Beli Roti atau Beli Apartemen Bos? Rame Banget

Surabaya, CocoNotes - Padatnya pengunjung event pemilihan unit Westown View yang diselenggarakan di Grand City Ballroom Level 4 dan Diamond...

Rental Surabaya
Showing posts with label Kesejahteraan karyawan. Show all posts
Showing posts with label Kesejahteraan karyawan. Show all posts

December 10, 2013

Peningkatan Kinerja Bisnis melalui Analisis pada Empat Titik Kritis

Surabaya, CocoNotes - Karyawan menuntut kenaikan gaji merupakan masalah biasa yang dihadapi pengusaha (wirausaha), karena pilihan menjadi karyawan telah dipilih mereka untuk mendapatkan upah atau gaji yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan diri dan keluarga mereka. Ketika upah yang diberikan oleh pengusaha tidak bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup layak, sehingga tidak mampu meningkatkan kesejahteraan karyawan, maka mereka memiliki hak untuk menuntut kenaikan upah sesuai dengan standar yang berlaku. 

Hal ini tentu berbeda dengan pengusaha, yang merekrut karyawan agar bisa bersama-sama menaikkan produktivitas kerja bisnis, sehingga hasilnya bisa dinikmati bersama-sama secara proporsional. Maksud dari proporsional di sini adalah seimbang berdasarkan kontribusi fisik maupun psikologis, karena ternyata tidak semua orang (bisa bertahan) menjadi wirausaha (enterpreneur). 

Ketika karyawan tersebut menuntut kenaikan gaji atau upah dengan cara sendiri-sendiri, maka biasanya tuntutan tersebut tidak segera bisa terealisasikan, karena pengusaha akan mempertimbangkan banyak sekali hal-hal yang berhubungan dengan kenaikan upah tersebut, seperti upah atau gaji karyawan lain yang lebih senior atau karyawan lain yang memiliki tingkat kinerja yang lebih baik. Selain itu, juga mempertimbangkan dampak terhadap besaran biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Karena itu, buruh pun melakukan aksi mogok berjamaah dengan asumsi mogok berjamaah lebih mudah terlihat dan lebih cepat mendapatkan tanggapan.Terlebih jika mogoknya langsung diarahkan ke pihak pemerintah, maka pemerintah akan segera membubuhkan tanda tangan persetujuan kenaikan upah agar aksi mogok yang dilakukan oleh para buruh segera bisa dihentikan. 

Jika tanda tangan sudah dibubuhkan dan penetapan kenaikan upah sudah diluncurkan, maka mau tidak mau pengusaha harus mematuhi kebijakan pemerintah tersebut. Pengusaha akan mulai menghitung dan mengestimasi besaran pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk pos gaji dan upah karyawan. Karena semua karyawan di setiap level pasti juga akan mengalami kenaikan kompensasi, jika di kalangan buruh juga mengalami kenaikan. Hal yang mustahil ketika pengusaha menaikkan upah atau gaji pekerja di bagian tertentu saja. Apalagi jika di perusahaan tersebut terdapat karyawan senior atau karyawan dengan keterampilan tertentu. 

Setelah menghitung-hitung jumlah biaya kompensasi karyawan yang dikeluarkan, maka pengusaha akan mulai mempertimbangkan keseimbangan antara volume produksi, biaya produksi, biaya tenaga kerja, biaya pemasaran, dan biaya-biaya lain yang bisa jadi akan turut naik. Sehingga bisa jadi pengusaha tidak bisa menghindari adanya pengurangan laba dari yang diharapkan, atau bahkan merugi. Karena ketika upah buruh naik, maka pemasok (supplier) bahan baku juga secara otomatis akan menaikkan harga bahan baku, karena para pemasok pun pastinya menggunakan tenaga pekerja. 

Karena itu, ketika kompensasi karyawan harus dinaikkan maka program penyeimbangan (balancing) harus dilakukan. Seorang wirausaha bisa membuat neraca keseimbangan dalam aktivitas operasional perusahaan di empat titik kritis, yaitu titik input, proses, output, dan outcome, karena jika tidak, maka tidak mustahil perusahaan akan mengalami krisis dan bahkan harus gulung tikar. Di mana pada setiap titik-titik tersebut, pengusaha tidak hanya fokus pada besaran biaya yang dikeluarkan, tetapi juga pada aktivitas dan kualitas aktivitas di dalamnya. Jadi beberapa hal yang harus dilakukan adalah: 

