pilpres 2014 yang hanya meluncurkan dua pasang kandidat seolah merupakan ajang grand final piala dunia ataupun kontes kecantikan. Seru, menegangkan, dan membuat pemirsa/masyarakat pendukung finalis geregetan.

Terlebih, seusai pencoblosan, beberapa lembaga survei meluncurkan hasil penghitungan cepat (quick count) dengan hasil yang berbeda-beda. Di mana, hasil quick count tersebut langsung disambut dengan gemuruh kemenangan oleh para capres-cawapres yang memperoleh jumlah keterpilihan lebih tinggi. Bahkan sampai-sampai langsung diselenggarakan deklarasi kemenangan sampai ada yang nangis-nangis.

Namun demikian, dengan hanya dua pasang Capres-Cawapres, dan banyaknya lembaga survei yang melakukan quick count, maka hasil quick count yang dihasilkan juga berbeda. Dampaknya, kedua kubu mendeklarasikan kemenangan masing-masing. Dan tuduh menuduh terhadap kredibilitas lembaga survei pun dipersoalkan hingga menjadi debat kusir di wilayah pengguna akhir. Dan, ramailah media dan social media dengan saling memojokkan antar kubu.

Mengapa sampai terjadi perbedaan hasil quick count? Jika ditinjau secara metodologi statistik a k a metode penelitian, perbedaan ini bukan disebabkan oleh adanya keberpihakan semata, tetapi oleh teknik sampling yang digunakan.

Dalam ilmu statistik, teknik pengambilan sampel meliputi dua jenis, yaitu probability sampling dan nonprobability sampling. Nonprobability sampling, artinya tidak semua sampel memiliki peluang untuk menjadi sampel. Hanya sampel yang memiliki kriteria tertentu yang dapat dijadikan sebagai sampel.

Sementara itu, probability sampling, artinya semua sampel memiliki peluang untuk dijadikan sebagai sampel. Dalam tipe probability sampling, ada yang teknik pengambilan sampel secara simple random sampling (acak sederhana), ada juga yang diacak dengan jumlah proporsional.

Teknik sampling inilah yang akhirnya membedakan hasil quick count pemilihan presiden 2014 pada masing-masing lembaga survei. Terutama ketika lembaga survei memilih sistem acak sederhana, yang dapat berdampak pada menggerombolnya sampel hanya pada wilayah tertentu. Sementara, bagi yang memilih sistem acak proporsional, hasilnya tentu akan juga berbeda lagi, karena unit sampel yang dipilih juga berbeda.

Yang paling menohok, adalah ketika lembaga survei menggunakan sistem nonprobability sampling. Di sini, hanya sampel dengan kriteria tertentu yang akan dipilih. Nah, perbedaan kriteria yang mencolok pastinya akan sangat mempengaruhi hasil survei yang berbeda.

Penentuan jumlah sampel itu sendiri dilakukan dengan menggunakan perhitungan atau formulasi tertentu, Slovin atau Yamane misalnya, atau proporsi populasi, sehingga jumlah sampel yang diambil benar-benar mewakili populasi (representatif). Dalam penelitian ilmiah saja, marjin yang ditolelir secara umum lima persen (5%), dan sangat jarang yang menolelir marjin 10%.

Dalam quick count itu sendiri, sebagai sebuah bentuk hitungan cepat, maka yang dilakukan oleh lembaga survei tersebut juga berdasarkan laporan cepat dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang diterima oleh masing-masing lembaga survei, sehingga hasilnya pun menjadi berbeda. Apalagi, sungguh luasnya jangkauan nusantara, dengan kadar kecepatan internet (jaringan online) yang dikategorikan lemot, serta dukungan perangkat lunak (software) yang belum mumpuni baik dari sisi perangkatnya maupun sumberdaya manusianya. Dengan demikian, TPS, sebagai unit sampel, yang masuk dalam olahan lembaga survei juga berbeda, sehingga hasil hitungannya juga akan berbeda.

So, be smart guys. Jangan terburu-buru saling menuduh adanya kecurangan oleh pihak-pihak tertentu. Be positive thinking a k a khusnudhon pada sesama saudara. Bagaimanapun Capres-Cawapres yang menjadi kandidat saat ini adalah manusia pilihan. Bukankah tidak semua orang memiliki kesempatan untuk maju di tingkatan wilayah tersebut?

Dan, akhirnya, menjadi masyarakat cerdas, rasional, dan berkarakter adalah pilihan untuk tetap tenang dalam berkehidupan masyarakat. Terlebih dalam menghadapi media massa kini yang tidak bebas dari konstruksi realitas pesanan ....

July 12, 2014

Ketika KPI Tidak Bernyali, Tuntut Masyarakat Untuk Rasional

Surabaya, CocoNotes - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) benar-benar telah membuat geram pemirsa televisi di Indonesia. Betapa tidak, KPI seolah melakukan pembiaran terhadap stasiun televisi swasta besar di Indonesia yang menyiarkan berita pilpres yang bikin bingung pemirsa.