1. Analisis Input (Masukan) 
    Yang termasuk dalam titik input adalah: 
  • Tenaga kerja beserta klasifikasinya, meliputi klasifikasi senioritas, keterampilan, kelebihan, kekurangan, kinerja dan prestasi, serta besaran kompensasi yang dikeluarkan untuk setiap klasifikasi tenaga kerja tersebut. 
  • Bahan baku, meliputi pemasok, kualitas, kelebihan, kekurangan, dan kemudahan perolehan bahan baku tersebut. 
  • Mesin dan peralatan yang digunakan. Masih bisakah dilakukan efisiensi penggunaan tenaga kerja dengan menggunakan mesin atau peralatan tersebut. 
  • Waktu kerja. Klasifikasi penggunaan jam kerja, apakah masih bisa ditambah jumlah jam kerja atau apakah bisa dilakukan pemampatan jam kerja. 

2. Analisis Proses 
Yang termasuk titik proses adalah setiap aktivitas operasional mulai dari memasukkan bahan baku sampai menjadi bahan jadi yang siap untuk dipasarkan. Misalnya, identifikasi bahan baku, pengelompokan bahan baku, pencampuran bahan baku dan bahan penolong, pengolahan bahan baku dan bahan penolong, pengemasan barang jadi, dan transfer barang jadi ke gudang. Setiap titik penggunaan sumberdaya masukan dalam proses bisa diidentifikasi dengan seksama, sehingga bisa diketahui di bagian mana ditemukan penggunaan sumberdaya yang berlebihan, dan di bagian mana yang masih bisa dimaksimalkan penggunaannya, sehingga masih bisa dilakukan penghematan. 

3. Analisis Output 
Yang termasuk dalam titik output adalah barang jadi yang dihasilkan. Di sini, klasifikasi bisa dilakukan dengan menghitung jumlah barang cacat, pencapaian target produksi, dan analisis kualitas hasil produksi yang lain. Dengan demikian, akan bisa diketahui dan diperbandingkan antara besaran input yang digunakan dengan output yang dihasilkan. Misalnya, jika ditemukan rasio barang jadi cacat yang tinggi dibandingkan dengan barang yang tidak cacat, maka bisa segera dilakukan penelusuran pada aktivitas dalam proses produksi, baik dilihat dari sisi waktu, sumberdaya manusia, maupun sisi pengawasan, dan lain-lain. 

4. Analisis Outcome 
Yang termasuk dalam titik ini adalah dampak yang dihasilkan. Outcome bisa dilihat dari sisi target penjualan, kepuasan pelanggan, loyalitas pelanggan, komplain pelanggan. 
Melalui analisis terhadap outcome maka bisa dilihat di bagian mana pengusaha masih bisa melakukan penghematan biaya dan aktivitas. 
Dengan mengetahui setiap item, aktivitas, dan besaran biaya yang dikeluarkan pada tiap titik tersebut maka pengusaha akan bisa lebih mudah mengambil keputusan, apakah melakukan minimalisasi atau eliminasi, sehingga bisa diperoleh titik keseimbangan antara input dan output, antara biaya yang dikeluarkan dengan laba yang dihasilkan. 

Intinya, seorang enterpreneur yang baik, tidak akan pernah menyerah dengan tantangan. Ketika ada masalah maka akan segera melakukan analisis di titik-titik kritis dalam bisnis. Jika dalam analisis, identifikasi, dan klasifikasi pada setiap titik tersebut ditemukan adanya ketidakseimbangan antara biaya yang dikeluarkan dengan capaian kerja yang dihasilkan, maka perusahaan bisa dengan tepat mengambil keputusan apakah setiap sumberdaya (baik aktivitas, biaya, atau tenaga kerja) masih harus dipertahankan atau dieliminasi. 
Bahkan, pengusaha bisa menyusun kebijakan yang membuat setiap elemen dalam bisnis, termasuk karyawan, turut berfikir apakah sumberdaya tersebut (baik aktivitas, biaya, atau tenaga kerja) masih diperlukan atau tidak keberadaannya di dalam bisnis. Dengan demikian, semua akan bisa diminimalisasi dan bahkan tereliminasi secara teratur tanpa menimbulkan dampak negatif yang signifikan bagi perusahaan.

December 23, 2012

Agar Datangnya Gaji Tidak Seperti Datang Bulan

Sebagai UMANJI, You Manusia Bergaji, karyawan harus bisa menyiasati gaji bulanannya agar tidak hanya lewat begitu saja tiada berjejak. Besar kecil gaji dan tingkat kecukupan gaji untuk biaya hidup sangat tergantung pada kepiawaian karyawan untuk menyiasati gaji yang diterimanya satu kali dalam sebulan. Jangan sampai gaji yang ditunggu-tunggu selama satu bulan, habis dalam hitungan pekan. Hal penting yang perlu diingat oleh seorang karyawan adalah bahwa: 
  1. Upaya demo pekerja untuk menuntut kenaikan gaji dan jenis keadilan lainnya memerlukan energi dan waktu para pekerja. 
  2. Menuntut kenaikan gaji yang dilakukan juga telah memusingkan manajemen, yang jika dilakukan secara massal bahkan akan memusingkan masyarakat yang harus terjebak kemacetan akibat aksinya. 
  3. Gaji yang diterima merupakan hasil jerih payah satu bulan penuh. Keringat bercucur, bangun pagi melepas mimpi dan hangatnya selimut, kejar target, lembur, dimarahi bos, terjebak macet sepanjang perjalanan, kena sindiran rekan kerja, kena hardik pelanggan, memelototi layar monitor sampai tidak berkedip, penegangan urat saraf, tidak terenggangnya otot punggung, dan lain sebagainya. 
Dengan mengingat hal-hal tersebut, maka gaji yang diterima adalah hal berharga yang juga harus diupayakan untuk digunakan dengan sebaik-baiknya. Kenaikan gaji bukan berarti seorang karyawan bisa membelanjakan gajinya dengan jumlah yang lebih besar juga. Meskipun, sudah menjadi satu keniscayaan juga.... yang bisa dikatakan sebagai hukum alam (#tetapi tetap bisa disiasati tentunya), bahwa 'semakin besar uang yang diterima, maka kecenderungan untuk membelanjakannya juga semakin besar'. Nah agar gaji sebulan yang hanya datang sekali tidak seperti datang bulannya para wanita (yang ditunggu-tunggu kehadirannya setiap bulan, dan hanya berlangsung kurang dari satu pekan), maka beberapa tips mengelola gaji harus dilakukan: 
  1. Berniat untuk mencukupkan gaji yang diterima bulan ini bisa memenuhi kebutuhan satu bulan ini juga.
  2. Membuat list biaya-biaya selama satu bulan. Mulai biaya sosial (arisan, retribusi, sumbangan, sedekah), biaya rutin (transportasi, telepon, pulsa, air, listrik), biaya kebutuhan konsumsi (makan, bahan makanan, minum, snack, buah, dll), biaya toilettes dan body care, biaya cicilan jika ada, termasuk biaya asuransi.
  3. Mengelompokkan biaya-biaya tersebut dan membuat persentase dari setiap biaya. Misalnya 30% dari total biaya adalah biaya rutin, 5% dari total biaya adalah biaya sosial, dan lain-lain.
  4. Mengevaluasi biaya-biaya yang ada untuk membuat perencanaan saving dan/atau investasi (agar tabungan yang dimasukkan tidak diambil di akhir bulan, karena kehabisan dana yang telah direncanakan).
  5. Tidak menggunakan gaji bulan ini untuk menutup biaya bulan lalu, karena itu jangan sampai membuat pengeluaran bulan ini dengan merencanakan pengeluaran tersebut akan ditutup dengan gaji bulan depan. 
  6. Jika memungkinkan, menutup kebutuhan bulan depan dengan gaji bulan ini. Maka gaji bulan depan akan aman.....
Bisa jadi awalnya akan terasa berat dilakukan, karena kadang uang yang telah di tangan atau di dompet, dan bahkan yang telah disimpan di bank pun tidak kerasan, sehingga melompat-lompat keluar dan berpindah tempat.

Sebagai sedikit gambaran untuk menguatkan, bisa dibaca kalimat bijak berikut ya....
Orang besar adalah orang yang mampu mengendalikan diri dan melakukan investasi bagi tujuan yang jauh lebih besar daripada kebahagiaan sesaat (Barbara Carolina M.P)
Istilah kerennya Delay of Gratification.