Penyiaran berita yang mengabaikan netralitas secara tajam mengombang-ambingkan opini pemirsa. Masing-masing stasiun televisi membuat realitas berita berdasarkan kepentingan pihak-pihak tertentu untuk membentuk opini pesanan. Pembentukan realitas pemberitaan yang sungguh berdampak tajam terhadap dampak opini, ketika opini yang terlanjur terbentuk ternyata tidak dapat terealisasi.

Tuduh menuduh tindak kecurangan pun mulai disampaikan di media, mempengaruhi pemirsa yang irrasional dan hanya sekedar menerima pemberitaan yang disampaikan. Tanpa merasionalisasi berita yang disampaikan oleh media-media tersebut. Penerimaan masyarakat yang tidak mampu dan tidak mau merasionalisasi berita tersebut pastinya berdampak pada kegeraman masyarakat itu sendiri atas berita-berita terkait kecurangan tersebut.

Oleh karena itu, ketika KPI melakukan pembiaran atas ketidakobyektivan media, masyarakat yang harus rasional dalam menerima berita. Dan tidak turut hanyut dengan arah realitas yang dikonstruksi oleh media.
Pastinya, media yang melakukan hal serupa bukan hanya media televisi, tetapi juga media cetak dan media online lainnya.

Dan, benar, lagu lawas yang dinyanyikan oleh kelompok Nasyida Ria zaman dulu, bahwa: Wartawan adalah ratu dunia. Bila wartawan memuji, dunia ikut memuji. Bila wartawan membenci, dunia ikut membenci ....

Benar pula dalam tuntunan Dinul Islam, sebaiknya bertabayyun sebelum menerima sebuah berita ....

So, jadilah pemirsa cerdas, rasional, agar tidak termakan konstruksi realitas media begitu saja ....

July 11, 2014

Sebenarnya Saya Ingin Nyoblos, Tapi ....

Celup Tinta Bukti Memilih
Surabaya, CocoNotes - Meskipun pemilihan presiden telah berlalu, namun gema pemilihan presiden di Indonesia 9 Juli 2014 masih bergaung. Terlebih dengan adanya deklarasi kemenangan dini yang disampaikan oleh kedua kubu, yang sama-sama mengklaim sebagai pemenang.

Berlalunya masa pilpres 2014 tersebut juga diiringi dengan berlalunya harapan pemilih yang tidak bisa mendapatkan haknya untuk menunaikan kewajiban memilih. Di antara pemilih yang 'kehilangan' hak bersuara tersebut adalah para pekerja di rantauan.

Meskipun sudah ada kebijakan bagi pemilih perantauan untuk menggunakan hak pilihnya, namun beberapa pemilih perantau menyatakan sulit untuk mendapatkan formulir C5, sehingga melepaskan hak pilihnya. Seperti yang dinyatakan oleh Yg (Mahasiswa sebuah PTS di Surabaya asal Jawa Barat, Karyawan Swasta) yang sudah berusaha untuk mengurus hak pilihnya, tetapi pada akhirnya menyerah karena ada beberapa hal yang harus dipenuhi untuk mendapatkan formulir C5. Hingga akhirnya hanya bisa berkata, "Sebenarnya saya sih pingin nyoblos, tapi, saya tidak berhasil ngurus formulir C5. Harus menuhi inilah, itulah. Ya sudah. Akhirnya tidak jadi nyoblos."

Namun demikian, bagi perantau yang masih merasa bahwa tempat asalnya terjangkau, maka beberapa di antara mereka menyempatkan diri untuk pulang kampung untuk memenuhi hak pilih mereka. 

May 28, 2014

Kerah-kerahan Massa Tim Sukses Calon Presiden aka Bolo-Bolo

pic. by Admin (Surabaya, 2014, Balai Pemuda, dalam Workshop SMK N 12 Surabaya)
Surabaya, CocoNotes - Media tengah ramai memberitakan pola perilaku tim sukses calon presiden (capres) sebagai upaya untuk memenangkan capres yang diusung para partai. Dalam upaya pemenangan capres tersebut, ada satu upaya yang sama yang dilakukan oleh masing-masing tim yaitu mengerahkan massanya masing-masing.

Itulah mengapa, beberapa media seringkali memuat judul 'Tim A siap kerahkan massa untuk Capres A'; 'Artis B kerahkan massa untuk menangkan Capres B', dan sebagainya. Sehingga saat membaca judul berita di twitter atau facebook media-media tersebut, kesannya menjadi lucu, karena masing-masing kelompok pendukung kerah-kerahan massa, banyak-banyakan massa. Istilah jawanya banyak-banyakan 'bolo'.

So, capres yang bakal menang dalam Pemilihan Presiden aka pilpres 2014 ini pastinya adalah capres yang merupakan produk dari pembentukan realitas media. Istilah primbonnya, capres yang mendapat pulung media. Karena, pembentukan realitas media lah yang mampu mengarahkan citra positif sang Capres dan Cawapresnya.

Andai ada calon presiden yang tidak memedulikan pencitraannya di media, dan calon presiden itu menang. Mungkin itulah pilihan obyektif rakyat, yang tidak dibumbui oleh embel-embel pencitraan. Istilahnya, sang presiden terpilih merupakan presiden yang dipilih karena mendapat pulung dari yang kuasa, dan bukan semata karena pulung media ....

CocoGress