December 1, 2012

Kesejahteraan Karyawan Bukan Beban Perusahaan

Sumber gambar: fromyouflowers.com
Kesejahteraan, dalam bahasa awam, langsung diterjemahkan sebagai gaji atau penghasilan oleh kebanyakan karyawan. Namun, hakikat kesejahteraan karyawan adalah sebagai berikut: 
  1. Kesejahteraan anak buah adalah tanggung jawab pimpinan/atasan langsung. 
  2. Kesejahteraan karyawan bukan beban perusahaan, melainkan target. 
  3. Tujuan perusahaan didirikan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, yaitu pemilik/pemegang saham, direksi, karyawan, negara, dan umat manusia. 
Kesejahteraan karyawan adalah tanggung jawab pimpinan langsung, bukan tanggung jawab tetangganya atau HRD (Human Resource Development). Seringkali bagian HRD menjadi bagian sampah karena segala problem menyangkut masalah karyawan dilempar ke sana. Masalah kenaikan gaji dilempar ke HRD, masalah pemogokan karyawan dimasukkan ke HRD, masalah lembur, masalah disiplin juga dilempar ke HRD. Para manajer itu lupa bahwa setiap manajer di perusahaan juga menjadi manajer HRD bagi anak buahnya masing-masing, sehingga masalah tentang peningkatan kualitas, kesejahteraan, dan kegembiraan anak buah merupakan tanggung jawabnya langsung, bukan tanggung jawab pihak HRD. Alasannya, atasan langsung merupakan pihak yang mengetahui persis prestasi anak buahnya, bukan manajer HRD, bukan direktur, bukan teman sejawat, atau bahkan tetangganya. Atasan langsung juga merupakan pihak yang mengisi lembar penilaian kerja (performance appraisal) mengenai anak buahnya, maka ia wajib mengajukan kenaikan gaji, tunjangan, atau promosi anak buahnya kalau memang dinilai layak dan berprestasi. Bahwa yang memutuskan kemudian adalah atasan yang lebih tinggi adalah urusan lain. Yang penting, seorang pimpinan sudah menjalankan kewajibannya untuk mengajukan promosi dan kenaikan gaji/tunjangan anak buahnya yang dinilai berprestasi. 
Kemudian hal paling penting mengenai kesejahteraan karyawan yang perlu diperhatikan adalah kesejahteraan karyawan bukan beban, melainkan target. Memang, dalam pembukuan, pembayaran gaji karyawan dicatat dalam beban perusahaan. Meski demikian, secara folosofis, kesejahteraan karyawan harus dilihat sebagai target, karena target perusahaan didirikan adalah untuk kesejahteraan manusia, bukan kesejahteraan gedung, mesin, alat-alat, dan fixed asset lainnya. 
Manusia-manusia yang perlu disejahterakan itu pertama-tama adalah pemilik atau pendiri perusahaan, karena mereka merupakan pihak yang bekerja keras di awal, banting tulang dengan mengorbankan apa saja demi berdiri dan berjalannya perusahaan yang dirintisnya. Mereka adalah pembuka jalan dan orang lain yang meneruskannya. Jika perusahaan bangkrut, mereka pula yang menanggung beban kerugian besar. Urutan selanjutnya adalah pemegang saham, direksi, dan karyawan. Akhirnya, negara juga menjadi pihak yang ikut sejahtera, karena negara mendapat pajak dari perusahaan. Yang paling akhir adalah umant manusia keseluruhan. Mereka ikut sejahtera, karena produk dan jasa yang dibuat oleh perusahaan pada dasarnya ditujukan untuk berguna dan bernilai bagi kehidupan manusia. 
Oleh karena itu, ketika perusahaan menjadi besar dan mendapat laba yang besar, maka ketika menetapkan gaji pokok (take home pay) bagi karyawannya, hendaknya tidak hanya menggunakan patokan Upah Minimum Regional (UMR) yang ditetapkan oleh pemerintah. Dengan kata lain, ketika pencapaian laba perusahaan besar, maka pengupahan karyawan tidak seharusnya didasarkan pada UMR saja. 
Cara meningkatkan kesejahteraan karyawan perusahaan bisa dilakukan dengan meningkatkan nilai tambah industri (industry value added) atau kualitas industri. Seiring dengan meningkatnya produktivitas, keuntungan perusahaan juga diharapkan bertambah, sehingga keuntungan tersebut akan dapat digunakan untuk meningkatkan penghasilan karyawan. 

Disadur (by little edit) dari: Menggugah Mentalitas Profesional dan Pengusaha Indonesia By F. X. Oerip S. Poerwopoespito dan T.A. Tatag Utomo. 2011. Gramedia Widyasarana Indonesia, Jakarta. Pp. 134-136.

CocoGress